Belajar dari Praktisi Lingkungan: Cerita Magang di Instansi Pemerintah
Tanggal : 10 Sep 2025
Ditulis oleh : HENI INDRI RAHAYU
Disukai oleh : 2 Orang
Magang di instansi pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan ternyata bukan hanya mengurus dokumen atau mengikuti rapat. Selama 1 bulan, untuk mengisi libur semeter genap ini, mendapat kesempatan magang di dinas perumahan, kawasan permukiman dan lingkungan hidup kabupaten Kudus. Di sana, banyak pengalaman belajar bahwa menjaga alam itu punya banyak wajah – mulai dari angka – angka hasil uji air sungai sampai jalanan curam yang harus ditempuh demi pengambilan sampel. Bersama para praktisi, mahasiswa magang disini bukan hanya belajar teori, tapi diajak langsung turun ke lapangan, melihat kondisi yang selama ini ada di slide presentasi.
Sewaktu magang di dinas lingkungan hidup, kebetulan tim bidang pengendalian dan pemulihan kerusakan lingkungan hidup (PPKLH) yang bekerja sama dengan UNILAB Perdana Semarang, laboratorium swasta pertama di Indonesia yang bergerak di bidang lingkungan hidup sedang turun ke sungai untuk mengambil sampel air. Bukan sekadar jalan-jalan, tetapi benar-benar untuk mengecek apakah kondisi airnya masih layak dan aman. Lewat alat uji dan angka-angka yang dikumpulkan, satu hal penting yang menjadi pembelajaran: sungai itu jujur. Ia menyimpan jejak aktivitas manusia – entah itu limbah, kebiasaan warga, atau dampak pembangunan – dan bicara melalui kualitas air yang kamis analisis. Dari warna, bau, sampai kadar zat pencemar, kami mengamati sungai bukan sebagai objek, tetapi sebagai sistem hidup yang terus beradaptasi. Di sana, saya belajar bahwa metode ilmiah harus dibarengi dengan pemahaman sosial. Pengalaman ini mengubah cara saya memandang sungai – bukan sebagai saluran air, namun sebagai indikator keseimbangan antara manusia dan alam.
Salah satu tugas magang yang berkesan adalah saat mengikuti permeabilitas tanah untuk proyek IPAL (instalasi pengolahan air limbah). Di awal, saya mengira itu sekadar mengambi sampel, melakukan uji, lalu selesai. Tapi ternyata, hasil dari uji itu bisa menentukan apakah sebuah wilayah cocok untuk menampung dan mengolah limbah. Jika salah hitung saja, dampaknya bisa serius – limbah bisa meresap ke tanah, mencemari air tanah, bahkan berdampak ke masyarakat sekitar. Saya melihat juga bahwa banyak keputusan teknis masih dikalahkan oleh ambisi pembangunan cepat. Padahal, angka dan data dari uji lapangan harusnya menjadi landasan awal, bukan sekadar formalitas. Dari sini, pandangan saya terbuka bahwa ilmu bukan hanya teori di ruang kelas, tapi fondasi penting untuk menjaga lingkungan tetap aman dan berkelanjutan.
Belajar proses di balik meja kantor. Selama magang, banyak pengalaman yang diajarkan seperti proses pengambilan keputusan soal lingkungan berjalan melalui alur yang tak sebentar. Dokumen berlapis, diskusi teknis, dan rapat yang kadang berlarut – larut menjadi bagian dari prosesnya. Di balik itu, realita data dari lapangan sering kali menjadi titik terang di antara kebingungan prosedural. Prosedur yang tampak lambat, sebenarnya mempunyai tujuan: menjaga akurasi dan tanggung jawab.
Pengalaman magang di dinas lingkungan hidup, terutama masuk ke bidang PPKLH bukan hanya ikut-ikutan dan duduk di kantor, namun mahasiswa magang diajak turun langsung ke lapangan, memegang alat uji, terlibat dalam diskusi teknis, bahkan ikut melihat dampak dari kerja yang sedang berjalan. Rasanya seperti bukan magang, tetapi bagian dari tim yang benar-benar sedang mencari solusi. Tiap langkah di sungai dan tiap angka dari hasil uji mempunya arti – bukan sekadar tugas, tapi bentuk tanggung jawab. Menjaga alam itu butuh kolaborasi, pengamatan teliti, dan kesediaan untuk belajar. Magang ini bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga membuat mahasiswa yakin bahwa masa depan lingkungan juga ada di tangan generasi muda yang mau turun langsung.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial