Kegiatan Mahasiswa Pendidikan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

STEM : Bahan Ajar Untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

NISAUN NASHIROTUD DINIYAH

Pada tanggal 2 April 2019 tepatnya hari selasa pekan lalu prodi Pendidikan Kimia 
mengadakan kuliah umum yang bertempat di ruang teatrikal Fakultas Sains dan Teknologi UIN 
Sunan Kalijaga. Pada kuliah umum tersebut dihadiri oleh mahasiswa Pendidikan Kimia mulai dari 
angkatan 2015 sampai 2018. Sebelum kuliah umum dimulai, dilakukan absen terlebih dahulu dan 
dibagikan kupon doorprize untuk para peserta. Kuliah umum kali ini menghadirkan dua orang 
narasumber dari UNY, yaitu bapak Dr. Pujianto, S.Pd., M.Pd., dan ibu Dr. Antuni Wiyarsi, 
S.Pd.Si., M.Sc., dan yang bertugas sebagai narasumber adalah bapak Muhammad Zamhari. 
Materi pertama akan disampaikan oleh bapak Dr. Pujianto yang menyampaikan materi 
dengan judul Implementasi STEM dalam Penelitian Pendidikan. Beliaumemaparkan STEM adalah 
beberapa disiplin ilmu yang dilebur menjadi satu untuk memecahkan sebuah masalah. STEM 
adalah gabungan dari sains, teknologi, engineering, dan mathematic yang gabungan dari 4 disiplin 
ilmu tersebut diharapkan bisa lebih memahami dengan baik sesuatu (sebuah kehidupan) dan agar 
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebenarnya, STEM sendiri telah diajarkan di 
sekolah-sekolah, namun karena masih terbatasnya beberapa ha, maka siswa belum bisa 
mendapatkan Pendidikan STEM yang memadai. Selama ini STEM hanya berfokus pada sekolah 
sekolah kejuruan dan 29 % guru menyatakan bahwa mereka mengajarkan sains kurang lebih 2 hari perminggu, artinya keterbatasan waktu inilah yang membuat pengajaran STEM di sekolah-sekolah 
menjadi kurang. 
Biasanya sekolah hanya mengajarkan hal yang terlalu mengacu pada teori yang ada, 
sehingga dalam pembelajaran tersebut sikap kreativitas siswa terlalu dibatasi. Siswa tidak diberi 
kesempatan untuk mengekspresikan sikap kreativitas dirinya, melaikan dituntut untuk mengacu 
pada cara pemecahan masalah yang benar sesuai dengan teori, dan sekolah selama kurang lebih 
20 tahun berfokus pada proses penghilangan kreativitas siswa dan hanya berfokus pada tes, nilai, 
ujian masuk perguruan tinggi, dan lain-lain. STEM mengajarkan siswa untuk bisa survive dalam 
menjalani hidup, terlepas dari profesi yang mereka pilih untuk ikuti. STEM juga mengajarkan cara 
berpikir kritis dan cara memecahkan masalah melalui keterampilan yang digunakan sepanjang 
hayat. Dan penekanan-penekanan yang STEM berikan diharapkan pula agar siswa mampu 
memberikan teknologi baru. Memberikan peningkatan terhadap sains dan matematika saja tidak 
tidak cukup untuk menciptakan teknologi baru, maka dibutuhkan peningkatan terhadap 
pengalaman yang terpusat pada desain, inovasi, Teknik, dan teknologi meningkatkan kreativitas, 
daya cipta, kecerdikan, dan kemampuan imajinasi sangat dibutuhkan dalam pemanfaatan STEM. 
Selanjutnya materi dua yang akan disampaikan oleh bu Dr. Antuni Wiyarsi yang 
menyampaikan STEM adalah sebuah kemampuan analitis untuk meneliti sebuah topik, 
mengembangkan sebuah proyek dan waktu, dan menarik kesimpulan dari sebuah reset. Ilmu 
pengetahuan untuk memecahkan system ilmiah yang kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih 
kecil, mengenali penyebab dan dampak hubungan dan membela opini menggunakan fakta. Bu 
Antuni menyebutkan sebuah soft skill adalah kualitas personal, kebiasaan, sikap, dan perilaku
sosial yang membuat individu menjadi seorang pegawai yang baik. Tak ubahnya pak Pujianto, bu 
Antuni juga mengungkapkan soft skill yang harus diterapkan dalam STEM adalah kemampuan 
kerja tim, kemampuan kreatif untuk menemukan pemecahan masalah, dan pengalaman terhadap 
penguasaan teknologi. 
Tujuan siswa mempelajari STEM yaitu agar siswa dapat berkomunikasi secara efektif 
secara tertulis, meniai sendiri dan merefleksikan pembelajaran, berpartisipasi dalam berbagai 
proyek atau kompetisi, dan mengembangkan serangkaian kebiasaan belajar yang akan 
membimbing siswa untuk menjadi pembelajar yang akan membimbing siswa untuk menjadi 
pembelajar seumur hidup yang sukses. Pendidikan STEM lebih menekankan pada sistem pengembangan sikap kreativitas siswanya agar bisa menciptakan sebuah inovasi yang baru. Ibu 
Dr. Antuni menyamoaikan materi tentang Teknik Pembuatan Instrumen Penelitian Berbasis 
STEM. Beliau menyampaikan perubahan dari CTE (Chemistry through Education) menuju ETC 
(Education through Chemistry). 
Sebelum kuliah umum ini berakhir, maka dibukalah sesi tanya jawab yang diperkenankan 
untuk tiga penanya pertama yang tercepat. Setelah sesi tanya jawab tersebut dilakukan, maka 
kegiatan selanjutnya adalah pembagian doorprize baik bagi para penanya maupun bagi para 
peserta lainnya. Dalam pengisian kuliah umum tersebut juga diisi oleh grup akustik dari 
Pendidikan kima angkatan 2018. Acara berjalan dengan lancar dan mahasiswa yang mengikuti 
dengan antusias dan aktif bertanya.

1 suka Masuk untuk menyukai

Komentar (0)

Belum ada komentar.