Stigma dan Potret Pendidikan di Daerah Terpencil

Tanggal : 24 May 2021

Ditulis oleh : LATANSA NAELAL IZZATI

Disukai oleh : 0 Orang

Pendidikan merupakan salah satu indikator majunya suatu negara. Jika pendidikannya maju, maka akan maju pula negara tersebut. Menurut Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) No. 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya. Usaha ini dilakukan oleh orang yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk membangun masa depan peserta didik dengan tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan.

Pendidikan Indonesia diatur dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang.

UUD tersebut mengisyaratkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, baik di kota maupun di desa. Berkembangnya teknologi membuat dunia pendidikan selalu berinovasi menemukan temuan baru dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia. Namun, tidak semua elemen masyarakat dapat merasakan kemajuan dari teknologi dan informasi, seperti halnya masyarakat desa. Hal ini disebabkan oleh minimnya infrastruktur yang memadai, jaringan internet yang tidak stabil, dan lain sebagainya.

Masalah infrastruktur pendidikan di daerah terpencil sudah menjadi masalah krusial yang terjadi di dalam dunia pendidikan. Banyak gedung sekolah yang sudah rusak dan tidak layak pakai, terutama di daerah-daerah terpencil. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya ketersediaan buku penunjang pembelajaran, serta perpustakaan sekolah dengan kondisi yang tidak nyaman untuk digunakan.

Kondisi jaringan internet di daerah terpencil juga menjadi penghambat masyarakat dalam mengakses internet. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), masih ada sekitar 117 juta masyarakat Indonesia belum tersentuh internet. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau, selain itu luasnya laut dan banyaknya pegunungan juga menjadi penghambat pengadaan jaringan internet.

Hal-hal tersebut merupakan persoalan serius yang sedang dihadapi pemerintah, mengingat di era pandemi sekarang ini semua aktivitas dikerjakan dari rumah termasuk aktivitas belajar mengajar. Tidak heran jika banyak masyarakat yang mengeluhkan persoalan ini. Meskipun pemerintah sudah memberikan subsidi kuota gratis untuk belajar, namun hal tersebut akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan usaha pemerataan jaringan internet di daerah terpencil.

Dalam rangka menangani masalah pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, pemerintah menetapkan wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal) berdasarkan persetujuan kementerian/lembaga terkait dengan pemerintah daerah. Adapun yang dimaksud dengan wilayah 3T adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional.

Selain sarana dan prasarana yang belum memadai, pendidikan di daerah terpencil juga menghadapi permasalahan kekurangan tenaga pendidik atau guru. Terkait dengan masalah ini, sebenarnya pemerintah telah melakukan penempatan guru-guru PNS baru ke daerah-daerah terpencil, namun dikarenakan terbatasnya akses ke daerah tersebut dan minimnya fasilitas pendidikan yang disediakan membuat para guru merasa kurang nyaman mengajar di daerah tersebut dan memutuskan untuk pindah ke daerah lain.

Masalah-masalah yang sudah dipaparkan menjadi tantangan tersendiri bagi para pelajar di daerah terpencil. Tidak heran jika sebagian besar dari masyarakat di daerah tersebut memiliki kesadaran yang rendah dalam hal pendidikan. Hal ini semakin memperparah jumlah masyarakat yang mengenyam pendidikan terutama di jenjang perguruan tinggi karena banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi.

Stigma tentang pendidikan di perguruan tinggi sudah mengakar di masyarakat desa. Mereka menganggap bahwa lulusan sarjana tidak ada bedanya dengan lulusan SMA jika pada akhirnya sama-sama mencari pekerjaan, bahkan lulusan sarjana hanya akan membuang waktu dan uang. Pemikiran tersebut sudah tidak asing lagi bagi masyarakat yang tinggal di desa ataupun daerah terpencil, meskipun tidak semua masyarakat memiliki pemikiran yang sama.

Berbicara tentang stigma masyarakat tentang pendidikan, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan selain generasi milenial di daerah itu sendiri yang mencoba merubah mindset masyarakat sedikit demi sedikit. Peran generasi milenial sangatlah dibutuhkan dalam usaha ini, mengingat masyarakat tidak akan percaya sepenuhnya terhadap kemampuan mahasiswa ataupun generasi milenial untuk memberdayakan lingkungannya tanpa aksi nyata.

Salah satu aksi nyata yang dapat dibuktikan mahasiswa yaitu dengan menunjukkan softskill yang mereka asah ketika berkuliah, seperti leadership, kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah, kemampuan berorganisasi, dan lain sebagainya. Kemampuan-kemampuan tersebut sangatlah dibutuhkan di masyarakat dalam memberdayakan lingkungannya sendiri.

Selain untuk memberdayakan lingkungan, kemampuan tersebut berguna sebagai bukti bahwa menempuh pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga sebagai cara untuk menaikan kualitas hidup mereka dengan membentuk generasi-generasi unggul dan berkualitas.

Sebagai tajuk penutup, sudah seharusnya pemerintah dan masyarakat saling bersinergi satu sama lain dalam rangka mewujudkan tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pemerintah diharap terus melakukan usaha pemerataan sarana dan prasarana pendidikan dan masyarakat untuk selalu membuka mata dan pikiran terhadap perkembangan pendidikan agar tercipta suatu bangsa yang unggul dalam intelektual.

Koran : Pos Belitung 

URL e paper koran : https://belitung.tribunnews.com/epaper/#lg=1&slide=6




POST TERKAIT

POST TEBARU