BIAYA PENDIDIKAN YANG SEMAKIN NGELUNJAK
Tanggal : 04 Dec 2024
Ditulis oleh : PUTRI OKTAVIANI
Disukai oleh : 0 Orang
BIAYA PENDIDIKAN YANG SEMAKIN NGELUNJAK
Putri Oktaviani
Universitas Sunan Kalijaga
(tritri2968@gmail.com)
Pendidikan adalah aspek yang paling penting bagi manusia dalam berkehidupan bernegara. Salah satu cara untuk menanggulangi kemiskinan negara adalah dengan menciptakan masyarakat yang berpendidikan. Dengan pendidikan seseorang mampu menjadikan dirinya sebagai orang yang berkualitas dan mempunyai harga diri. Bahkan dengan pendidikan manusia mampu menata dan mengarahkan masa depan dirinya dan negaranya.
Indonesia saat ini sedang menerapkan sistem wajib belajar selama 12 tahun. Selama 12 tahun, tentunya pendidikan itu dilakukan dengan cara berjenjang mulai dari Sekolah Dasar (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA/SMK) seperti yang sudah kita ketahui. Oleh karenanya, batas minimal seseorang mengenyam pendidikan adalah sampai pada bangku SMA/MA/SMK sederajat.
Dari perbedaan jenjang pendidikan itu sendiri tentunya membutuhkan biaya yang berbeda-beda, makin tinggi jenjang atau tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang maka semakin tinggi juga biaya yang diperlukan untuk pendidikan. Biaya pendidikan di Indonesia ini sangat beragam, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa rata-rata biaya pendidikan yang diperlukan untuk anak Sekolah Dasar (SD/MI) adalah sebesar Rp3,24 juta, untuk SMP/sederajat sebesar Rp5, 59 juta dan untuk SMA/ sederajat sebesar Rp7, 8 juta di tahun ajaran 2020/2021. Bahkan untuk jenjang pendidikan di perguruan tinggi, biaya pendidikan uang diperlukan adalah sebesar Rp14,47 juta. Dari data tersebut disimpulkan bahwa biaya pendidikan yang dibutuhkan untuk setiap jenjangnya hampir naik dua kali lipat dari jenjang sebelumnya.
Menurut data BPS, tingkat penyelesaian pendidikan untuk jenjang Sekolah Dasar (SD/MI) sebanyak 97,37% , untuk jenjang SMP tingkat penyelesaiannya menurun menjadi 88,88%. Kemudian, untuk jenjang SMA semakin menurun hingga 65,94%. Data tingkat penyelesaian pendidikan ini malah berbanding terbalik dengan data biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan, data penyelesaian pendidikan ini setiap jenjangnya tidak semakin naik akan tetapi malah semakin menurun. Dari data BPS ini, dapat kita simpulkan bahwa biaya pendidikan yang mahal sangat berpengaruh bagi kelangsungan jenjang pendidikan yang diinginkan anak namun terhalang oleh mahalnya biaya pendidikan.
Penghasilan orang tua yang rendah tentu menjadi kendala bagi mereka untuk menyekolahkan anaknya. Mereka harus berfikir ulang untuk melanjutkan sekolah anaknya ke pendidikan yang lebih tinggi. Mahalnya biaya pendidikan ini menyebabkan banyak orang putus sekolah terutama mereka yang tinggal di desa-desa. Orang tua mempunyai kendala untuk biaya pendidikan, mereka tidak mampu membiayai anaknya untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.
Akses pendidikan di perguruan tinggi pun hanya dinikmati oleh orang kaya, sementara masyarakat miskin harus menganggur dan terjebak pada pekerjaan yang bergaji rendah. Tak sedikit dari mereka yang memutuskan dirinya untuk bekerja di negara tetangga menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI)demi mendapatkan penghasilan yang banyak. Di Indonesia, gaji yang didapat oleh karyawan memang lebih rendah dibandingkan dengan gaji luar negeri. Akan tetapi, diluar negeri gaji karyawan lebih tinggi pun juga karena biaya kehidupannya yang mahal. Semua akan kembali pada biaya kehidupan yang serba mahal.
Bagi negara berkembang, menurunkan biaya pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk mengurangi kemiskinan negara. Dengan menurunnya biaya pendidikan maka semua orang bisa mengeyam pendidikan setinggi-tingginya. Ada pepatah mengatakan "Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China", padahal dengan biaya pendidikan yang semakin mahal ini jangankan kita pergi menuntut ilmu ke Negeri China beli tiketnya saja kita sudah kesusahan. Namun, ada banyak peluang bagi para siswa yang berprestasi untuk mengenyam beasiswa pendidikan di luar negeri. Sebab di luar negeri sudah banyak membuka beasiswa pendidikan gratis bagi siswa yang berprestasi, walaupun memang siswa masih harus memikirkan biaya untuk hidup sehari-harinya di luar negeri.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial