Delima Pembelajaran Tatap Muka

Tanggal : 20 Nov 2021

Ditulis oleh : FIRA WIDYAWATI

Disukai oleh : 0 Orang

Virus Corona (Covid-19) merupakan salah satu virus mematikan yang dapat menjangkiti manusia dan hewan. Virus tersebut adalah sekelompok virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Penderita yang terkonfirmasi virus corona dengan gejala sedang ditandai dengan flu, seperti hidung berair dan meler, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan demam. Sedangkan yang mengalami gejala berat ditandai dengan demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak nafas, dan nyeri dada. Virus ini dapat menyerang siapa saja, baik balita, anak-anak, orang dewasa, orang tua, ibu hamil, maupun ibu yang sedang menyusui.

Wabah Covid-19 ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, di akhir Desember 2019. Pada tahun 2020, perkembangan penularan virus ini relatif signifikan lantaran penyebarannya telah terkenal di seluruh dunia dan semua negara mencicipi dampaknya termasuk Indonesia. Wabah Covid-19 tidak hanya melumpuhkan perekonomian masyarakat tetapi juga di dunia Pendidikan. Seluruh negara sedang berjuang mencegah, menghadapi, dan mengatasi persebaran virus corona.

Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus Covid-19 pada Senin 2 Maret 2020. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Kasus pertama tersebut diduga berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta pada 14 Februari 2020.

Pada 02 Desember 2020, masyarakat Indonesia yang terkonfirmasi virus corona mencapai 549.508 orang; sembuh 458.880, dan meninggal mencapai 17.199 orang. Oleh sebab itu, selama masa pandemi Covid-19 ini pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti social distancing, hingga pembatasan sosial berskala besar (PSSB). Kondisi ini mengharuskan masyarakat untuk tetap berada dirumah, mulai dari bekerja, beribadah maupun belajar dirumah.

Akibat dari kebijakan tersebut membuat sektor pendidikan seperti sekolah menghentikan proses pembelajaran secara tatap muka. Sebagai gantinya, pembelajaran dilaksanakan secara daring yang bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, sesuai dengan surat edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran coronavirus disease (Covid-19) menganjurkan pembelajaran daring.

Dalam keadaan masa pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan baru bagi guru untuk mengubah strategi pembelajaran mereka secara tiba-tiba. Hal ini dikarenakan proses pendidikan normal tatap muka berubah dengan sistem pembelajaran daring. Pembelajaran daring adalah suatu sistem rancangan pembelajaran dimana penerapannya menggunakan jaringan internet dan dilakukan secara tidak langsung antara guru maupun siswa.

Pembelajaran daring dapat menggunakan teknologi digital seperti Whatsapp, google classroom, video conference, zoom dan lainnya. Dengan mengirimkan teks, audio, gambar, animasi dan video streaming serta website belajar yang digunakan melalui jaringan internet. Pemerintah juga menyiapkan beberapa fasilitas untuk menunjang pembelajaran daring seperti: siaran pembelajaran melalui TV dan radio serta penyediaan kuota gratis/murah.

Pembelajaran daring ini memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya yaitu dapat di akses dengan mudah, biaya lebih terjangkau, waktu belajar fleksibel dan wawasan yang luas. Sedangkan kekurangannya yaitu keterbatasan akses internet, berkurangnya interaksi dengan pengajar, dan minimnya pengawasan dalam belajar. Sudah hampir dua tahun siswa Indonesia belajar secara daring, tanpa tatap muka dan bersosialisasi secara langsung dengan guru maupun teman-teman di sekolah.

Di tahun 2022 nanti kemungkinan pembelajaran akan dilaksanakan secara tatap muka kembali. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim meminta public tidak terlalu mengkhawatirkan pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Menurutnya, saat ini setidaknya sudah 55 persen dari sekolah yang ada di Indonesia sudah mulai melaksanakan PTM. Jumlah itu diharapkan akan terus bertambah karena PTM merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat tergantikan oleh metode pembelajaran daring. Nadiem juga menegaskan bahwa pelaksanaan PTM akan terus didorong simultan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, akselerasi vaksinasi bagi tenaga pendidik serta siswa, dan pengawasan yang terus menerus.

Saat ini penularan virus Covid-19 sudah mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan program vaksinasi yang berjalan baik dan cepat hingga ke pelosok desa. Cakupan vaksinasi Covid-19 di kalangan tenaga pendidik sudah hampir menyentuh angka 70 persen untuk suntikan dosis pertama. Nadiem mengungkapkan harapannya bahwa semua daerah bisa seperti Jawa Timur, penanganannya baik, vaksinasi cepat, sehingga bisa melaksanakan PTM. Tetapi disisi lain terdapat siswa yang tidak menginginkan pembelajaran tatap muka dimulai kembali, hal tersebut dikarenakan factor-faktor berikut ini :

Faktor pertama yaitu siswa lebih mudah menemukan materi yang diinginkan hanya dengan laptop atau smartphone. Tidak perlu khawatir akan terjebak kemacetan, lama mencari parkir, atau berdesak-desakan di transportasi umum, apalagi di kondisi pandemi seperti ini, tentu beraktivitas di rumah lebih aman dan nyaman. Bisa di lakukan duduk di kamar atau ruang tamu. Faktor kedua, mudahnya mengakses materi secara online hingga 24 jam nonstop yang bisa disesuaikan dengan waktu luang yang tersedia. Dapat dilakukan tanpa harus keluar rumah, kapan saja dan di mana saja.

Faktor ketiga, tidak membutuhkan uang transportasi karena pembelajaran bisa dilakukan di dalam rumah, dan tidak mengeluarkan uang untuk mengerjakan tugas karena pengumpulan tugas hanya dikirim melalui laman yang diberikan oleh guru. Dan faktor terakhir yaitu tersedianya berbagai bidang dan ilmu yang sesuai goals masing-masing. Mulai dari kemampuan bahasa inggris, finance, marketing atau soft skill pun bisa di temukan di satu platform saja. Resiko besar yang harus diakhiri sebagai akibat tidak dapat dilakukannya PTM yaitu adanya learning loss.

Menurut Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim penerapan PJJ berkepanjangan memiliki dampak yang permanen pada siswa, karena dapat mengorbankan kompetensi yang dimiliki oleh siswa itu sendiri. Ada berbagai cara memulihkan siswa menyambut PTM terbatas. Peran ini dapat diambil para guru dengan mendengarkan pengalaman siswa selama belajar di rumah. Guru perlu menghargai apapun pengalaman siswa selama PJJ. Mendengar pengalaman siswa diperlukan untuk menjaga kesehatan emosionalnya saat kembali ke sekolah. Lalu, sekolah juga perlu merancang lingkungan belajar yang menarik, nyaman, dan aman karena sangat berpengaruh bagi pelajar.

Hal tersebut menjadikan siswa semangat kembali ketika mengikuti PTM terbatas. Dan jangan lupa ketika anak hadir di sekolah untuk PTM terbatas, guru mesti menyambut dengan salam dan senyum hangat. Agar siswa memiliki semangat yang bagus, maka guru harus mampu menyambut mereka dengan penuh ceria dan kehangatan. Itulah tips yang bisa diterapkan untuk memulihkan semangat belajar siswa saat PTM terbatas.

https://matabanua.co.id/2021/11/19/e-paper-harian-pagi-mata-banua-jumat-19-november-2021/

 




POST TERKAIT

POST TEBARU