DAMPAK PEMBELAJARAN DARING TERHADAP STRES AKADEMIK MAHASISWA

Tanggal : 24 Mar 2021

Ditulis oleh : MUHAMAD ADITYA HIDAYAH

Disukai oleh : 0 Orang

Terhitung sejak diumumkannya wabah Covid-19 sebagai pandemi, dan diberlakukannya protokol kesehatan di berbagai negara yang berimbas pada pengurangan aktivitas kontak fisik secara langsung, menyebabkan berbagai institusi yang ada harus menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Institusi Perguruan Tinggi adalah salah satu yang harus melakukan penyesuaian dengan mengalihkan kegiatan belajar-mengajar ke sistem daring (dalam jaringan) atau tanpa tatap muka secara langsung. Pembelajaran daring menjadi alternatif yang kian marak di tengah merebaknya pandemi. Di Indonesia sistem pembelajaran daring telah ditetapkan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 pada tanggal 24 Maret 2020 silam. Pada proses transisi dari sistem pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran daring menuntut mahasiswa untuk sesegera mungkin beradaptasi terhadap perubahan.

Pembelajaran daring adalah metode pembelajaran yang memanfaatkan jaringan internet sebagai upaya berinteraksi pada kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran daring dapat dilakukan menggunakan beberapa fasilitas, seperti komputer, laptop dan smartphone yang terhubung dengan internet. Platform yang dapat dosen dan mahasiswa gunakan dalam pembelajaran seperti whatsApp, telegram, zoom, meets, dan google classroom.

Dalam implementasi pembelajaran daring, banyak institusi menerapkan metode pemberian tugas secara daring bagi para mahasiswa. Penugasan tersebut dilakukan melalui berbagai media daring yang tersedia. Dalam situasi darurat karena adanya virus corona seperti saat ini, bentuk penugasan adalah yang dipandang efektif dalam pembelajaran jarak jauh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Livana PH dkk., (2020) menunjukkan bahwa penugasan merupakan faktor utama penyebab stres mahasiswa selama pandemi Covid-19. Sulitnya pemahaman pembelajaran dan penerapan secara daring yang lebih menitikberatkan penugasan, maka dapat meningkatkan gangguan psikologis (ansietas dan stres) mahasiswa.

Hasil survei yang dilakukan oleh Funsu Andirana dan Estri Kusumawati (Februari, 2021) terhadap 285 mahasiswa S1 yang berasal dari beberapa perguruan tinggi baik PTN maupun dari PTS yang tersebar di Pulau Jawa. Diperoleh hasil bahwa dari 285 responden (80% perempuan dan 20% laki-laki) sebanyak 9 orang perempuan mengalami mengalami stres ringan dengan presentase 4% dan 219 orang mengalami stres berat dengan presentasi 96%. Sedangkan untuk laki-laki sebanyak 4 orang mengalami stres ringan dengan presentase 7% dan 53 orang mengalami stres berat dengan presentase 93%. Selain itu, sebanyak 189 responden atau dengan kisaran 66% dari 285 responden menyatakan bahwa pembelajaran daring tidak efektif. Sungguh sebuah ironi yang nyata, pembelajaran yang seharusnya menjadi ladang mencari ilmu bagi para mahasiswa akan tetapi berbalik menjadi penyebab stres yang tentunya memberikan dampak negatif.

Pembelajaran daring menuntut mahasiswa untuk lebih aktif belajar secara autotodidak selama mengikuti kelas daring. Banyak tugas yang diberikan untuk mahasiswa dan terdapat banyak kekurangan dalam kegiatan pembelajaran daring. Ketidakpuasan mahasiswa saat proses pembelajaran daring menyebabkan mahasiswa kesulitan memahami materi pembelajaran. Banyak mahasiswa yang berasumsi bahwa pembelajaran tatap muka (luring) dapat membuat mahasiswa lebih paham akan pembelajaran. Akibat asumsi tersebut, muncul rasa takut bagi mahasiswa terhadap kemajuan akademiknya. Situasi yang monoton, tugas yang terlalu banyak, tekanan harus mampu belajar mandiri, deadline tugas perkuliahan, rasa gagal dalam mencapai target yang diharapkan, ketidakjelasan penyampaian materi, konsentrasi tinggi dalam memperhatikan penjelasan dosen selama perkuliahan yang sering terkendala signal sehingga tidak terdengar jelas suara dosen, tekanan dari orang tua, dan pembengkakan biaya kuota internet membuat mahasiswa stres dengan kehidupan akademiknya. Mahasiswa timbul rasa khawatir dengan nilai hasil akademik, sehingga terjadi stres akademik. Pada range stres yang sedang hingga berat dapat menjadi faktor penghambat pembelajaran. Peningkatan stres akan menurunkan kemampuan akademik yang berpengaruh terhadap indeks prestasi (IP) mahasiswa.

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan caraa pihak intsitusi/lembaga pendidikan untuk menyadiakan metode pembelajaran yang tidak hanya menitikberatkan terhadap penugasan tetapi pemahaman materi pembelajaran yang mendalam dengan penyampaian yang interaktif serta tidak membosankan. Dengan demikian, diharapkan kasus stres mahasiswa dapat berkurang dan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan mengutamakan humanisme.




POST TERKAIT

POST TEBARU