Hand Sanitizer Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai Karya Generasi Milenial di Era Pandemi

Tanggal : 03 Mar 2021

Ditulis oleh : MUHAMAD ADITYA HIDAYAH

Disukai oleh : 9 Orang

Hand Sanitizer Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai Karya Generasi Milenial di Era Pandemi

 

HM-PS Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga

e-mail : hmpspekim@gmail.com

 

Abstrak          : Tanaman salam merupakan tanaman herbal yang berkhasiat sebagai antibakteri, antidiare, antioksidan, antihipertensi, antikolesterol, dan antidiabetik. Tanaman salam yang paling tinggi kandungan kimianya adalah pada bagian daun salam yang tua. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun salam adalah flavonoid, tanin, minyak atsiri, triterpenoid, alkaloid, saponin, dan steroid. Senyawa flavonoid, tanin, minyak atsiri, saponin dan alkohol memiliki efek antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus. Sedangkan steroid, triterpenoid dan steroid memiliki efek analgesik. Hal tersebut membuat daun salam cocok menjadi alternatif bahan alami pengganti alkohol dalam formulasi gel hand sanitizer. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan daun salam sebagai pengganti etanol dalam pembuatan hand sanitizer dan meningkatkan nilai jual daun salam. Metode analisis yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi Uji Fitokimia, Uji pH, Uji Sterilitas (Swab Test), dan Uji Organoleptik.

Kata Kunci    : antibakteri, fitokimia, hand sanitizer, daun salam, uji sterilitas

 

PENDAHULUAN

Di era normal baru (New Normal) ini mengantisipasi dan mengurangi jumlah penderita Covid-19 dapat dilakukan dengan beberapa upaya. Kepahaman mengenai gejala dan cara penularan virus tersebut sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat. Beberapa upaya dalam mencegah penularan Covid-19, yaitu dengan menerapkan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Upaya tersebut telah digalangkan sejak tanggal 20 Juni 2020 oleh pemerintah dengan harapan kasus Covid-19 berkurang. Mencuci tangan menggunakan air dan sabun merupakan salah satu langkah efektif dalam memutus rantai penyebaran Covid-19, tetapi pada kondisi sedang berpergian atau dalam transportasi tentunya langkah tersebut tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, penggunaan hand sanitizer menjadi alternatif dalam menggantikan langkah cuci tangan pakai sabun ketika sedang dalam transportasi atau berpergian. Semakin meningkatnya kebutuhan akan hand sanitizer menyebabkan kenaikan harga dan kelangkaan produk  tersebut, dikutip dari CNN Indonesia (25/03/2020) Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri menyelidiki kelangkaan dan kenaikan harga masker dan cairan sanitasi tangan (hand sanitizer) di pasaran, di tengah wabah virus corona (Covid-19). Kesimpulan sementara kelangkaan dan kenaikan harga bukan disebabkan oleh penimbunan.

Keberadaan kaum muda atau remaja milenial tidak bisa dilepaskan dari kerangka sistem pembangunan bangsa Indonesia. Pasalnya, milenial Indonesia jumlahnya sangat besar, memiliki perilaku baik dan amat sangat kreatif. Oleh sebab itu diperlukan sebuah solusi untuk mengatasi kurangnya ketersediaan hand sanitizer salah satunya dengan menginovasi sebuah teknologi tepat guna seperti hand sanitizer yang memiliki harga murah namun kualitas terjamin. Maka dari itu dihadirkan lah sebuah inovasi terbaru Hand Sanitizer Ekstrak Daun Salam yang berguna untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan hand sanitizer serta menjadi solusi dalam pemanfaatan daun salamssalam dapat meningkatkan nilai jual dan membantu menciptakan lapangan usaha bagi masyarakat.

Hand sanitizer di pasaran umumnya mengandung bahan aktif senyawa golongan alkohol dengan konsentrasi 50% hingga 70% yang dimana pada kosentrasi tersebut memiliki kemampuan sebagai antiseptik yang ampuh dalam menghambat atau membunuh bakteri. Jadi diperlukan penggunaan alkohol yang banyak, karena alkohol  berperan sebagai bahan baku utama. Tetapi, alkohol dapat melarutkan lapisan lemak dan serbum pada kulit serta dapat menimbulkan iritasi kulit jika pengguna memiliki kesensitifan terhadap alkohol (Wijoyo V, 2016) sehingga bahan alami yang dikenal lebih aman menjadi solusi untuk kembali dikembangkan sebagai bahan baku dalam pembuatan hand sanitizer. Salah satu tanaman yang mempunyai sifat antibakteri adalah tanaman salam (syzygium polyanthum). Tanaman salam merupakan tanaman herbal yang berkhasiat sebagai antibakteri, antidiare, antioksidan, antihipertensi, antikolesterol, dan antidiabetik. Tanaman salam yang paling tinggi kandungan kimianya adalah pada bagian daun salam yang tua. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun salam adalah flavonoid, tanin, minyak atsiri, triterpenoid, alkaloid, saponin, dan steroid. Senyawa flavonoid, tanin, minyak atsiri, saponin dan alkohol memiliki efek antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus. Sedangkan steroid, triterpenoid dan steroid memiliki efek analgesik. Hal tersebut membuat daun salam cocok menjadi alternatif bahan alami pengganti alkohol dalam formulasi gel hand sanitizer, pada produk ini kami menggunakan daun salam sebagai bahan utama sehingga dapat mengurangi penggunaan alkohol dalam produk antiseptik ini.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menghasilkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif meliputi hasil pengujian kandungan fitokimia ekstrak daun salam, sedangkan data kuantitatif yang dihasilkan adalah hasil pengujian pH, pengujian sterilisasi (swab test), dan pengujian organoleptik.

Pembuatan Simplisia Daun Salam

Siapkan 500 gram daun salam, cuci daun salam dengan air mengalir. Potong daun salam menjadi kecil-kecil dan keringkan potongan daun salam dibawah sinar matahari sampai kering. Selanjutnya, haluskan potongan daun salam menggunakan blender

Ekstraksi Daun Salam

Daun salam yang telah dikeringkan dan dihaluskan, kemudian ditimbang sebanyak 200 gram, dimasukkan kedalam gelas kimia dan rendam dengan pelarut etanol 96 % sebanyak 850 mL selama 3 hari, setelah itu saring dengan menggunakan kertas saring dan hasil penyaringan diuapkan dan dipekatkan dengan waterbath

Pembuatan Hand Sanitizer

Timbang Carbomer 940 sebanyak 1 gram, larutkan dalam 50mL alkohol 96%, kemudian ditambahkan metil paraben sebanyak 0,5 gram. Tambahkan tri etanol amin (TEA) sebanyak 0,7 mL, akuades sebanyak 50 mL, ekstrak daun salam 5 mL, dan diaduk hingga tercampur. Setelah itu, tambahkan essence bubble gum sebanyak  1 mL dan aduk kembali hingga tercampur. Lakukan pengecekan pH dengan ketentuan pH  4,8 – 8, kemudian masukan kedalam botol kemasan dan diberi label produk. Beberapa formulasi yang dilakukan sesuai dengan tabel dibawah ini :

No

Bahan

F1

F2

F3

F4

F5

F6

F7

1

Akuades

100 mL

100 mL

100 mL

100 mL

100 mL

50 mL

50 mL

2

Alkohol 96 %

20 mL

20 mL

20 mL

50 mL

50 mL

50 mL

50 mL

3

Carbomer 940

-

-

-

2 g

1,75 g

1 g

1g

4

CMC Na

3 g

2 g

1 g

-

-

-

-

5

Ekstrak daun salam

1 mL

1 mL

1 mL

5 mL

5 mL

5 mL

5 mL

6

Gliserin

5 mL

3 mL

2 mL

2 mL

2 mL

1 mL

-

7

Metil paraben

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

Uji Fitokimia (Flavonoid, Saponin, dan Tanin)

Uji Flavonoid.

Timbang sebanyak 10 mg ekstrak, panaskan selama 5 menit. Saring ekstrak sehingga diperoleh filtratnya. Kemudian tambahkan 1 tetes NaOH 10%. Adanya flavonoid ditunjukkan terbentuknya warna merah pada filtrat setelah ditambahkan NaOH 10%.

Uji Saponin.

Ttimbang sebanyak 10 mg ekstrak, tambahkan 50 ml air panas dan didihkan selama 5 menit, kemudian saring dan 10 mL filtrat dikocok dalam tabung reaksi bertutup selama 10 detik. Diamkan selama 10 menit. Adanya saponin ditunjukan dengan terbentuknya buih atau busa yang stabil.

Uji Tanin

Timbang sebanyak 10 mgekstrak, tambahkan 2 mL akuades,  kemudian dididihkan selama 2 menit. Saring dan filtratnya ditambah 1 tetes FeCl3 1% (b/v). Adanya warna biru atau hijau kehitaman poitif tanin.

Uji pH

Kalibrasi pH meter dengan larutan standar buffer pH 4, 7, dan 10. Bilas dengan air suling dan dikeringkan elektroda dengan tisu, celupkan elektroda kedalam larutan contoh uji sambil diaduk. Catat hasil pembacaan pH pada tampilan pH meter

Uji Sterilitas (Swab Test)

Siapkan 5 mL akuades steril didalam tabung reaksi, masukan batang swab kedalam akuades steril. Kemudian, lakukan swab pada area tangan (sebelum dan sesudah pemakaian produk hand sanitizer dan produk pembanding), lalu masukan batang swab kedalam akuades steril. Pipet 1 mL masukan kedalam petridisk, ditambahkan 15 mL media NA, kemudian dihomogenka dan inkubasi pada suhu 35±1°C selama 48 jam. Lakukan pengamatan, perhitungan, dan catat hasilnya.

Uji Organoleptik

Lakukan pengamatan pada warna, bau dan tekstur pada produk hand sanitizer ekstrak daun salam terhadap 100 panelis, kemudian catat hasil pengamatan yang dilakukan.

PEMBAHASAN

Hand sanitizer dengan bahan dasar daun salam mulanya digunakan karena daun salam kebanyakan kurang dimanfaatkan dan hanya digunakan sebagai bumbu dapur. Produk Syzytizer mulanya dilakukan dengan pembuatan simplisia daun salam dilakukan dengan menggunakan panas matahari selama 4 hari yang bertujuan untuk menguapkan air yang terkandung dalam daun salam sehingga simplisia yang didapat memiliki kadar air dibawah 10 %. Karena jika kadar air pada simplisia lebih dari 10 % dikhawatirkan terdapat bakteri dan jamur yang tumbuh dalam simplisia sehingga menyebabkan terganggunya produk yang akan dibuat.. Daun salam yang telah dikeringkan selanjutnya dihaluskan menggunakan blender. Simplisia yang didapat dari 500 gram daun salam sebanyak 202 gram.

Proses selanjutnya dilakukan pembuatan ekstrak daun salam dengan metode maserasi atau perendaman menggunakan etanol 96 %. Proses maserasi dilakukan selama 5 hari dengan pengadukan berkala serta penyaringan dan penggantian pelarut pada hari ke 3. Penyaringan bertujuan untuk memisahkan residu dan filtrate sedangkan pergantian pelarut dilakukan untuk memaksimalkan proses penarikan dan memaksimalkan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam simplisia. Setelah perendaman dilakukan proses pemekatan menggunakan waterbath pada suhu 45 °C Untuk mendapat ekstrak secara maksimal digunakan alat rotary evaporator dalam proses pemekatan karna jika pemekatan dilakukan menggunakan waterbath maka esktrak yang didapat hanya setengah dari yang harus didapatkan. Karena keterbatasan alat maka pemekatan dilakukan dengan waterbath. Pemekatan ini dilakukan dengan cara menguapkan etanol 96% yang digunakan selama maserasi, karena pelarut yang digunakan telah teruapkan dan hanya menyisakan ekstrak daun salam yang nantinya digunakan untuk uji fitokimia dan sebagai bahan aktif dalam pembuatan hand sanitizer. Dalam 200 gram simplisia didapat 100 mL esktrak daun salam yang berwarna coklat pekat.

Adapun pengujian yang dilakukan adalah pengujian fitokimia berupa uji flavonoid, saponin, dan tanin pada esktrak daun salam.

No

Metabolit Sekunder

Hasil

Keterangan

1

Flavonoid

+

Terbentuknya warna merah

2

Saponin

+

Terbentuk busa atau buih

3

Tanin

+

Terbentukwarna biru tua atau hijau kehitaman

Tabel 1 Hasil uji fitokimia

Hasil uji fitokimia menyatakan positif senyawa flavonoid, saponin, dan tanin dalam ekstrak daun salam. Senyawa metabolit sekunder memiliki mekanisme yang berbeda sebagai antibakteri, flavonoid berperan sebagai antibakteri dengan mekanisme membentuk kompleks protein ektraseluler yang mengganggu integritas membrane sel bakteri. Saponin merupakan zat aktif yang dapat meningkatkan permeabilitas membrane sehingga terjadi hemolisis sel. Apabila saponin berinteraksi dengan sel bakteri atau sel jamur, maka bakteri tersebut akan rusak atau lisis. Tanin yang mempunyai daya antibakteri dengan cara mengkerutkan dinding sel atau membrane sel sehingga permeabilitas bakteri terganggu, yang dapat mengakibatkan sel bakteri tadak mampu melakukan aktivitas hidup sehingga pertumbuhannya terhambat.

Dengan adanya kandungan antibakteri tersebut membuat ekstrak daun salam dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan hand sanitizer. Dalam pembuatan hand sanitizer ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pengerjaannya seperti teknik pengadukan. Teknik pengadukan yang tidak sesuai akan menghasilkan produk hand sanitizer dengan tekstur dan warna yang tidak sesuai dengan keinginan. Penambahan basis gel yang berlebih akan membuat hand sanitizer terlalu kental.

Selain esktrak daun salam, bahan yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer adalah carbomer 940 sebagai basis gel, Tri Etanol Amin sebagai pengatur pH, Alkohol 96% sebagai zat penguap dan pelarut, Metil paraben sebagai pengawet, akuades sebagai penyempurna basis gel dan parfum bubble gum. Selama proses pembuatan hand sanitizer dibuat tujuh formula, tiga diantaranya menggunakan basis gel CMC Na dan empat formula menggunakan basis gel carbomer 940.

No

Bahan

F1

F2

F3

F4

F5

F6

F7

1

Akuades

100 mL

100 mL

100 mL

100 mL

100 mL

50 mL

50 mL

2

Alkohol 96 %

20 mL

20 mL

20 mL

50 mL

50 mL

50 mL

50 mL

3

Carbomer 940

-

-

-

2 g

1,75 g

1 g

1g

4

CMC Na

3 g

2 g

1 g

-

-

-

-

5

Ekstrak daun salam

1 mL

1 mL

1 mL

5 mL

5 mL

5 mL

5 mL

6

Gliserin

5 mL

3 mL

2 mL

2 mL

2 mL

1 mL

-

7

Metil paraben

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

0,5 g

Tabel 2 Formulasi hand sanitizer

Pada formulasi 1, basis gel CMC Na yang digunakan sebanyak 3 gram. Gel yang terbentuk sangat lengket ketika diaplikasikan ditangan dan bentuknya yang telalu kental dikhawatirkan sulit keluar dari botol kemasan. Lalu pada formulasi 2 dikurangi penggunaan CMC Na menjadi 2 gram yang diharapkan dapat mengurangi rasa lengket ditangan dan memiliki kekentalan yang pas. Ternyata pada formulasi 2 gel yang terbentuk tidak jauh berbeda dari formula 1 hanya saja gel yang terbentuk tidak sekental formula 1 dan rasa lengket yang dihasilkan masih terasa seperti formula 1. Kemudian dibuat formula 3 dengan mengurangi penggunaan CMC Na menjadi 1 gram, gel yang terbentuk sesuai dengan yang diinginkan hanya saja rasa lengket ditangan tetap terasa seperti formula 1 dan 2. Pada pembuatan hand sanitizer dengan basis gel CMC Na tidak memerlukan Tri Etanol Amin karena basis gel ini stabil pada pH 5-8, sehingga saat penambahan esktrak daun salam basis gel tidak berubah karena ekstrak daun salam memiliki sifat asam. Tetapi karena rasa lengket yang sulit dihilangkan sehingga dapat disimpulkan bahwa basis gel CMC Na memang tidak diperuntukan dalam pembuatan hand sanitizer.

Pada pembuatan hand sanitizer dengan formulasi yang menggunakan basis gel carbomer 940 diperlukan Tri Etanol Amin sebagai penyeimbang pH. Hal ini dikarenakan carbomer 940 dapat membentuk gel pada suasana yang tidak terlalu asam. Selain itu, ekstrak daun salam yang digunakan bersifat asam sehingga pada formulasi 4 sampai formulasi 7 memerlukan TEA sebagai penyeimbang pHdan basis gel yang terbentuk sesuai dengan keinginan.

Pada formulasi 4, carbomer 940 yang digunakan sebanyak 2 gram dengan penambahan TEA sebanyak 1 mL, gliserin yang digunakan 4 mL dan ekstrak yang digunakan sebanyak 5 mL. Pada formulasi 4 basis gel yang terbentuk sangat kental dan terasa agak lengket setelah diaplikasikan ditangan. Kemudian pada formulasi 5 carbomer 940 dikurangi menjadi 1,75 gram dengan TEA 0,8 mL serta jumlah gliserin dan ekstrak yang sama dengan formulasi 4. Bentuk gel yang terbentuk agak kental dan masih terasa lengket. Selajutnya dibuat formulasi 6 yang diharapkan bentuk gel sesuai dengan keinginan dan rasa lengket hilang. Pada formulasi 6 sebanyak 1 gram carbomer digunakan dengan TEA sebanyak 0,7 mL kemudian jumlah ekstrak sama dengan formulasi sebelumnya dan jumlah gliserin yang digunakan dikurangi menjadi 1 mL. Bentuk gel yang didapat dari formulasi 6 sesuai dengan yang diinginkan dan sesuai dengan produk yang serupa. Tetapi hasil dari formulasi 6 ini masih tetap terasa sedikit lengket ditangan. Setelah diamati formula 4 sampai 6, gel yang terbentuk terasa lengket diduga karena penambahan gliserin. Kemudian dibuat formulasi ke 7 dengan penambahan sesuai dengan formulasi 6, hanya saja di formulasi 7 tidak menggunakan gliserin. Pada formulasi 7 didapatkan bentuk gel yang sesuai dengan keinginan dan saat diaplikasikan ditangan tidak meninggalkan rasa lengket. Dari beberapa formulasi yang dibuat dapat disimpulkan bahwa formulasi 7 merupakan formulasi yang cocok untuk pembuatan hand sanitizer.

Dalam pembuatan hand sanitizer carbomer 940 dapat larut sepenuhnya dalam alkohol. Jika menggunakan pelarut akuades, carbomer 940 tidak larut sepenuhnya sehingga terbentuk gumpalan gel.Penggunaan alkohol selain sebagai pelarut juga sebagai zat penguap, ketika produk digunakan pada telapak tangan akan mudah menguap, karena adanya kandungan alkohol.

Jika sudah didapatkan hand sanitizer dengan kondisi yang sesuai maka dilanjutkan dengan menganalisis produk yang sudah dibuat dengan menggunakan standar mutu SNI 2588-2017 berupa uji pH. pH merupakan parameter yang penting dan harus diperhatikan dalam pembuatan hand sanitizer. Hand sanitizer tidak boleh memiliki pH yang terlalu asam atau terlalu basa. Menurut SNI 2588-2017 pH hand sanitizer adalah 4 sampai dengan 10.

No

Hand sanitizer

pH

Persyaratan

Keterangan

1

Hand Sanitizer Ekstrak Daun Salam

5,17

4 – 10

Sesuai

2

Produk Pembanding

7,19

Sesuai

Tabel 3 Hasil uji pH

Hasil uji menunjukan bahwa hand sanitizer ekstrak daun salam memenuhi persyaratan standar mutu dimana pH yang didapat sebesar 5,17, sedangkan untuk hand sanitizer pembanding merk X memiliki nilai pH 7,19. Carbomer 940 saat dilarutkan dan ditambahkan akuades dalam bentuk asam bebas, sehingga perlu ditambahkan penetral berupa basa yang bermuatan negatif yang mengakibatkan polimer carbomer terurai sempurna dan mengembang membentuk gel. Penetral pH ini berupa Tri Etanol Amin yang ditambahkan pada produk sehingga pH hand sanitizer ekstrak daun salam sesuai dengan standar SNI 2588-2017. Selain itu pH pada hand sanitizer tidak boleh terlalu asam karena akan membuat kulit kering bahkan iritasi dan jika terlalu basa mengakibatkan panas ditangan.

Pengujian produk hand sanitizer ekstrak daun salam tidak hanya uji pH, pengujian dilanjutkan dengan analisis mikrobiologi yaitu uji swab. Uji swab bertujuan untuk mengetahui kemampuan produk hand sanitizer ekstrak daun salam dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan membandingkan jumlah koloni pada tangan sebelum dan sesudah menggunakan produk hand sanitizer ekstrak daun salam. Selain itu, membandingkan jumlah koloni sebelum dan sesudah menggunakan produk pembanding untuk mengetahui keampuhan produk hand sanitizer ekstrak daun salam dalam menghambat pertumbuhan bakteri jika dibandingkan dengan produk lain.

No

Sampel

JumLah Koloni

24 jam

48 jam

Simplo

duplo

simplo

duplo

1

Sebelum menggunakan hand sanitizer ekstrak daun salam

7

20

13

21

2

Sesudah menggunakan hand sanitizer ekstrak daun salam

3

2

4

3

3

Sebelum menggunakan hand sanitizer merk X

6

6

7

9

4

Sesudah menggunakan hand sanitizer merk X

4

4

5

7

5

Kontrol media

0

0

0

0

Tabel 4 Hasil uji swab

Produk hand sanitizer ekstrak daun salam dan produk pembanding digunakan pada seorang panelis pengendara motor yang berbeda. Pada uji swab dilakukan pengamatan 24 jam dan 48 jam. Tetapi jumlah koloni yang diambil untuk dirata-ratakan hanya pada pengamatan  48 jam. Hasil pengamatan sebelum menggunakan hand sanitizer ekstrak daun salam pada 48 jam jumlah koloni sebanyak 13 dan 21 jika dirata-ratakan menjadi 17 koloni, sedangkan jumlah koloni sesudah menggunakan hand sanitizer ekstrak daun salam sebanyak 4 dan 3 koloni jika dirata-ratakan menjadi 3,5 koloni. Pada pengamatan sebelum menggunakan produk pembanding sebanyak 7 dan 9 koloni, dirata-ratakan menjadi 8 koloni. Sedangkan pada pengamatan sesudah menggunakan produk pembanding didapat jumlah koloni sebanyak 5 dan 7 jika dirata-ratakan menjadi 6 koloni. Jika dilihat dari jumlah koloni yang telah dirata-ratakan hasilnya menunjukan penurunan koloni secara signifikan pada tangan yang menggunakan hand sanitizer ekstrak daun salam, dihitung selisih jumlah koloni sebelum dan sesudah penggunaan produk. Sedangkan pada produk pembanding penurunan jumlah koloni tidak terlalu signifikan, dihitung dari selisih sebelum dan sesudah menggunakan produk pembanding. Pada kontrol media NA, tidak terdapat koloni dikarenakan bahan yng digunakan hanya media NA tanpa sampel. Itu membuktikan bahwa media tersebut steril dan tidak akan mempengaruhi hasil analisis. Perbedaan hasil uji swab dapat dipengaruhi oleh kondisi dan keadaan tangan panelis sebelum dilakukannya uji swab dan jika dilihat dari penurunan jumlah koloni, produk hand sanitizer ekstrak daun salam yang dibuat cukup ampuh dalam menghambat pertumbuhan bakteri.

Selain uji yang mengacu pada standar, dilakukan pula uji tambahan berupa Uji organoleptik guna mengetahui minat masyarakat terhadap produk hand sanitizer ekstrak daun salam, uji dilakukan secara visual meliputi warna, bau dan tekstur yang dilakukan pada 50 panelis dari berbagai usia dan kalangan. Berdasarkan perhitungan persentase terhadap warna adalah 6% sangat suka, 60% suka dan kurang suka 34%. Persentase kesukaan terhadap bau sangat suka 44%, suka 44% dan kurang suka 12%. Kemudian pesentase kesukaan terhadap tekstur sebesar 12 % sangat suka, 70% suka dan 18 % menyatakan kurang suka. Dari uji organoleptik yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa produk hand sanitizer ekstrak daun salam memiliki hasil uji yang baik karena memiliki warna, bau dan tekstur yang disukai.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa ekstrak daun salam mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan sebagai antibakteri. Formulasi terbaik pada formulasi 7  karena :

  1. Bentuk gel banyak disukai
  2. Tidak menimbulkan rasa lengket
  3. Memiliki pH 5,17
  4. Dapat menghambat pertumbuhan bakteri
  5. Warna, bau dan tekstur banyak yang menyukai

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Fajri F, 2012. Formulasi dab Uji Efektifitas sediaan Gel Antiseptik Ekstrak Sabut Kelapa (Cocos nucifera Linn.). Makassar: UIN Alauddin Makassar

Ariningsih U, et al. 2015. Produksi Hand Sang “Hands Sanitizer Berbahan Utama Pelepah Pisang” sebagai program percontohan UNKM. Semarang: Universitas Dipenogoro

Currah et al. 2002;  dalam Alam Munggaran.2017. Aklimalisasi Bawang Merah (Allium AS Alonicum L.) Setelah Penyimpanan Pada Suhu Rendah. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Depkes RI. 2014; dalam Romaliana Teresia Marbun. Anna Teresia m, Romauli. 2014. Penetuan Koefesien Fenol Produk Desinfektan yang di Pasarkan Beberpa Supermarket Kota Medan. Medan : Universitas Sumatera.

Dewi, K.A. 2013. Isolasi, Identifikasi dan Uji Sensitivitas Staphyloccoccus aureus terhadap Amoxicillin dari Sampel Susu Kambing Peranakan Ettawa (PE) Penderita Mastitis di Wilayah Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Jurnal Sain Veteriner 31:2. 140-141.

Harbone,1987:71; dalam Faridassadah, Siti Nur,et al. 2016. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Daun Mangkokan. Vol. 2.No. 1. Bandung : FMIPA. Universitas Islam Bandung.

Hardana Utama s. Hari. 2016. Pengaruh Aktivitas Antimikroba Ekstrak Bawang Putih (Allium satium0 terhadap Bakteri Gram Positif (S. aureus) dan Gram Negatif (Escherica coli) Seacara In Vitro. Lampung : Universitas Bandar Lampung.

Hurria. 2014. Formulasi Uji Stabilitas Fisik dan Uji Aktivitas Sediaan Gel Hand Sanitizer dari Air Perasan Jeruk Nipis (Citrus Aurani tifolia SWINGLE) Berbasis Karbomer. UIN Alauddin Makasar.

Khare C.P,2007 ; dalam Ibriani. 2012. Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Bawang Merah (Allium Cepa L.) Secara Klt-Bioautografi. Makassar. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Khotimah, Khusnul. 2016. Skrining Fitokimia dan Identifikasi Mrtabolit Sekunder Senyawa Karpain pada Ekstrak Metanol Daun Carica Pubescens Lenne & Koch dengan LC/MK (Liquid Chromatograph Tandem Mass spektrometry). Malang : UIN Maulana Malik Ibrahim

Manullang, Leli. 2010. Karakterisasi simplisia, Skrining Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Umbi Bawang Merah (Alli Cepaevar. Ascalonium) dengan  Metode Uji Brine Shrimp (BST). Medan : Universitas Sumatera Utara.

Rahayu, et al. 2014; dalam Latifah. 2015. Identifikasi Golongan Senyawa Flavonoid dan Uji Aktivitas Antioksidan pada Ekstrak Rimpang Kencur Kaempferiagalanga

Rini, Eka P. Nugraheni, Estu R. 2018. Uji Daya Hambat  Berbagai Merek Hand Sinitizer Gel Terhadap pertumbuhan Bakteri Escherichia coli & Staphylococcus aereus. Solo : Universitas Sebelas Maret

Sari, Gumala Retno. 2918. Formulasi Uji Aktivitas Antibakteri dari Sediaan gel Hand Sinitizer Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Avrrhon Bili mbi L.) terhadap Bakteri Escherichia coli & Staphylococcus aereus. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Shu, M. 2013. Formulasi Sediaan Gel Hand Sinitezer dengan Bahan Aktif Trikolosan 0,5% dan 1%. Vol. 2. No. 1.  Universitas Surabaya.

Soebagio, 2007;  Uliartha Sari, Margareta, et al. 2015. Sifat Antirayap Ekstrak Kulit Bawang Merah (Allium Cepa L) (Antitermiles Properties Of Onion Shell Extract). Medan : Universitas Sumatera Utara.

Syahrurahman A, et al. 2010. Buku Ajar Mikrobiologi kedokteran. Jakarta : Edisi Binarupa Aksara Publisher.

Waluyo, L. (2010). Teknik Metode Dasar dalam Mikrobiologi. Cetakan Kedua. Malang: UMM Press. Halaman 48, 194.

Wijoyo, V. 2016. Optimasi Formulasi Sediaan Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri Jeruk Bergamot dengan Gelling Agen Carpobol dan Humektan Propilen Glikol. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

Zulius, A. 2017. Rancang bangung Monitoring pH Air menggunakan  Soil Moisture Sensor di SMK NI Tebang Tinggi Kabupaten Empat Lawang. Kupang.

Otari Tami, et al. 2014. Identifikasi Uji Fitokimia Ekstrak Alami Tanaman Antiurolithiasis. Pekanbaru : Universitas Riau.




POST TERKAIT

POST TEBARU