Konsumerisme, Gaya Hidup yang Meracuni Mahasiswa

Tanggal : 27 Oct 2022

Ditulis oleh : DIAH LAELI MAGHFIROH

Disukai oleh : 0 Orang

Di dunia perkuliahan, mahasiswa akan menemui lingkungan baru yang bisa jadi jauh berbeda dari lingkungan asalnya. Hal itu meliputi cara berkomunikasi, makanan, gaya berpakaian, dan sebagainya. Menjadi mahasiswa bagaikan dituntut untuk mengubah gaya hidupnya. Namun, gaya hidup seperti apa yang akan melekat dalam diri seorang mahasiswa? Apakah menguntungkan atau justru merugikan?

Salah satu jenis gaya hidup yaitu konsumerisme. Menurut KBBI konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya. Kemudian konsumerisme juga diartikan sebagai gaya hidup yang tidak hemat. Gaya hidup ini semakin menjalar ke berbagai kalangan. Mulai dari politisi, pengusaha, artis, hingga kaum terpelajar seperti mahasiswa. Telah banyak kita jumpai fenomena-fenomena konsumerisme yang mulai tampak pada sebagian besar mahasiswa.

Tampil sebagai mahasiswa berarti menunjukkan sisi yang lebih dewasa dan berwibawa dibanding saat masih SMA. Kerap kali penampilan seseorang sebagai point yang pertama kali dipandang baru kemudian tingkah laku. Oleh karena itu, agar mendapat first impression yang baik dari orang lain mereka perlu memperhatikan apa yang dikenakannya. Tidak jarang dari mereka yang membeli pakaian, sepatu, hingga tas baru agar tidak ketinggalan tren. Mungkin jika dilakukan sekali dua kali tidak masalah. Namun, telah kita ketahui bersama bahwa tren akan terus berkembang seiring waktu. Akibatnya, minat terhadap barang-barang itu semakin meningkat.

Tidak hanya dari segi fashion. Sisi lain seperti budaya nongkrong di kafe dan belanja di mal pun tidak lepas dari gaya hidup mahasiswa masa kini. Kafe dijadikan tempat yang rutin untuk dikunjungi, entah untuk mengerjakan tugas maupun sekadar duduk-duduk saja. Padahal jika dipikir-pikir, mengerjakan tugas tidak melulu harus di kafe. Di kampus pun tersedia tempat-tempat yang cocok dan tentunya tidak merogoh biaya lebih.

Perilaku-perilaku konsumtif di atas sangat berefek buruk bagi kemajuan mahasiswa yang berperan sebagai moral force. Di mana seharusnya mahasiswa mampu menjadi contoh baik bagi sekitarnya. Namun, malah menampilkan gaya hidup yang sebaliknya. Ada beberapa faktor pemicu perilaku tersebut. Pertama, pengaruh media sosial yang yang menampilkan banyak produk menarik. Di era serba digital ini, mempengaruhi konsumen dengan iklan-iklan yang persuasif sangatlah mudah. Terlebih lagi adanya diskon semakin memikat hati para konsumennya.

Kedua, self-reward dijadikan dalih, sehingga tanpa sadar mereka berperilaku konsumtif. Self-reward ini biasanya berupa membeli makanan enak dan mahal, membeli barang berlebih, dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan self-reward, karena mahasiswa yang identik dengan disibukkan tugas-tugas pun memerlukannya. Namun, setiap hal yang kita lakukan pasti ada batasannya. Begitu pula ketika membelanjakan uang untuk diri sendiri.

Ketiga, pengaruh teman dan sekitar. Lingkungan dan pergaulan cenderung menentukan perilaku dan gaya hidup seseorang. Di mana dan dengan siapa ia bergaul, maka disitulah perilakunya terbentuk. Terlebih lagi kebiasaan mengikuti tren sudah merebak di seluruh penjuru dunia sehingga tingkat konsumsi terhadap suatu barang trendy tidak terkendali. Mirisnya, beberapa orang hanya ikut-ikutan temannya padahal ia biasa hidup minimalis. Selain barang trendy, barang-barang bermerk pun dijadikan sasaran konsumsi karena mempertahankan gengsi.

Konsumerisme diharapkan jangan sampai bertambah di kalangan mahasiswa lantaran dikhawatirkan akan menjadi ‘racun’ yang merugikan mereka. Banyak sekali kerugian yang timbul apabila perilaku konsumtif terus dilakukan, seperti kacaunya keuangan seseorang karena jumlah pengeluaran melebihi batas anggaran. Jika hal itu terjadi, maka diperkirakan orang tersebut tidak mampu mencadangkan dana untuk kebutuhan mendatang. Selain itu, gaya hidup konsumerisme juga dapat memunculkan kecemburuan sosial kepada orang lain. Tak heran, pola hidup orang konsumtif yang membeli barang tanpa perhitungan harga memang sulit diikuti orang yang tidak mampu akan hal itu.

Sumber konsumerisme cenderung pada keinginan yang berlebihan. Apabila, keinginan menjadi prioritas, lantas bagaimana dengan kebutuhan yang semestinya dipenuhi terlebih dahulu? Sebagai mahasiswa sebaiknya mampu mengatur skala prioritasnya, mempertimbangkan pengeluaran, dan mengerem diri terhadap pembelian barang yang tidak diperlukan. Kemudian, jika akan mengapresiasi diri sendiri alangkah baiknya dilakukan dalam jumlah yang cukup dan jangka waktu yang panjang sehingga tidak dikategorikan berlebihan. Selektif dalam memilih pergaulan juga termasuk hal yang harus diperhatikan supaya konsumerisme tidak dijadikan gaya hidup pada diri mereka. Karena sejatinya konsumerisme bukanlah gaya hidup yang baik untuk diterapkan terlebih bagi mahasiswa.

https://m.harianmomentum.com/read/44263/harian-momentum-edisi-27-oktober-2022

 




POST TERKAIT

POST TEBARU