Benarkah Seseorang Dapat Multitasking?

Tanggal : 03 Mar 2022

Ditulis oleh : ASSA BIQUNAL AWAAL

Disukai oleh : 0 Orang

Sering kali saat melakukan pekerjaan rumah kita melakukannya dengan berbagai macam kegiatan dalam satu waktu. Seperti, saat sedang memasak juga disertai menyapu, mencuci piring dan juga membersihkan washtafel. Jadi tujuannya itu saat sedang berada di dapur semua pekerjaan yang ada di dapur dapat dikerjakan semua agar waktunya lebih efisien. Oleh karena itu, ini yang menjadi pertanyaan sebenarnya dapatkah seseorang multitasking?

Tau ngga sih? ternyata multitasking itu adalah mitos. Jadi otak kita itu sebenarnya tidak bisa untuk fokus pada dua hal atau lebih sekaligus dalam satu waktu. Apalagi jika aktifitas-aktifitas tersebut memerlukan kita untuk menggunakan bagian otak yang sama. Contohnya pada saat membaca buku disertai mendengarkan lagu yang berlirik. Dengan melakukan kedua hal tersebut secara bersamaan justru akan menghambat proses otak kita untuk mencerna kata-kata atau kalimat yang sedang dibaca. Karena secara bersamaan juga memaksa otak kita untuk mencerna kata-kata yang ada pada lagu yang kita dengarkan.

Begitu juga pada saat kita sedang ada kelas, misalnya sedang mendengarkan dosen tiba-tiba kita membuka handphone lalu membalas WhatsApp atau melihat media sosial. Semua aktifitas tersebut membutuhkan bagian otak prefrontal cortex dan jika semua aktifitas ini dilakukan secara bersamaan maka otak akan sangat kewalahan. Ternyata sudah banyak peneliti yang membahas tentang multitasking bahwa kita itu sebenarnya tidak bisa multitasking. Kecuali jika kita adalah satu dari dua setengah persen manusia di dunia ini yang bisa multitasking.

Orang-orang sebenarnya bukanya tidak bisa multitasking, tetapi yang biasa mereka lakukan itu adalah berpindah-pindah antara satu aktifitas ke aktifitas yang lain dan kebiasaan ini selain dapat memperlama waktu kita dalam melakukan suatu hal hingga 40%. Sehingga dapat berdampak buruk pada otak kita. Riset membuktikan bahwa orang-orang yang sering berpindah-pindah kepadatan otak di bagian anterior cingulate cortexnya lebih kecil daripada orang-orang yang lebih jarang berpindah-pindah dan bagian otaknya itu berperan penting untuk menumbuhkan empati, kognitif skill, dan mengontrol emosi kita. 

Multitasking atau switching itu dapat menurunkan IQ level kita sampai 10 point. Kerugian lain yang diakibatkan oleh multitasking ini adalah kita akan sulit untuk berada di state of flow atau zona ketika sedang bekerja. Sementara itu, state of flow sangat diperlukan untuk meningkatkan produktifitas kita. Pada saat sedang dihadapkan dengan beberapa pekerjaan, otak kita mengalami dua proses. Pertama, goal shifting yaitu otak menentukan pekerjaan mana yang akan dilakukan terlebih dahulu. Kedua, role activation yaitu otak kita berpikir bagaimana cara untuk mengerjakan pekerjaan jika terus-menerus berpindah aktifitas. Apalagi pada hal yang kompleks sama saja seperti memaksa otak kita untuk nge-riset melakukan pekerjaan baru yang memebuat otak menjadi kewalahan dan stess yang akhirnya akan membuang banyak waktu.

Oleh karena itu, daripada kita multitasking lebih baik singletasking saja. Singletasking memberikan keuntungan untuk kita menjadi lebih produktif, lebih menghemat waktu dan pekerjaan yang dilakuin hasilnya akan lebih maksimal karena akan focus pada pekerjaan itu. Jadi mindset kita harus dirubah bukan pekerjaan apa yang bisa kita lakukan tetapi pekerjaan apa yang harus dilakukan. Menurut youtuber Gita Safitri “Sebagian orang untuk singletasking itu sulit termasuk buat gue, karena emang walaupun otak itu sebenarnya ngga bisa untuk disuruh focus pada banyak hal dalam waktu bersamaan. Ironically secara natural tuh otak kita sebenarnya lebih senang multitasking gitu, karena manusia itu emang cepat bosan so what I'm saying is you need to put a little bit of effort untuk bisa mastering singletasking itu pertama kita bisa mulai dengan bikin schedule yang spesifik. Maksudnya adalah kita bikin designated time buat setiap pekerjaan yang harus kita lakukan pada satu hari.”

Untuk meminimalisir multitasking kita dapat melakukan teknik pomodoro, dimana kita melakukan suatu hal 25 menit. Lalu, setelah 25 menit selesai kita beristirahat 5 menit. Kemudian, setelah itu kita berpindah pada pekerjaan lain. Jadi yang paling penting adalah kita harus berlatih fokus. Misalnya saat sedang belajar atau waktu solat ini dapat dijadikan sebagai meditasi, segala macam gerakannya itu mencoba sempurnakan tidak tergesa-gesa. Hal ini sangat penting karena berdasarkan studi yang dilakukan di Harvard Business School seseorang yang selalu mendedikasikan waktunya 15 menit saja dalam setiap hari untuk benar-benar beristirahat akan memiliki cukup refleksi performa kerja yang dapat meningkat hingga 23%.

http://m.harianmomentum.com/read/39502/harian-momentum-edisi-1-maret-2022




POST TERKAIT

POST TEBARU