Peran Sekolah Dalam Menghadapi Krisis Karakter Pada Siswa
Tanggal : 06 Sep 2021
Ditulis oleh : Merika Salma Puspa Kusuma
Disukai oleh : 1 Orang
Telah banyak diberitakan kenakalan-kenakalan remaja yang terjadi hampir diseluruh daerah. Mulai dari adanya bullying, pemerasan, hamil di luar nikah, tawuran antar pelajar, dan kekerasan bahkan sampai terjadi pembunuhan. Perilaku-perilaku menyimpang ini salah satu faktornya disebabkan oleh faktor eksternal. Lingkungan memiliki pengaruh yang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Perilaku-perilaku yang menyimpang tadi menunjukkan bahwa adanya krisis karakter.
Pembelajaran Jarak Jauh atau disingkat PJJ yang diberlakukan sejak Maret 2019 telah banyak merubah tatanan pendidikan di Indonesia. Salah satunya yaitu manajemen pendidikan. Sekolah lebih berfokus mencari upaya-upaya yang harus dilakukan agar pembelajaran tetap berjalan sesuai dengan rancangan yang sudah dibuat. Guru melakukan kewajibannya dengan menyampaikan materi kepada siswa. Seluruh kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara daring. Tidak ada kegiatan interaksi sosial antara sesama siswa maupun antara siswa dengan gurunya. Sekolah tidak mampu mengontrol secara langsung bagaimana proses pembelajaran yang terjadi antara siswa dengan guru.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menyatakan “Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif engembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dalam hidupnya”. Sudah jelas bahwa sekolah memiliki kewajiban dalam mendidik karakter siswanya dari awal masuk hingga lulus. Usaha yang dilakukan sekolah yaitu dengan menyisipkan nilai-nilai karakter dalam kurikulum. Namun, bagaimana dengan kondisi saat ini dimana pemberlakuan PJJ guru tidak dapat mengamati secara langsung kondisi sosial yang terjadi pada siswanya.
Kegiatan PJJ yang berlaku selama berbulan-bulan tentunya akan mempengaruhi perubahan karakter pada siswa. Pembelajaran daring sangat membantu siswa dalam menerima pengetahuan dari gurunya. Akan tetapi tujuan dari belajar bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan kognitif melainkan untuk mendidik anak menjadi manusia seutuhnya. Terbatasnya proses pembelajaran saat ini mampu melunturkan nilai-nilai karakter sehingga siswa hanya sekedar menerima materi dari gurunya.
Pembentukan karakter pada siswa bukan hal yang mudah. Perlu adanya perhatian khusus dalam mendidik karakter siswa dimana masing-masing siswa memiliki personality yang berbeda. Penguatan nilai-nilai karakter pada kurikulum harus selalu dievaluasi agar dapat diterapkan pada setiap proses pembelajaran baik untuk saat ini maupun setelah PJJ berakhir. Tentunya untuk mencapai kata berhasil dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, antara sekolah dengan guru, siswa, maupun peran orang tua siswa. Apalagi kondisi saat ini dimana siswa belajar dari rumah sehingga dalam hal ini orang tua lah yang semestinya menjadi monitor bagi anaknya.
Sekolah berperan penting dalam membentuk anak didik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berperilaku baik, bertakwa, dan memiliki etika yang baik. Oleh karena itu diperlukan adanya pengelolaan pendidikan karakter pada suatu sekolah. Pengelolaan pendidikan karakter yang direncanakan (planning), diorganisasikan (organizing), dilaksanakan (actualing), dan dikendalikan (controling). Perencanaan dapat dilakukan dengan menentukan tujuan belajar serta strategi apa yang akan digunakan.
Pengorganisasian yaitu langkah yang ditempuh untuk menentukan, mengelompokkan, dan mengatur kegiatan dalam mencapai suatu tujuan sesuai dengan perencanaan. Pelaksanaan merupakan bentuk realisasi perencanaan menjadi tindakan nyata untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Pengendalian atau dalam bentuk evaluasi yang dilakukan agar tidak ada kegiatan yang menyimpang dari tujuan.
Masing-masing sekolah memiliki cara tersendiri dalam menerapkan nilai pendidikan karakter. Mulai dari memberi sanksi bagi siswanya yang melanggar peraturan, kegiatan ekstrakurikuler, menjadwalkan pertemuan antar wali kelas dengan wali murid, dan kegiatan lainnya yang diharapkan bisa tetap dilaksanakan walaupun kondisi Pembelajaran Jarak Jauh. Manajemen pendidikan karakter perlu lebih dikuatkan dan dievaluasi oleh sekolah-sekolah di Indonesia guna melahirkan SDM yang berkualitas.
Koran : Harian Momentum
Link e-paper : https://harianmomentum.com/read/35006/harian-momentum-edisi-5-juli-2021