Dilema Sekolah Tatap Muka Era New Normal

Tanggal : 07 Apr 2021

Ditulis oleh : Azizah Rizka Wahyuningtyas

Disukai oleh : 0 Orang

Masa pandemi masih saja dihadapi oleh kita selama setahun lebih ini. Selama setahun lebih itu pula sekolah diadakan secara daring. Sekolah daring memang menjadi pilihan terbaik sejauh ini agar anak-anak aman dari dampak pandemi. Namun sekolah daring juga tak selalu berjalan dengan baik. Banyak kendala yang menjadikan sekolah daring ini lebih melehahkan. Salah satunya dibutuhkannya orang tua untuk berpean aktif untuk mendampingi anak belajar.

Orang tua memang memiliki kewajiban penuh untuk mendidik anaknya. Sayangnya di jaman sekarang dimana kedua orag tua kebanyakan bekerja, orang tua tidak bisa mendampingi anak-anaknya 24 jam sehari. Orang tua cenderung kerepotan untuk memastikan anaknya belajar dengan baik atau tidak. Meskipun orang tua tidak bekerja, tidak semua orang tua di Indonesia mampu untuk membantu pembelajaran anak mereka karena masih banyak orang tua yang berpendidikan rendah.
Pada awal pembelajaran daring kebanyakan orang tua masih sanggup untuk memastikan anaknya belajar dengan benar. Namun lama kelamaan jika sang anak mulai jenuh dan enggan mengerjakan tugasnya, orang tua pun menjadi semakin kerepotan dan mulai ikut jenuh juga. Inilah salah satu alasan mengapa orang tua sangat ingin sekolah tatap muka diadakan kembali.
Siswa yang telah lama sekolah daring juga sudah sangat ingin bertemu dengan teman-teman dan guru mereka. Mereka merindukan suasana sekolah yang membuat suasana belajar lebih menyenangkan. Namun sayangnya hal itu masih belum bisa mereka rasakan.
Vaksin memang telah tersedia, namun belum serratus persen warga Indonesia disuntik vaksin, bahkan tidak sedikit yang menolaknya. Kini kembali lagi dilema orang tua yang ingin anaknya kembali sekolah tatap muka. Di satu sisi mereka ingin anaknya dibimbing oleh guru yang lebih kompeten pada bidangnya. Sedang disisi lain virus corona juga masih bisa merenggut kesehatan bahkan jiwa sang anak.
Berbeda dengan pusat perekonomian ataupun pusat wisata, sekolah merupakan suatu kewajiban. Jika sekolah dibuka mau tidak mau, suka tidak suka maka siswa harus hadir. Berbeda dengan tempat wisata, kita tiak diwajibkan untuk hadir kesana. Pusat perekonomian-pun memiliki urgensi yang berbeda, karena jika perekonomian tidak berjalan lancar maka akan banyak warga yang kelaparan. Hal ini jauh berbeda dengan sekolah yang masih sangat mungkin untuk dilakukan secara daring.
Namun kembali harus kita akui bersama bahwa jaringan internet di Indonesia belum merata, kemampuan masing-masing keluarga untuk memfasilitasi anaknya pun berbeda-beda. Sehingga sekolah daring pun tidak luput dari kekurangan. Lalu bagaimana dengan opsi sekolah tatap muka yang saat ini masih sedang diuji cobakan? Hal itu juga tak sepenuhnya membuat orang tua bebas dari rasa khawatir. Belum meratanya vaksin dan masih sulitnya disiplin protokol kesehatan membuat orang tua justru lebih khawatir untuk membiarkan anak mereka sekolah tatap muka.
Dilansir dari kompas.com di Kota Padang Panjang bermula dar 1 siswa yang kehilangan penciuman, kemudian menyebabkan klaster baru 43 siswa terpapar positif. Ini juga merupakan salah satu dilema. Tidak  semua orang mau mengaku kalau dirinya mengalami gejala covid karena takut akan dikucilkan oleh semua orang. Ini baru simulasi dalam skala kecil, dan tetap saja ada sekolah yang kebobolan. Lalu bagaimana jika sekolah tatap muka benar-benar dijalankan? Yakinkah semua sekolah bisa melaksanakan protokol kesehatan secara ketat? Kita sebagai oang dewasa saja kadang menggunakan masker kurang tepat. Mencuci tanganpun kadang lupa. Menjaga jarak juga seperti hanya himbauan belaka. Lalu bagaimana dengan anak-anak kita yang masih suka berlari kesana kemari? Atau untuk yang udah agaklebih besar bagaimana menyikapi anak yang suka berkumpul, menobrol bersama? Yakinkah mereka bisa menjaga jarak?
Pandemi memang menuntut kita untuk beradaptasi. Namun sayangnya tidak semua orang mau dan sadar untuk menjalankan berbagai adaptasi tersebut. Sekolah online memang salah satu alternatif adaptasi yang dijalankan oleh pemerintah. Namun sebagai manusia tentunya kita ingin semua lekas berjalan dengan normal. Sekolah tatap muka juga belum tentu bisa menjamin anak benar-benar menangkap pembelajaran dari guru. Namun setidaknya akan mengurangi beban orang tua dalam mengawasi mereka belajar. Seperti memegang buah simalakama, memang tidak ada pilihan terbaik bagi semua pihak, namun dengan diadakannya opsi ijin dari orang tua untuk sekolah tatap muka mungkin akan membuat kekhawatiran orang tua sedikit berkurang. Apapun pilihan kita untuk membiarkan anak kita sekolah tatap muka atau tidak mungkin itu pilihan terbaik menurut masing-masing individu sesuai kebutuhan mereka. Semoga pandemi segera berlalu hingga kita tidak perlu menanggung dilema ini lebih lama lagi.

Koran Radar Selatan

https://drive.google.com/file/d/1XCKUBcFiqyoShKEJWHlXBUUB66RNUXaX/view?usp=drivesdk




POST TERKAIT

POST TEBARU