Keberhasilan belajar mengajar

Tanggal : 23 Dec 2022

Ditulis oleh : NANI SUKMA WATI

Disukai oleh : 0 Orang

 

 

Keberhasilan Belajar Mengajar

Belajar

 Belajar diartikan sebagai proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan (Moh. Surya, 1992, 23).

Adapun ciri-ciri kegiatan belajar adalah:

1) Belajar merupakan aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar.

2) Perubahan itu didapatkannya perubahan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama.

3) Perubahan itu terjadi karena usaha. 

 Pemahaman tentang belajar begitu penting. Untuk memperoleh pengertian yang objektif tentang belajar, terutama belajar di sekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Di kalangan para ahli psikologi terdapat keragaman dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan tentang belajar (learning). Namun demikian secara eksplisit maupun implisit pada akhirnya terdapat kesamaan maknanya, ialah bahwa dalam definisi manapun konsep belajar itu selalu menunjukkan kepada suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.

 Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Kalau tangan seseorang menjadi bengkok karena patah tertabrak mobil, perubahan semacam itu tidak dapat digolongkan ke dalam perubahan dalam arti belajar. Demikian pula perubahan tingkah laku seseorang yang berada dalam keadaan mabuk, perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan, pertumbuhan, dan perkembangan tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar. 

Mengajar 

 Teaching is the guidence of leaming" (Mengajar adalah bimbingan kepada peserta didik dalam proses belajar). Mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada peserta didik didik atau usaha mewariskan kebudayaan masyarakat kepada generasi berikut sebagai generasi penerus.

 Pengertian Mengajar menurut para ahli:

(1). Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5).

(2). Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapan kecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak. Jadi, mengajar bukan sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan mengandung makna yang lebih luas dan kompleks, yaitu terjadinya komunikasi dan interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya.

 

3. Hasil Belajar 

 Hasil belajar merupakan suatu penilaian akhir dari proses dan penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti (Hamalik, 2008: 30). Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Howard Kingsley (Nana Sudjana, 2005:85) membagi 3 macam hasil belajar: 

1) Keterampilan dan kebiasaan; 

2) Pengetahuan dan pengertian; dan 

3) Sikap dan cita-cita. 

 Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut.

Keberhasilan Belajar Mengajar

 Suatu proses belajar mengajar tentang Suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu pembahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan instruksional khusus (TIK) yang ingin dicapai. Fungsi penilaian ini adalah untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil.

 Karena itulah, suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan instruksional khusus dari bahan tersebut. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian keberhasilan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan instuksional khusus yang sudah direncanakan atau dibuat sebelumnya.

 

Indikator Keberhasilan Belajar Mengajar

Guru

 Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan faktor yang terpenting. Di tangan gurulah sebenarnya letak keberhasilan pembelajaran. Komponen guru tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa oleh komponen lain, dan sebaliknya guru mampu memanipulasi atau merekayasa komponen lain n menjadi bervariasi. Sedangkan komponen lain tidak dapat mengubah guru menjadi bervariasi. Tujuan rekayasa pembelajaran oleh guru adalah membentuk lingkungan peserta didik supaya sesuai dengan lingkungan yang diharapkan dari proses belajar peserta didik, yang pada akhirnya peserta didik memperoleh suatu hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, dalam merekayasa pembelajaran, guru harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.

Siswa

 Peserta didik merupakan komponen yang melakukan kegiatan belajar untuk mengembangkan potensi kemampuan menjadi nyata untuk mencapai tujuan belajar. Komponen peserta ini dapat dimodifikasi oleh guru.

Kurikulum 

 Kurikulum dapat diartikan seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Karena kurikulum dianggap sebagai pedoman sekolah atau madrasah, maka kurikulum dalam implementasinya memerlukan beberapa komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Adapun komponen kurikulum meliputi: tujuan, pendidik, peserta didik, isi, prosedur atau strategi, sarana dan prasarana pendidikan dan dukungan masyarakat. Kurikulum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 di bagian Bab I Pasal 1 ayat 19 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 

Tujuan Pembelajaran

 Tujuan merupakan dasar yang dijadikan landasan untuk menentukan strategi, materi, media dan evaluasi pembelajaran. Untuk itu, dalam strategi pembelajaran, penentuan tujuan merupakan komponen yang pertama kali harus dipilih oleh seorang guru, karena tujuan pembelajran merupakan target yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran.

Bahan pelajaran 

 Bahan pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berupa materi yang tersusun secara sistematis dan dinamis sesuai dengan arah tujuan dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat. Menurut Suharsimi (1990) bahan ajar merupakan komponen inti yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran

 Agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, maka dalam menentukan strategi pembelajaran perlu dirumuskan komponen kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran.

Metode

 Metode adalah satu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Penentuan metode yang akan digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya pembelajaran yang berlangsung.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar-mengajar

  Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar, yaitu faktor eksternal dan internal, dan faktor pendekatan belajar.

Faktor eksternal 

Faktor lingkungan sosial, seperti para guru, para tenaga kependidikan (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas masyarakat, dan tetangga.

 Faktor lingkungan nonsosial, seperti gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.

Faktor internal

Aspek Fisiologis (yang bersifat jasmaniah), seperti daya pendengaran dan penglihatan.

Aspek Psiologis (yang bersifat rohaniah), diantaranya yaitu tingkat kecerdasan atau inteligensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, dan motivasi siswa.

Faktor pendekatan belajar

Faktor pendekatan beajar deep

Faktor pendekatan belajar surface

Faktor pendekatan belajar reproductive

  Namun terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi belajar ada banyak jenisnya, tetapi yang ingin dijelaskan di sini adalah faktor yang mempengaruhi belajar dari sisi sekolah yang meliputi: 

Metode mengajar. 

 Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Mengajar itu sendiri menurut Ign. S. Ulih B.Karo (M. Joko, 2006) adalah menyajikan bahan pelajaran kepada orang lain itu diterima, dikuasai dan dikembangkan. Dari uraian di atas jelaslah bahwa metode mengajar itu mempengaruhi belajar.

Kurikulum. 

  Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. kegiatan ini sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Karena kurikulum dianggap sebagai pedoman sekolah atau madrasah, maka kurikulum dalam implementasinya memerlukan beberapa komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Adapun komponen kurikulum meliputi: tujuan, pendidik, peserta didik, isi, prosedur atau strategi, sarana dan prasarana pendidikan dan dukungan masyarakat.

Relasi guru dengan siswa. 

 Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya. 

Relasi siswa dengan siswa.

 Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin, akan diasingkan dari kelompok. Akibatnya makin parah dan dapat minggu belajarnya.

Disiplin sekolah. 

  Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah juga dalam belajar.hal ini mencakup segala aspek baik kedisiplinan guru dalam mengajar karena kedisiplinan pendidik juga dapat memberi contoh bagi siswa atau peserta didik.

 

Strategi Pembelajaran

 Strategi pembelajaran adalah pemikiran dan pengupayan secara strategis dalam memilih, menyusun, memobilisasi, dan mensinergikan segala cara, sarana/ prasarana, dan sumber daya untuk mecapai tujuan. 

 Dilihat dari aspek dimensi pelaksanaan (pada unsur guru sebagai pelaku), strategi pembelajaran adalah keputusan bertindak secara strategis dalam memodifikasi dan menyelesaikan kompone-komponen sistem instruksional untuk lebih mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran. Dilihat dari dimensi pelaksanaan (pada aspek proses belajar-mengajar), strategi pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru-murid dalam peristiwa belajar mengajar (Abimayu, 2008: 122). 

  Mengetahui pola belajar peserta didik adalah modal bagai seorang guru untuk menentukan strategi pembelajaran. Robert M. Gagne (1979) membedakan pola-pola belajar peserta didik ke dalam delapan tipe, yang tiap tipe merupakan prasyarat bagi lainnya yang lebih tinggi hierarkinya.

Belajar Tipe 1: Signal Learning (Belajar Isyarat) 

 Signal learning dapat diartikan sebagai penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary (tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya). Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak dan perangsang-perangsang tertentu secara berulang kali.

Tipe 2: Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus Respon).

 Belajar tipe 2 ini termasuk ke dalam instrumental conditioning atau belajar dengan trial and error (mencoba-coba). Proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor inforcement.

Belajar Tipe 3: Chaining Learning (Belajar Pola Rangkaian)

 Chaining learning adalah belajar menghubungkan satuan ikata SR (Stimulus-Respons) yang satu dengan yang lain. Kondis yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal.

Belajar Tipe 4: Verbal Association (Asosiasi Verbal)

 Baik chaining maupun verbal association, yang kedua tipe belajar ini, menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan lain.

Discrimination Learning (Belajar dengan Pola Membedakan)

 Discrimination learning atau belajar membedakan. Tipe ini peserta didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai.

 

Concept Learning (Belajar Konsep) 

 Concept learning adalah belajar memahami atau membentuk konsep (pengertian). Pembentukan konsep (pengertian) ini didasarkan pada pemahaman terhadap kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek yang dipelajari. Kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.

Rule Learning (Belajar Aturan) 

 Rule learning belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat ini peserta didik belajar membuat kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah kaidah logika formal (induktif, deduktif, sintesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas).

Problem Solving (Pemecahan Masalah) 

 Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini para peserta didik belajar merumuskan memecahkan masalah, memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya. 

https://harianmomentum.com/read/45159/harian-momentum-edisi-21-desember-2022




POST TERKAIT

POST TEBARU