Bagaimana Cara Mengatasi Problem FoMO

Tanggal : 14 Oct 2021

Ditulis oleh : FADHILA UZLIFATI MATSNA

Disukai oleh : 1 Orang

Fenomena FoMO banyak diperbincangkan di era digital saat ini. Era digital mengharuskan kita untuk hidup berdampingan dengan perangkat teknologi dan internet. Teknologi dan internet memang ibarat pedang bermata dua. Kita bisa menikmati semua fasilitasnya dengan mudah, namun tak jarang juga kita tanpa sadar terjerumus ke dalam sisi negatifnya. Adapun diantara manfaat media sosial antara lain mempermudah akses informasi, menjalin komunikasi, dan melaksanakan proses pembelajaran. 

Beberapa media sosial yang banyak digandrungi masyarakat terutama generasi muda antara lain Twitter, Instagram, TikTok, Line, dan WhatsApp. Terutama di masa pandemi, ketika banyak kegiatan dilaksanakan dari rumah, frekuensi penggunaan media sosial mengalami peningkatan. Namun, ternyata kecenderungan menggunakan media sosial ini menimbulkan sebuah fenomena dalam diri seseorang, diantaranya seperti FoMO.

McGinnis (2020: 19) menjelaskan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) merupakan rasa cemas yang tidak diinginkan yang timbul karena persepsi terhadap pengalaman orang lain lebih memuaskan dari diri sendiri, biasanya lewat terpaan media sosial. Istilah FoMO pertama kali dicetuskan pada tahun 2013 oleh ilmuwan asal Inggris yaitu Dr. Andrew K. Przybylski. Namun, baru dikenal masyarakat luas akhir-akhir atau disebut gangguan kesehatan mental zaman now.

Mungkin tanpa kita sadari kita sudah mengalami FoMO saat menggunakan media sosial. Contoh fenomena FoMO yang banyak terjadi saat ini adalah ketika seseorang membeli apa saja produk yang sedang tren di kalangan influencer tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Seseorang membeli produk tersebut bukan untuk memenuhi kebutuhan. Tetapi, hanya dijadikan kepuasan psikologis, yaitu rasa ingin menghilangkan takut ketinggalan tren saja dan ajang gengsi. 

Contoh lainnya adalah ketika seseorang merasakan kegelisahan karena tidak mengecek smartphone-nya untuk beberapa saat. Seseorang akan merasa dirinya ketinggalan zaman jika tidak mengetahui beberapa hal atau berita yang sedang viral. Hal ini seringkali terjadi dialami oleh para remaja masa kini. Misal, seseorang akan takut dan gelisah apabila tidak melihat beranda instagram walaupun hanya beberapa saat. Ia sangat ingin tahu kehidupan orang lain yang ia kenal maupun yang tidak. Perilaku tersebut menjadikan seseorang minder jika tidak bisa menyamai atau bahkan melebihi gaya hidup orang yang dilihatnya.

Pada dasarnya, FoMO disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, frekuensi penggunaan media sosial yang berlebihan. Seseorang yang candu terhadap media sosial akan kesulitan bila harus dipisahkan bahkan untuk sebentar saja. Rasa takut akan kehilangan momen membuatnya enggan untuk meninggalkan smartphone-nya. Kedua, relasi dengan orang lain yang kurang baik. Hubungan sosial seseorang dengan lingkungannya yang kurang baik akan menimbulkan gejolak dalam dirinya untuk mendapatkan relasi yang diinginkannya melalui dunia maya. Ketiga, self-esteem yang rendah. Kurangnya rasa keberhargaan diri akan menyebabkan seseorang mencari validitas dengan mengikuti apa saja yang dilakukan idolanya untuk membuat dirinya merasa pantas.

Dampak yang ditimbulkan akibat FoMO ini tidak bisa dianggap sepele. Apabila tidak segera ditangani, FoMO akan mengakibatkan gangguan kecemasan bahkan berujung pada depresi. Selain masalah kejiwaan, FoMO juga berpengaruh pada kesehatan fisik seseorang. Tak jarang FoMO memicu munculnya penyakit lain seperti sesak nafas dan gangguan jantung yang mematikan. Dampak lainnya adalah semakin renggangnya interaksi sosial yang terjalin dengan lingkungan sekitar. Tak dapat dipungkiri, kecanduan media sosial membuat seseorang lebih banyak menghabiskan sesuatu dengan berinteraksi dengan teman virtual daripada di kehidupan nyata. 

Adapun diantara cara mengatasi FoMO adalah dengan membatasi durasi penggunaan media sosial secara teratur. Social media detox dalam artian tidak membuka dan memainkan media sosial selama beberapa waktu dapat dilakukan secara bertahap mulai dari seminggu, dua minggu, dan sebulan. Waktu untuk bermain media sosial bisa diganti dengan melakukan aktivitas lain yang menyenangkan, seperti mendengarkan musik, membaca buku, berkumpul dengan teman, spa, dan aktivitas healing lainnya. 

Media sosial tidak selamanya membawa pengaruh buruk bagi kehidupan seseorang. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan asal mau dan mampu menggunakannya dengan bijak. Segala sesuatu yang tidak dilakukan dengan bijak hanya akan merugikan diri sendiri. FoMO tidak dapat terjadi apabila kita mampu mengatur waktu dan mindset bermedia sosial dengan baik. Kegelisahan dan kecemasan yang mungkin tidak disadari bisa saja lahir dari hal sederhana ini. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan kesadaran terhadap FoMO agar tidak terjebak di dalamnya. 

Koran : Harian Momentum

 

 




POST TERKAIT

POST TEBARU