APAKAH ANDA MENGIDAP MEGALOMANIA? KENALI SEBELUM TERLAMBAT!

Tanggal : 04 Mar 2021

Ditulis oleh : INDAH AYUDIA

Disukai oleh : 1 Orang

Pada zaman serba canggih ini kita dapat melakukan segala sesuatu dengan mudah, berasa dunia sudah ada dalam genggaman, teknologi terus meningkat dan melakukan pembaharuan-pembaharuan agar dapat digunakan oleh khalayak ramai, kita pun merasa dimanja dengan adanya teknologi yang begitu canggih. Namun, tahukah kamu keberadaan teknologi bisa saja mengancam psikis dan hubungan sosial budaya kita, karena teknologi ada dengan membawa pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positifnya tentu banyak, dengan adanya teknologi pekerjaan kita sehari-hari dapat terselesaikan secara efektif dan efisien, di samping itu pengaruh negatif dari teknologi tidak kalah banyak terutama berhubungan dengan psikis kita.

Dilansir dari liputan6.com terdapat 5 Gangguan psikologis yang terjadi akibat pengaruh teknologi, diantaranya anti sosial, anoreksia dan bulimia nervosa, megalomania, nomophobia, gaming disorder. Gangguan psikologis tersebut akan berdampak buruk jika tidak segera ditangani. Namun, sangat disayangkan karena masyarakat Indonesia terlalu abai akan masalah-masalah psikologis, untuk itu kita selaku generasi muda harus aktif untuk menyosialisasikan terkait gangguan psikologis dan bahayanya.

Melalui tulisan ini saya akan menjelaskan terkait salah satu gangguan psikologis yang disebabkan oleh pengaruh teknologi yaitu megalomania.
Walau gangguan megalomania ini dapat disebut langka tapi, pada praktiknya gangguan megalomania ini tidak hanya mempengaruhi psikis kita melainkan juga masalah dibanyak bidang kehidupan, seperti hubungan, pekerjaan, sekolah atau urusan keuangan.
Megalomania juga disebut gangguan kepribadian narsistik (narcissistic personality disorder) adalah kondisi mental di mana orang memiliki perasaan yang meningkat akan kepentingannya sendiri. Penderita megalomania merasa membutuhkan perhatian dan kekaguman yang berlebihan. Mereka yang mengidap gangguan ini selalu memiliki hubungan yang bermasalah, dan kurang berempati terhadap orang lain. Namun, dibalik topeng kepercayaan diri yang ekstrem ini terdapat harga diri yang rapuh yang rentan terhadap kritik sekecil apa pun.

Orang-orang dengan gangguan megalomania secara umum tidak bahagia dan kecewa ketika mereka tidak diberi bantuan atau kekaguman khusus yang mereka yakini pantas mereka dapatkan. Mereka tidak menemukan kepuasan dalam bersosialisasi, dan kebanyakan orang tidak senang berada di sekitar mereka. Dilansir dari tribunnewswiki.com bahwa gangguan megalomania memengaruhi lebih banyak pria daripada wanita. Sekitar 50% -75% orang yang didiagnosis mengidap megalomania di seluruh dunia adalah pria. Namun, tidak menutup kemungkinan wanita pun terdiagnosis mengidap megalomania.

Ada sembilan gejala utama terkait dengan megalomania.
Untuk dapat didiagnosis mengidap megalomania, seseorang harus dinilai oleh seorang profesional medis untuk mengalami setidaknya lima dari sembilan hal berikut:
• Rasa kebanggaan diri yang muluk-muluk.
• Kesibukan dengan fantasi kesuksesan yang tak terbatas, kekuatan, kecemerlangan, keindahan, atau cinta yang ideal.
• Keyakinan bahwa mereka 'istimewa' dan unik serta ingin diakui oleh orang lain.
• Kebutuhan akan kekaguman yang berlebihan.
• Rasa berhak dan harus mendapatkan/memiliki apa pun yang mereka inginkan.
• Kecenderungan untuk eksploitatif antar pribadi, dalam hal ini mereka menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan mereka sendiri.
• Kurangnya empati, ditunjukkan melalui keengganan untuk mengenali atau mengidentifikasi dengan perasaan dan kebutuhan orang lain.
• Rasa iri terhadap orang lain, atau kepercayaan bahwa orang lain iri pada mereka.
• Perilaku dan sikap yang sombong atau angkuh.
Faktor penyebab megalomania dilansir dari sehatq.com faktanya peneliti tidak tahu persis apa yang menjadi faktor utama penyebab gangguan megalomania. Umumnya kondisi ini dapat menjadi gejala penyakit mental lainnya seperti, bipolar, demensia, dan skizofrenia. Berikut faktor penyebab megalomania:
1. Penyakit mental di keluarga
2. Ketidakseimbangan kimia dalam otak (neurotransmitter)
3. Stres
4. Penyalahgunaan narkoba
5. Kurangnya interaksi sosial
Untuk mengatasi gangguan megalomania yaitu dengan cara :
- Menerima dan menjaga hubungan dengan rekan kerja dan keluarga
- Menoleransi kritik dan kegagalan
- Memahami dan mengatur perasaan sendiri
- Minimalkan keinginan untuk mencapai tujuan dan kondisi ideal yang tidak realistis
Cara yang lebih efektif yaitu dengan melalui psikoterapi dengan psikolog atau psikiater.

Pada masa pandemi ini lebih banyak orang menghabiskan waktu di rumah karena mengikuti anjuran dari pemerintah, dengan demikian, kita lebih sering berinteraksi dengan gawai dari pada dengan orang lain secara langsung, hal tersebut menyebabkan banyak orang mengalami gangguan psikis dan banyak juga orang yang abai terhadap hal tersebut.
Baiknya, karena kita menghabiskan banyak waktu di rumah kita manfaatkan waktu itu untuk mempererat hubungan dengan keluarga dengan ayah, ibu dan saudara kita.
Stay safe and stay healthy.




e-mail : indah.ayudia47@gmail.com

Ig : @indah.ayudiaaa


 




POST TERKAIT

POST TEBARU