Kegiatan Mahasiswa Pendidikan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Blended Learning Solusi Pendidikan di Era Pandemi Berdasarkan Hasil Jajak Pendapat Dari Berbagai Mahasiswa di Indonesia

MUHAMAD ADITYA HIDAYAH

Pendahuluan

Indonesia saat ini sedang dilanda oleh virus corona yang pertama kali berasal dari kota Wuhan, Cina. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir seluruh negara termasuk Indonesia. Penyebarannya hanya memakan waktu beberapa bulan saja. Virus corona (Covid-19) ini menyerang sistem pernapasan, menyebabkan infeksi paru-paru hingga berujung kematian. Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus corona. Di Indonesia telah diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Presiden Joko Widodo telah menghimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk bekerja dan belajar di rumah, hingga beribadah juga dilakukan di rumah selama masa pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan aktivitas-aktivitas di luar rumah menjadi terganggu dengan adanya virus ini.

Terhitung sejak diumumkannya wabah Covid-19 sebagai pandemi, dan diberlakukannya protokol kesehatan di berbagai negara yang berimbas pada pengurangan aktivitas kontak fisik secara langsung, menyebabkan berbagai institusi yang ada harus menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Institusi pendidikan perguruan tinggi adalah salah satu yang harus melakukan penyesuaian dengan mengalihkan kegiatan belajar-mengajar ke sistem daring (dalam jaringan) atau tanpa tatap muka secara langsung. Pembelajaran daring menjadi alternatif yang kian membias di tengah merebaknya pandemi.

Di Indonesia sistem pembelajaran daring telah ditetapkan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 pada tanggal 24 Maret 2020 silam. Pada proses transisi dari sistem pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran daring menuntut mahasiswa, dosen, dan elemen pembelajaran lainnya untuk sesegera mungkin beradaptasi terhadap perubahan. Pembelajaran daring yang biasa digunakan tiap sekolah maupun universitas pada dasarnya merupakan model kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan menggunakan jaringan (internet) jarak jauh, dengan bantuan alat perantara seperti (gawai, laptop, dan smartphone). Agar dapat tergabung ke dalam forum belajar mengajar via daring dibutuhkan bantuan akses internet sebagai penghubung antar perangkat yang digunakan oleh pelajar dan pengajar maupun untuk mengeksplorasi. Terdapat beberapa aplikasi pendukung di antaranya seperti Google Classroom, Zoom Cloud Meetings, dan ada juga yang menggunakan media e-learnning yang disediakan oleh kampus.

Namun, seperti yang kita ketahui proses pembelajaran daring yang dilaksanakan masihlah kurang maksimal, ada hal yang perlu di perhatikan di antaranya ialah adanya gangguan jaringan, minimnya paket data yang dimiliki, keterbatasan keuangan untuk membeli gawai pendukung, dan lain sebagainya.

Menurut Izzudin (2012:5) menyatakan bahwa blended learning pada dasarnya merupakan keunggulan pembelajaran yang di lakukan secara tatap muka (face to face learning) dan secara virtual (e-learning). Pembelajaran online atau e-learning dalam blended learning menjadi perpanjangan alami dari pembelajaran ruang kelas tradisional yang menggunakan model tatap muka (face to face learning). Dengan blended learning, kita bisa belajar dengan interaktif yang mendekati belajar langsung secara tatap muka, juga dapat di lakukan ketika mahasiswa dan dosen berada dalam jarak yang jauh atau di luar lingkup kampus. Pembelajaran ini dapat di lakukan dimana saja dengan mengatur jadwal belajar sesuai waktu yang tersedia.

Berdasarkan pemaparan permasalahan di atas, pembelajaran blended learning dapat menjadi solusi untuk sistem pembelajaran di masa pandemi. Dengan adanya blended learning proses pembelajaran online maupun offline dapat diterapkan. Melalui blended learning ini, akses pendidikan, efisiensi serta kualitas pembelajaran dan pengajaran dapat meningkat. Untuk itu penulis mencoba melakukan anaisis survei untuk mendukung opini dan mengetahui apakah blended learning menjadi pembelajaran yang efektif di era pandemi?

Blended learning

Saat ini program e-learning sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, seiring bertambah canggihnya teknologi akan mempengaruhi metode pembelajaran. Regulasi untuk e-learning saat ini juga sedang digodok oleh pemerintah, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, “Regulasi penyelenggaraan e-learning atau kuliah secara daring dalam waktu dekat akan diterbitkan pemerintah.”

Untuk beralih dari model pembelajaran tatap muka atau bertemu secara langsung, lalu berubah menjadi daring (online) itu sangat membutuhkan effort dan biaya yang tidak sedikit. Namun ini biasa dimulai dengan model blended learning. Apa itu blended learning?

Menurut Semler (2005) “Blended learning combines the best aspects of online learning, structured face-to-face activities, and real world practice. Online learning sistems, classroom training, and on-the-job experience have major drawbacks by themselves. The blended learning approach uses the strengths of each to counter the others’ weaknesses.”

Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih dari pada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.

Dalam pelaksanaan blended learning terutama fasilitas untuk pembelajaran online-nya guru bisa memanfaatkan berbagai layanan. Sistem pembelajaran yang menggunakan Learning Management Sistem (LMS). Menurut Ellis (2009: 1) LMS adalah aplikasi perangkat lunak untuk administrasi, dokumentasi, pelacakan, pelaporan, dan penyampaian kursus pendidikan atau program pelatihan. LMS dapat dikatakan sebuah manajemen pembelajaran yang disiapkan untuk siswa dan guru dalam melakukan pembelajaran melalui perangkat lunak. Adapun perangkat lunak LMS yang bisa digunakan antara lain: Moodle, Canvas, Google Classroom, edmodo, Kelas Digital Rumah belajar, Blog, dan lain-lain.

Berbagai layanan LMS tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru secara gratis maupun berbayar tinggal mempelajari dan memanfaatkannya dalam memfasilitasi pembelajaran online. Pembelajaran online dalam blended learning ini bisa dimaksimalkan oleh guru untuk memungkinkan siswa belajar lebih mandiri, tidak terikat waktu dan tempat bisa kapan pun dan dimana pun sesuai kesanggupan siswa, dan ini bisa jadi, solusi terbatasnya waktu di kelas yang sering jadi keluhan sebagian guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Blended Learning Solusi Pembelajaran di Era Pandemi

Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 kementerian terkait pelaksanaan proses belajar mengajar tahun 2020-2021 tertanggal 15 Juni 2020, telah ditetapkan tahun ajaran baru 2020/2021 untuk pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengahakan dimulai pada Juli 2020. Sesuai SKB tersebut, pembelajaran tatap muka hanya boleh dilakukan pada satuan pendidikan yang beradapada zona hijau. Sedangkan satuan pendidikan yang berada dalam zona kuning, oren, dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka dan tetap melanjutkan kegiatan belajar dari rumah (BDR).

Kombinasi pembelajaran on-off (online dan offline/tatap muka) menjadi solusi pihak sekolah di masa pandemi Covid-19. Pentingnya blended learning itu agar proses belajar mengajar tetap berjalan mendekati ideal. Dan yang terpenting adalah menghindari learning loss di tengah pandemi.

Pembelajaran offline alias tatap muka sudah di uji coba di beberapa sekolah yang ada di Indonesia. Uji coba tersebut memberikan sisi positif dan negatifnya, Selain banyaknya sisi positif ada problem yang muncul dan menjadi bahan evaluasi. Misalnya bagaimana gerahnya siswa dan guru ketika mengenakan face shield, masker, dan sarung tangan. Karena hal ini bahwa tidak dapat dipungkiri pembelajaran tatap muka menja dipenting karena pembelajaran daring alias online yang terus menerus menemui banyak kendala. Misalnya kurangnya peralatan, guru dan siswa masih belum sepenuhnya menguasai teknologi, tingkat kebosanan siswa dan paparan radiasi layar HP atau komputer.

Pembelajaran on-off alias blended learning menjadi solusinya. Pembelajaran dilakukan proporsional dengan jarak jauh. Tapi harus juga disediakan ruang interaksi alias tatap muka. Untuk itu, sistem pembelajaran blended learning harus disusun sedemikian rupa agar tetap mengedepankan kesehatan. Sehingga masalah pendidikan dan juga kesehatan ini bisa berjalan seiringnya waktu.

Blended learning memiliki tujuan, yaitu guna membantu pelajar untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensi dalam belajar, menyediakan peluang yang praktis realistis bagi guru dan pelajar untuk pembelajaran secara mandiri, bermanfaat, dan terus berkembang, peningkatan penjadwalan fleksibilitas bagi pembelajar, dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para siswa dalam pengalaman interaktif. Sedangkan kelas online memberikan para siswa dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat, dan di mana saja selama pembelajaran memiliki akses internet.

“Blended learning : Solusi Pendidikan di Era Pandemi?” Berdasarkan Survei Terhadap 117 Mahasiswa Diberbagai Universitas di Indonesia

Untuk mengetahui dan memperkuat opini mengenai blended learning sebagai solusi pendidikan di era pandemi, penulis telah melakukan survei terhadap 117 mahasiswa diberbagai universitas di Indonesia yang terdiri dari mahasiswa Untirta (25 orang), mahasiswa UMT (1 orang), mahasiswa UPI (5 orang), mahasiswa UNS (4 orang), mahasiswa Unila (3 orang), mahasiswa IPB (1 orang), mahasiswa UGM (1 orang), mahasiswa GUNADARMA Depok (15 orang), mahasiswa UMJ (9 Orang), mahasiswa UNDIP (2 orang), mahasiswa UIN Jakarta (7 orang), mahasiswa ITERA (1 orang), mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (4 orang), mahasiswa UMY (2 orang), mahasiswa Universitas Pakuan (4 orang), mahasiswa Poltekkes Banten (5 orang), mahasiswa Universitas Sahid (4 orang), mahasiswa Universitas Nusa Bangsa (2 orang), mahasiswa UNPAM (8 orang), mahasiswa ITL Trisakti (1 orang), mahasiswa Universitas Budi Luhur (1 orang), mahasiswa Universitas Pancasila (1 orang), mahasiswa STIKES RSPAD (1 orang), mahasiswa UNP (1 orang), mahasiswa Universitas MUHAMMADIYAH Dr. HAMKA (1 orang), mahasiswa STIKES WDH (1 orang), mahasiswa Universitas Esa Unggul (4 orang), dan mahasiswa STMIK GLOBAL (3 orang).

Berdasarkan respon dari 117 mahasiswa tersebut diperoleh beberapa hasil, hasil yang diperoleh berdasarkan survei daring menggambarkan keefektifan metode pembelajaran blended learning, yaitu sebagai berikut :

1. Pemahaman Mengenai Apa Itu Blended learning

Dari hasil survei tersebut, sebanyak 33,3% mahasiswa cukup mengetahui tentang bleanded learning dari media massa. Lalu, sebanyak 32,5% mahasiswa mengetahui melalui media massa dan webinar yang sudah marak. Sisanya 27,4% mengatakan tidak mengetahuinya karena belum pernah mendengar istilah tersebut dan 6,8% sangat mengetahui melalui penerapan yang pernah dilakukannya.

2. Jajak Pendapat Mengenai Pengadaan Blended learning (Perpaduan Proses Pembelajaran Secara Online dan Offline) di Kampus Masing-Masing.

Dari hasil survei tersebut, sebanyak 65,8 % mahasiswa menyatakan setuju ketika blended learning dilakukan di lingkungan kampus karena dapat memudahkan mahasiswa dalam proses pembelajaran yang menuntut praktik. Mereka sebanyak 17,9% kurang setuju jika diberlakukannya 2 sistem pembelajaran dikarenakan beberapa dari mahasiswa dan mahasiswi memiliki tempat tinggal yang jauh dari rumah. 13,7% mahasiswa sangat setuju dikarenakan dapat mengurangi rasa bosan, dapat mengefektifkan waktu pembelajaran di saat  dosen atau beberapa mahasiswa tidak dapat datang ke kampus, dan sisanya dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dikarenakan dapat bertatap muka secara langsung dengan dosen dan dapat terjun langsung ke lapangan untuk melakukan sebuah eksperimen praktikum. Dan sisanya sebanyak 2,6% mahasiswa tidak setuju dikarenakan pandemi ini belum usai sehingga dapat megakibatkan penyebaran virus.

3. Jajak Pendapat Mengenai Pembelajaran Blended learning Tatap Muka Dapat Dilakukan Secara Berapa Kali Agar Efektif Setiap 1 Pekan

Dari hasil survei pertanyaan tersebut, sebanyak 39,3% orang memilih proses pembelajaran blended learning tatap muka dilakukan sebanyak 2-3 kali/pekan agar dapat menyeimbangkan proses pembelajaran via online dan offline. Lalu, sekitar 29,9% mahasiswa memilih 1-2kali/pekan agar dapat mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan. Hal ini bertujuan agar tidak meningkatnya penyebaran virus. Sebanyak 23,1% mahasiswa memilih 3-4kali/pekan karena beberapa dari mahasiswa, banyak yang memiliki mata kuliah yang menuntut untuk praktik. Sementara 7,7% mahasiswa meilih untuk setiap hari. Hal ini dikarenakan pembelajaran via offline jauh lebih efektif.

4. Jajak Pendapat Mengenai Efektivitas Pembelajaran Blended learning

Dari hasil survei tersebut, sebanyak 61, 5 % mahasiswa menyatakan setuju ketika dilakukan blended learning selama pandemi. Hal ini dikarenakan pembelajaran tatap muka dengan pengajar sangatlah penting agar materi yang diberikan bisa lebih jelas. Dan di antara 18,8% mahasiswa menyatakan kurang setuju dikarenakan proses pembelajaran online sagatlah tidak efektif. 14,5% mahasiswa sangat setuju karena dapat memberikan pemahaman yang lebih jika bertatap muka secara langsung dengan pengajar dan jika adanya praktikum. Lalu, sisanya 5,1% tidak setuju dakernakan metode pembelajaran ini memiliki dua sistem yang tentu saja tidak mudah jika diberlangsungkan secara bersamaan. Pada sistem online, jaringan, device, dan lingkungan haruslah mendukung. Di lain sisi, pada sistem offline, mahasiswa harus siap dana serta sarana prasarana untuk memudahkan pembelajaran offline. Jika kedua sistem tidak saling mendukung satu sama lain, maka proses pembelajran sangat tidak efektif.

5. Hambatan Dalam Proses Blended learning Di Era Pandemi

Dari hasil survei tersebut, sebanyak 53,8% orang merasa terhambat saat menjalani blended learning selama pandemi, karena pada saat pembelajaran online, seringkali sinyal, perangkat device, dan lingkungan yang tak mendukung. Selanjutnya sebanyak 35,9% mahasiswa merasa tidak terhambat karena, jarak tempat tinggal untuk ke kampus tidaklah jauh. 6% mahasiswa merasa sangat tidak terhambat karena fasilitas, dana, serta sarana dan prasarana sudah memadai. Dan sisanya 4,3% mahasiswa merasa sangat terhambat. Hal ini disebabkan oleh situasi saat ini yang sedang tidak aman dan tidak kondusif. Kesehatan haruslah menjadi prioritas. Apabila kesehatan kita tak terjaga dengan baik, maka pembelajaran pun akan menjadi sangat terhambat.

Berdasarkan hasil survei tersebut, ternyata blended learning memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari blended learning yang diiperoleh dari survei terhadap 117 mahasiswa dari berbagai univesritas di Indonesia :

 

Kelebihan Blended Learning

Kekurangan Blended Learning

  1. Pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional, yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi.
  2. Pembelajaran lebih efektif dan efisien.
  3. Meningkatkan aksesbiltas. Dengan adanya blended learning maka peserta belajar semakin mudah dalam mengakses materi pembelajaran.
  1. Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung.
  2. Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki mahasiswa, seperti komputer dan akses internet. Padahal dalam blended learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online.
  3. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi.
  4. Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki mahasiswa, seperti computer, dan akses internet.

 

Kekurangan dari blended learning sendiri masih dapat di atasi dengan bantuan dari pemerintah dan beberapa pihak terkait, sehingga pelaksanaan blended learning dapat dilaksanakan. Dengan demikian akan diperoleh pembelajaran yang efektif dan diharapkan blended learning  dapat menjadi solusi pembelajaran di era pandemi.

Penutup

Masa pandemi ini mendorong kita untuk beradaptasi dalam proses pembelajaran dengan sistem yang baru. Baik tenaga pendidik maupun peserta didik juga beradaptasi dengan pembelajaran daring. Namun, pendidikan yang efektif tetap perlu diterapkan. Agar generasi emas Indonesia dengan berbagai potensi unik masing-masing dapat terlahir dan bersama-sama memajukan Indonesia. Semoga wabah Covid-19 ini tidak hanya membawa kepanikan di ruang publik, tetapi ini   menjadi   salah   satu   titik   pacu   bagi   bangsa   Indonesia,   khususnya   pemerintah   dan   kementerian  terkait  untuk  berkonsentrasi  penuh  mengerahkan  seluruh  anggaran  pendidikan  tahun ini untuk menciptakan kurikulum virtual; proses belajar mengajar via teknologi daring, sambil  menyiapkan  sarana  prasarana  pendukung,  ketersediaan  jejaring  internet,  manajerial  demokratis  yang  berdaya  saing,  sampai  pada  keterlibatan  masyarakat  secara  berkelanjutan.

Semua implikasi yang disampaikan adalah orientasi mengenai pelaksaanaan blended learning di era pandemi. Semoga dengan kerja sama dari pihak tenaga pendidik, peserta didik, pemerintah, dan pihak lainnya, metode pendidikan blended learning dapat diterapkan.

Daftar Pustaka

Ericha, W.P. Dampak Covid-19 Terhadap Kegiatan Penbelajaran Online di sebuah Perguruan Tinggi Kristen Indonesia. Jurnal Perspektif Pendidikan. 34 (1) : 1-8.

Eyoni, Maisa. 2020. “lpmpdki Kemdikbud Pembelajaran Blended Learning”. Jakarta.

Fathurrahman, & H. Nuhpaturahman. 2015. Blended Learning. Institut Agama Islam NegeriI Antasari. Banjarmasin.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI SE No. 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Surat Edaran Kemendikbud No. 4 Tahun 2020. Pelaksanaan KebijakanPendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Viru Disease Covid 19. Diakses pada 30 Desember 2020 dari https://pusdiklat.kemdikbud.go.id/surat-edaranmendikbud-no-4-tahun-2020-tentang-pelaksanaan-kebijakan-pendidikan dalam-masa-darurat-penyebaran-corona-virus-disease-covid-1-9/

Syarif, Izzudin. 2012. “Pengaruh Model Blended Learning terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa SMK”. Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 2, Nomor 2, Juni 2012. Hal 12.

3 suka Masuk untuk menyukai

Komentar (0)

Belum ada komentar.