Bakti santri kepada ibu Pertiwi
Tanggal : 15 Nov 2021
Ditulis oleh : NADIA ILDA
Disukai oleh : 0 Orang
Sejarah penetapan Hari Santri bermula pada 2015 di mana Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendeklarasikan Keputusan Presiden No.22 tahun 2015 tentang Penetapan Hari Santri nasional pada 22 Oktober. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan penandatanganan Resolusi Jihad (22 oktober 1945), yang digagas oleh pendiri NU (Nahdlatul Ulama) KH. Hasyim Asy’ari dan puluhan kiai se-Jawa Madura. Seperti yang telah diketahui resolusi Jihad merupakan bentuk dukungan para santri bagi NKRI.
Dan tidak lama setelah maklumat penetapan Hari Santri, pernyataan kontradiktif pun muncul. Di antaranya Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Natsir kurang setuju dengan Keputusan Presiden Joko Widodo yang menetapkan Hari Santri. Menurutnya, tidak perlu ada ekslusifitas antara santri dengan non-santri. Selama ini, santri dengan non-santri itu sudah melebur. PP Muhammadiyah keberatan dengan Hari Santri,” Kata Haedar kepada kompas.com (Senin, 19/10/2015). Dan beliau mengatakan bahwa Hari Santri tersebut dikhawatirkan justru akan membuat sekat-sekat primordialisme baru di tengah masyarakat.
Terlepas dari pro-kontra tersebut tidak dapat dipungkiri peran santri terhadap kemerdekaan negara ini dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Santri itu ibarat tiang rumah sejarah dari NKRI karena kontribusi memperjuangkan dan mempertahankan NKRI. Santri secara nyata turut berkecimpung dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia ketika penjajah atau kolonial melakukan serangan kembali pasca proklamasi kemerdekaan.
Itu artinya, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh presiden Jokowi bukanlah tanpa alasan. Diantaranya tidak terlepas dari peristiwa bersejarah yang dilakukan oleh para santri. Adalah KH Hasyim Asy’ari yang waktu itu menjadi Rais Akbar NU lewat Resolusi Jihad. Resolusi kebangsaan ini juga merupakan jawaban atas pertanyaan Bung Karno kepada Kiai Hasyim Asy’ari lewat utusannya, apa hukumnya membela negara? Bukan Islam. Sekali lagi, negara!
Mendapatkan pertanyaan itu. Kiai Hasyim Asy’ari lalu mengumpulkan seluruh Kiai se-Jawa dan Madura pada 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Ulama) di Jln. Bubutan VI/2 Surabaya untuk merapatkan persoalan tersebut. Akhirnya, atas arahan dari Kiai Hasyim Asy’ari dan rapat yang dipimpin oleh KH.Wahab Hasbullah mengeluarkan keputusan maha penting pada 22 Oktober 1945 yang kemudian mengubah sejarah bangsa ini.
Keputusan yang dibacakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari tersebut di kemudian hari dikenal dengan nama Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama. Adapun salah satu point penting Resolusi Jihad tersebut adalah wajib hukumnya membela negara dari penjajah.
Sejak maklumat tersebut diketahui para santri menyambut seruan jihad melawan penjajah dengan senang hati. Lebih-lebih yang mengeluarkan adalah Kiai Hasyim Asy’ari. Beliau adalah Kiai yang paling memiliki pengaruh di Nusantara khususnya Jawa dan Madura saat itu. Pasca wafatnya Sang Guru, Kiai Kholil Bangkalan, maka, seruan jihad dari K.H. Hasyim Asy’ari disambut tanpa rasa ragu.
Ketika tentara Belanda membawa sekutu mendarat Surabaya dengan niat menguasai Kembali Indonesia, para santri yang tergabung dalam laskar Hisbullah dan Fisabilillah menyambutnya dengan rancung. Lalu, terjadilah pertempuran heroik 10 November yang dikenang oleh sejarah. Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran tersebut. Pasukan santri dengan gagah memukul mundur pasukan Sekutu. Dengan berani, mereka menyambut peluru pasukan sekutu dengan ayunan bambu runcing. Dan sejarah telah mengenang pertempuran hebat tersebut (detik.com)
Semangat Juang Santri
Apabila para penjajah datang menyerbu negeri ini, para santri siap berdiri di garda paling depan untuk membela dan mempertahankan. Semangat juang dan rela mati. Mereka membuat rakyat Indonesia kini bisa merasakan nikmatnya kebebasan dan kemerdekaan yang sesuai dengan keinginan santri dan masyarakat terdahulu yang senantiasa merencanakan hal apa yang harus mereka lakukan dan strategi apa yang harus mereka rancang untuk membebaskan rakyat dari penjajahan.
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa nasionalisme santri untuk NKRI tidak pernah padam. Santri rela berkorban apapun untuk memperjuangkan NKRI adalah harga mati. Pancasila sebagai dasar negara ibarat rumah bersama semua golongan. Maka, semua yang tinggal di dalamnya memiliki kewajiban untuk menjaganya, termasuk para santri.
Kondisi dan karakter hebat itulah, yang kemudian menegaskan bahwa kaum santri dalam perjuanganya telah tulus ikhlas mewakafkan hidupnya secara fisik dan rela berkorban apapun dan semangat juangnya terhadap Indonesia lebih baik. Lebih berada dan lebih bermartabat dimuka bumi.
Dengan hilangnya peran santri secara perlahan diperlukannya kesadaran masyarakat yang tinggi untuk lebih mengenang perjuangan para santri membela NKRI dengan cara mengajak masyarakat untuk sukseskan program Ayo Mondok yang dicanangkan pemerintah.untuk memperkuat kembali eksistensi santri sebagai pahlawan perjuangan NKRI yang mempunyai adab dan etika yang baik.
Pembentukan majelis juga perlu digalakkan agar masyarakat selalu ingat dan mengenang perjuangan para santri yang rela berkorban demi membela dan mempertahankan negara Kesatuan Republik Indonesia yang damai dan makmur dengan cara mengadakan ikatan anggota NU di masing-masing daerah.
Sejarah penetapan Hari Santri bermula pada 2015 di mana Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendeklarasikan Keputusan Presiden No.22 tahun 2015 tentang Penetapan Hari Santri nasional pada 22 Oktober. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan penandatanganan Resolusi Jihad (22 oktober 1945), yang digagas oleh pendiri NU (Nahdlatul Ulama) KH. Hasyim Asy’ari dan puluhan kiai se-Jawa Madura. Seperti yang telah diketahui resolusi Jihad merupakan bentuk dukungan para santri bagi NKRI.
Dan tidak lama setelah maklumat penetapan Hari Santri, pernyataan kontradiktif pun muncul. Di antaranya Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Natsir kurang setuju dengan Keputusan Presiden Joko Widodo yang menetapkan Hari Santri. Menurutnya, tidak perlu ada ekslusifitas antara santri dengan non-santri. Selama ini, santri dengan non-santri itu sudah melebur. PP Muhammadiyah keberatan dengan Hari Santri,” Kata Haedar kepada kompas.com (Senin, 19/10/2015). Dan beliau mengatakan bahwa Hari Santri tersebut dikhawatirkan justru akan membuat sekat-sekat primordialisme baru di tengah masyarakat.
Terlepas dari pro-kontra tersebut tidak dapat dipungkiri peran santri terhadap kemerdekaan negara ini dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Santri itu ibarat tiang rumah sejarah dari NKRI karena kontribusi memperjuangkan dan mempertahankan NKRI. Santri secara nyata turut berkecimpung dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia ketika penjajah atau kolonial melakukan serangan kembali pasca proklamasi kemerdekaan.
Itu artinya, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh presiden Jokowi bukanlah tanpa alasan. Diantaranya tidak terlepas dari peristiwa bersejarah yang dilakukan oleh para santri. Adalah KH Hasyim Asy’ari yang waktu itu menjadi Rais Akbar NU lewat Resolusi Jihad. Resolusi kebangsaan ini juga merupakan jawaban atas pertanyaan Bung Karno kepada Kiai Hasyim Asy’ari lewat utusannya, apa hukumnya membela negara? Bukan Islam. Sekali lagi, negara!
Mendapatkan pertanyaan itu. Kiai Hasyim Asy’ari lalu mengumpulkan seluruh Kiai se-Jawa dan Madura pada 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Ulama) di Jln. Bubutan VI/2 Surabaya untuk merapatkan persoalan tersebut. Akhirnya, atas arahan dari Kiai Hasyim Asy’ari dan rapat yang dipimpin oleh KH.Wahab Hasbullah mengeluarkan keputusan maha penting pada 22 Oktober 1945 yang kemudian mengubah sejarah bangsa ini.
Keputusan yang dibacakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari tersebut di kemudian hari dikenal dengan nama Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama. Adapun salah satu point penting Resolusi Jihad tersebut adalah wajib hukumnya membela negara dari penjajah.
Sejak maklumat tersebut diketahui para santri menyambut seruan jihad melawan penjajah dengan senang hati. Lebih-lebih yang mengeluarkan adalah Kiai Hasyim Asy’ari. Beliau adalah Kiai yang paling memiliki pengaruh di Nusantara khususnya Jawa dan Madura saat itu. Pasca wafatnya Sang Guru, Kiai Kholil Bangkalan, maka, seruan jihad dari K.H. Hasyim Asy’ari disambut tanpa rasa ragu.
Ketika tentara Belanda membawa sekutu mendarat Surabaya dengan niat menguasai Kembali Indonesia, para santri yang tergabung dalam laskar Hisbullah dan Fisabilillah menyambutnya dengan rancung. Lalu, terjadilah pertempuran heroik 10 November yang dikenang oleh sejarah. Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran tersebut. Pasukan santri dengan gagah memukul mundur pasukan Sekutu. Dengan berani, mereka menyambut peluru pasukan sekutu dengan ayunan bambu runcing. Dan sejarah telah mengenang pertempuran hebat tersebut (detik.com)
Semangat Juang Santri
Apabila para penjajah datang menyerbu negeri ini, para santri siap berdiri di garda paling depan untuk membela dan mempertahankan. Semangat juang dan rela mati. Mereka membuat rakyat Indonesia kini bisa merasakan nikmatnya kebebasan dan kemerdekaan yang sesuai dengan keinginan santri dan masyarakat terdahulu yang senantiasa merencanakan hal apa yang harus mereka lakukan dan strategi apa yang harus mereka rancang untuk membebaskan rakyat dari penjajahan.
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa nasionalisme santri untuk NKRI tidak pernah padam. Santri rela berkorban apapun untuk memperjuangkan NKRI adalah harga mati. Pancasila sebagai dasar negara ibarat rumah bersama semua golongan. Maka, semua yang tinggal di dalamnya memiliki kewajiban untuk menjaganya, termasuk para santri.
Kondisi dan karakter hebat itulah, yang kemudian menegaskan bahwa kaum santri dalam perjuanganya telah tulus ikhlas mewakafkan hidupnya secara fisik dan rela berkorban apapun dan semangat juangnya terhadap Indonesia lebih baik. Lebih berada dan lebih bermartabat dimuka bumi.
Dengan hilangnya peran santri secara perlahan diperlukannya kesadaran masyarakat yang tinggi untuk lebih mengenang perjuangan para santri membela NKRI dengan cara mengajak masyarakat untuk sukseskan program Ayo Mondok yang dicanangkan pemerintah.untuk memperkuat kembali eksistensi santri sebagai pahlawan perjuangan NKRI yang mempunyai adab dan etika yang baik.
Pembentukan majelis juga perlu digalakkan agar masyarakat selalu ingat dan mengenang perjuangan para santri yang rela berkorban demi membela dan mempertahankan negara Kesatuan Republik Indonesia yang damai dan makmur dengan cara mengadakan ikatan anggota NU di masing-masing daerah.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial