Kegiatan Mahasiswa Pendidikan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
DATA KORAN

Pendidikan Karakter Penentu Masa Depan Bangsa

NURUL 'AINI

Pendidikan Karakter Penentu Masa  Depan Bangsa

Nurul Aini

Mahasiswa Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

“Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas, tapi kekurangan orang jujur_”

 (Dr. Kasino Hadiwibowo)

Kutipan kalimat di atas mengisyaratkan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas secara intelektual, namun kualitas moral perlu ditanyakan. Dalam puisi yang berjudul “Sajak Anak Muda” yang ditulis oleh W.S. Rendra juga mengutarakan bahwa pendidikan di Indonesia  dinilai kurang  berhasil dalam membentuk karakter generasi bangsa. Pendidikan di Indonesia pada umumnya lebih mementingkan pendidikan formal dan mengesampingkan pendidikan moral.

 Sistem pendidikan dirasa mengacu pada sistem pendidikan bangsa barat, yang mana sistem pendidikannya menyiapkan para pemuda untuk cakap dalam bidang teknologi dan industri. Keahlian dalam bidang teknologi dan industri memang diperlukan dalam memajukan bangsa Indonesia. Namun, apa jadinya jika perkembangan teknologi industri tanpa dibarengi dengan kualitas moral yang baik pula? Tentu akan terjadi ketimpangan.

Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang berbudi luhur, cerdas,  mandiri, kreatif, dan dapat menyesuaikan dengan kehidupan yang akan datang. Untuk itu diperlukan pembentukan karakter generasi muda sejak dini. Dalam kenyataannya, pendidikan karakter memang sudah ditanamkan sejak dini atau saat seseorang mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Meskipun sudah diberi pendidikan moral sejak dini, banyak yang melupakan nilai-nilai moral yang sudah diajarkan. Contohnya saja banyak pelaku tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh orang-orang terpelajar yang berpendidikan tinggi.

Kenapa kasus korupsi dapat terjadi? Ada beberapa faktor penyebab, dua di antaranya karena sifat rakus manusia serta lemahnya penanaman moral dalam diri seseorang. Seorang yang moralnya tidak kuat akan lebih mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahan, atau pihak yang lain yang memberi kesempatan untuk itu.

 Jika melihat kenyataan ini, krisis moral menjadi persoalan yang cukup yang serius. Berkembangnya zaman yang diikuti oleh perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, telah membawa berbagai dampak di berbagai aspek kehidupan. Dampak yang timbul dapat berupa dampak positif maupun negatif. Dampak yang ditimbulkan juga kembali kepada setiap individu yang berinteraksi dengan segala kemajuan dalam kehidupan saat ini.

Kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat dan adanya arus globalisasi membuat semakin sulit memfilter segala hal yang beredar di dunia maya. Untuk menghindari hal yang kurang baik, setiap individu harus pandai dalam memilah serta memilih mana yang baik dan yang buruk. Ketika moral seseorang kurang kuat, maka akan mudah hanyut dalam arus teknologi dan kurang memperhatikan etika.

Dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi di era globalisasi saat ini, pendidikan karakter menjadi modal utama guna menyiapkan generasi muda sebagai penerus kehidupan bangsa. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai yang mewujudkan karakter bangsa yaitu Pancasila. Pendidikan karakter dapat seharusnya dibentuk sejak masih kanak-kanak.

Sistem pendidikan karakter tak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga di masyarakat, serta yang paling penting di keluarga. Keberhasilan pendidikan moral di lingkungan keluarga bergantung pada bagaimana peran orang tua dalam mendidik serta menjadi contoh bagi anak-anak. Pendidikan moral  yang harus ditanamkan dalam lingkungan keluarga, seperti nilai kejujuran, kerukunan, kesopanan, dan juga kedisiplinan.

Dalam menyukseskan pendidikan karakter di lingkungan keluarga, orang tua perlu melakukan langkah nyata dalam membimbing anak-anak.  Langkah yang dapat orang tua lakukan seperti, memberikan masukan pengetahuan serta mengajarkan bagaimana mengamalkan pengetahuan itu dalam kegiatan sehari-hari. Kegiatan ini dapat mengasah kecerdasan anak, sehingga anak tidak hanya memahami dan hafal teori, tapi juga mampu mengamalkan apa yang dipahami.  Selanjutnya, orang tua perlu melakukan tindakan-tindakan positif agar dapat mencontohkan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.  

Orang tua juga perlu memberikan waktu bermain yang cukup, karena dapat mengasah kreativitas anak, dan jangan mengekang anak-anak agar melakukan apa yang kita inginkan. mengekang tidak akan membuat anak patuh, malah justru akan membuat mental anak menjadi tertekan  dan akhirnya malah memberontak.  Dalam memberikan nasihat, sebaiknya orang tua menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak tanpa ada kata-kata kasar. Pemberian apresiasi juga penting untuk menghargai setiap hal baik yang anak lakukan, sebaliknya ketika anak melakukan kesalahan, hukuman juga perlu diberikan agar anak menyadari risiko dari perbuatan tersebut. Namun, pemberian hukuman tersebut juga harus bersifat mendidik dan tidak memberikan tekanan pada anak.  

Adapun dalam lingkungan sekolah, pendidikan karakter dapat dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengarahkan pribadi seseorang menjadi lebih teratur dan terarah, seperti disiplin dalam mematuhi peraturan sekolah, jujur dan mandiri dalam mengerjakan tugas, bersifat religius, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, peduli terhadap lingkungan, serta memupuk rasa tanggung jawab agar berani mengambil risiko dari apa yang dikerjakan. Jika keberhasilan pendidikan karakter telah tercapai, maka akan terbentuk generasi bangsa yang cerdas, jujur, dan bermartabat. Sehingga dapat membawa kemajuan bagi  bangsa Indonesia.

Link website koran : https://belitung.tribunnews.com/epaper/

1 suka Masuk untuk menyukai

Komentar (0)

Belum ada komentar.