Hati-Hati! Dampak Negatif Wabah Insecure dari Medsos

Tanggal : 30 Nov 2021

Ditulis oleh : ISTIKOMAH YULFA AGUSTIN

Disukai oleh : 0 Orang

Dalam laporan berjudul Digital 2021 The Latest Insights Into The State of Digital disebutkan bahwa dari 274,9 juta penduduk Indonesia, 170 juta diantaranya sudah menggunakan media sosial. Rentang usia pengguna media sosial paling banyak adalah remaja atau biasa dikenal sebagai generasi Z. Aplikasi terpopuler yang sering digunakan adalah WhatsApp, Instagram, TikTok, YouTube, Twitter, dan berbagai aplikasi lain yang marak belakangan ini.

Memang bermedia sosial memiliki dampak positif dan dampak negatif. Salah satu dari dampak positif yang diperoleh adalah memudahkan dalam mencari sebuah informasi baru. Sedangkan dampak negatif bermedia sosial yang belakangan ini terjadi diantaranya adalah munculnya insecurity pada remaja. Insecure artinya tindakan dari adanya emosi apabila kita menilai diri kita menjadi seseorang inferior dari orang lain (Asta, 2019). Rasa insecure membuat seseorang merasa tidak percaya diri dan cenderung sering membandingkan diri dengan orang lain.

Untuk menjaga diri dari rasa insecure maka perlu mengetahui penyebab yang memicu tumbuhnya rasa insecure. Insecure dapat dipicu oleh faktor internal seperti kejadian masa lalu yang menimbulkan trauma. Rasa tidak puas dengan potensi diri dan rasa malas untuk mengasah potensi tersebut juga dapat menjadi pemicu timbulnya insecure. Hal itu dapat menjadi alasan untuk membandingkan diri dengan orang yang dirasa lebih sempurna di media sosial.

Insecure juga bisa disebabkan oleh faktor dari luar diri sendiri. Seperti  penilaian yang kurang baik dari para pengguna media sosial yang lain dapat menjadi alasan seseorang untuk merasa tidak percaya diri. Hal ini berdampak pada kesehatan mental seseorang yang menyebabkan seseorang menghindari kegiatan sosial di dunia nyata. Padahal hubungan dengan orang lain di dunia nyata merupakan hal yang penting.

Dalam kasus lain membandingkan diri sendiri dengan orang lain dapat memicu rasa tidak percaya diri muncul. Padahal dalam dunia virtual yang disuguhkan hanyalah cuplikan dari kehidupan seseorang. Hal ini tentu tidak adil karena penilaian berdasarkan skala yang sangat sempit. Untuk menyikapi hal ini harus dibangun rasa mencintai diri sendiri sehingga menjadi lebih fokus untuk mengembangkan potensi diri.

Rasa insecure didasari pada pandangan diri sendiri terhadap orang lain. Menilai sempurna apa yang kita lihat secara sekilas di media sosial. Hal yang sering disepelekan ini ternyata berdampak sangat vital bagi kehidupan dalam dunia nyata. Dampak dari segi mental yang tentu sangat mengganggu pikiran dan kehidupan bersosial dalam dunia nyata yang turut menanggung akibat dari rasa insecure pada orang lain di media sosial.

Pada dasarnya insecure berasal dari dalam diri sendiri. Maka untuk mengatasi agar rasa itu dapat terkontrol adalah dengan menguasai pola pikir dan kendali atas rasa dalam diri sendiri. Faktor lingkungan juga dapat mendukung untuk lebih percaya diri dan menerima berbagai kekurangan dalam diri kita. Dimulai dari lingkungan dengan lingkup paling sempit dalam hidup yaitu keluarga.

Penanaman rasa percaya diri akan optimal jika dimulai sedari dini. Hal-hal kecil seperti kesadaran orang tua untuk mengapresiasi karya dan usaha anak akan berdampak besar pada rasa percaya diri anak. Sehingga anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang matang dan mampu menerima kekurangan dalam dirinya. Hal ini akan membuat anak tidak mudah membandingkan dirinya dengan orang lain.

Kesadaran etika bermedia sosial seperti tidak memberikan komentar buruk kepada orang lain, tidak mudah menghakimi orang lain, tidak memandang sesuatu dari sepihak akan berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Kesadaran tersebut haruslah tertanam dalam diri kita. Sehingga kita bisa memulai untuk melakukan perubahan demi kesehatan mental diri sendiri dan orang lain.

http://m.harianmomentum.com/read/37895/harian-momentum-edisi-30-november-2021




POST TERKAIT

POST TEBARU