Kontribusi Mahasiswa dalam Menyongsong Pemilu yang Berkualitas

Tanggal : 11 Feb 2024

Ditulis oleh : DHINI NUR HIKMAHWATI

Disukai oleh : 0 Orang

Mahasiswa merupakan sebutan yang ditunjukan bagi mereka yang tengah memimba ilmu di perguruan tinggi. Mahasiswa menjadi salah satu intelektual yang memiliki tempat istimewa dalam masyarakat. Terdapat berbagai prespektif positif masyarkat terhadap mahasiswa. Mahasiswa dinilai sebagai generasi penerus bangsa yang berpendidikan dan mampu memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia. Sehingga sebagai seorang mahasiswa, tentunya memiliki peranan yang tidak kalah penting. Peran mahasiswa yakni sebagai agent of change (pengerak perubahan), social control (kontrol sosial),dan iron stok (penerus bangsa) (Cahyono, 2019).

Mahasiswa juga memiliki peranan penting dalam aspek berpolitik. Terlebih tahun 2024 ini menjadi tahun politik, di mana pesta demokrasi akan diadakan pada 14 Febuhari 2024. Pemilihan umum yang terjadi setiap lima tahun sekali menjadi hal yang ditunggu warga Indonesia. Pasalnya warga Indonesia akan memilih calon pemimpin yang diharapkan dapat merubah negara Indonesia menjadi yang lebih baik lagi. Dengan diadakannya pemilu yang berkualitas tanpa dicederai tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab akan membuat hasil suara warga dapat disalurkan sebagai mana mestinya. Maka, di sinilah mahasiwa juga harus berkontribusi dalam menciptakan pemilu yang berkualitas. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan mahasiwa dalam berkontibusi menciptakan pemilu yang berkualitas.

Pertama, mahasiswa dapat perperan aktif dalam pemilu. Contohnya mahasiswa diterjunkan sebagai pengawas dalam suatu TPS. Tentunya dengan ini, mahasiswa dapat melihat, memantau, mengawasi jalannya proses pemilihan suara. Dengan menjadikan mahasiswa sebagai agen pengawas pemilu 2024, dapat memberikan pengawasan agar data hasil pemungutan suara tidak dimanipulasi. Selain itu, mahasiswa juga memantau gerak-gerik yang mencurigakan seperti pembelian suara dan kecurangan lain. Dan pastinya kecurangan tersebut segera diaporkan pada pihak yang berwewenang.

Kedua, memilih bukan berdasar materi atau kepentingan pribadi, tetapi memilih untuk bangsa. Untuk menciptkan pemilu yang berkualitas, mahasiswa tidak boleh berpolitik praktis dalam pendidikan. Mahasiswa tidak boleh memihak salah satu tokoh secara vulgar. Namun, mahasiswa boleh memberi saran kepada masyarakat karena mahasiswa menjadi agent of change. Mahasiwa dapat terjun secara langsung dalam masyarakat untuk menyosialisasikan kepada mereka untuk memilih capres, cawapres,dan  caleg sesuai hati nurani bukan dari sogokan seseorang. Masyarakat harus benar-benar diberikan pemahaman bahwa satu suara mereka sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Apalagi masyarakat Indonesia adalah kaum-kaum veodak sisa -sisa veodal yang hanya menurut kata pemimpin atau orang petinggi. Sehingga mahasiswa perlu memberikan sosialisasi yang disertai dengan aksi nyata.

Ketiga, mahasiswa dapat mengkampanyekan pemilu melalui sosial media dengan sharing hal-hal yang sifatnya menjunjung tinggi negara dengan membuat slogan- slogan yang berisi netralitas dan menciptakan pemilu yang luberjurdil. Sebenarnya ditahun politik seperti ini, mahasiswa rawan dalam mengkritik pemerintah atau bahkan hanya sekedar mengutarakan pendapat mereka kepada para calon pemimpin terhadap kekurangan yang ada di Indonesia. Namun setiap orang dapat menyuarakan pendapat. Kebebasan menyuarakan pendapat ini dilindungi UUD pasal 28 tentang perlindungan HAM. Hal yang perlu diperhatikan, mahasiswa dapat menyuarakan kritik tapi tidak boleh mencederai Undang- Undang dan tidak boleh anarkis, sehingga kritik hanya dijadikan cek bales pemerintah agar orang yang dikritik tidak akan berada di zona nyaman. Dan selanjutnya para calon pemimpin dapat lebih memperbaiki hal tersebut. Oleh karena itu, jika terjadi aposisi maka demokrasi terjadi dengan baik.

Terakhir, mahasiswa dapat berperan dengan memberikan suara hak pilihnya dan jangan sampai golput. Mahasiswa harus mampu memilih calon presiden beserta wakil presiden juga lembaga legislatif yang berkualitas dan bukan berdasarkan aspek popularistas. Namun hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih calon dengan meninjau dengan kapabilitas, yakni berkaitan dengan kemampuan calon pemimpin untuk memikiran atau mengemukaan gagasan terhadap apa yang akan dilakukan selama memimpin. Selain itu, mahaiswa tidak boleh memiliki tendensi apapun yang berdasar membakingi salah satu tokoh. Sebagai mahasiwa, harus merahasiakan hak pilih kita terhadap orang lain, dan mahasiwa tidak boleh memaksakan pilihannya dengan teman sesama mahasiswa atau saling memengaruhi.

Hal yang menjadi permasalahan, mahasiswa perantauan lebih memilih golput daripada kerepotan pulang ke kampung halaman. Padahal pesta demokrasi dapat dilakukan di tempat mereka singgah dengan mengurus beberapa persyaratan pemindahan TPS. Namun, karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan mengenai tata cara mengurus dan berkas apa saja yang diperlukan dalam pemindahan tempat pemilihan suara, mahasiwa menjadi malas dan lebih memilih untuk golput.

Peranan mahasiwa dalam menciptakan pemilu 2024 yang berkualitas sangatlah diperlukan. Mahasiwa harus aktif kontribusi dalam pemilu. Peranan tersebut seperti mahasiswa dapat dijadikan agen pengawas di TPS, mengkampanyekan pemilu yang menjunjung netralitas, dan mahasiswa dapat mengkritik kekurangan pemerintahan saat ini agar dipemerintahan selanjutnya dapat diperbaiki. Hal yang tak kalah penting, mahasiswa harus mampu memilih calon pemimpin yang berkualitas dengan memberikan suaranya kepada orang yang dianggap mampu memajukan bangsa. Mahasiswa perantuan juga tetap harus memberikan suaranya sebagai wujud ikut berpartisipasi terhadap pemilihan umun 2024.

Mahasiswa merupakan sebutan yang ditunjukan bagi mereka yang tengah memimba ilmu di perguruan tinggi. Mahasiswa menjadi salah satu intelektual yang memiliki tempat istimewa dalam masyarakat. Terdapat berbagai prespektif positif masyarkat terhadap mahasiswa. Mahasiswa dinilai sebagai generasi penerus bangsa yang berpendidikan dan mampu memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia. Sehingga sebagai seorang mahasiswa, tentunya memiliki peranan yang tidak kalah penting. Peran mahasiswa yakni sebagai agent of change (pengerak perubahan), social control (kontrol sosial),dan iron stok (penerus bangsa) (Cahyono, 2019).

Mahasiswa juga memiliki peranan penting dalam aspek berpolitik. Terlebih tahun 2024 ini menjadi tahun politik, di mana pesta demokrasi akan diadakan pada 14 Febuhari 2024. Pemilihan umum yang terjadi setiap lima tahun sekali menjadi hal yang ditunggu warga Indonesia. Pasalnya warga Indonesia akan memilih calon pemimpin yang diharapkan dapat merubah negara Indonesia menjadi yang lebih baik lagi. Dengan diadakannya pemilu yang berkualitas tanpa dicederai tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab akan membuat hasil suara warga dapat disalurkan sebagai mana mestinya. Maka, di sinilah mahasiwa juga harus berkontribusi dalam menciptakan pemilu yang berkualitas. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan mahasiwa dalam berkontibusi menciptakan pemilu yang berkualitas.

Pertama, mahasiswa dapat perperan aktif dalam pemilu. Contohnya mahasiswa diterjunkan sebagai pengawas dalam suatu TPS. Tentunya dengan ini, mahasiswa dapat melihat, memantau, mengawasi jalannya proses pemilihan suara. Dengan menjadikan mahasiswa sebagai agen pengawas pemilu 2024, dapat memberikan pengawasan agar data hasil pemungutan suara tidak dimanipulasi. Selain itu, mahasiswa juga memantau gerak-gerik yang mencurigakan seperti pembelian suara dan kecurangan lain. Dan pastinya kecurangan tersebut segera diaporkan pada pihak yang berwewenang.

Kedua, memilih bukan berdasar materi atau kepentingan pribadi, tetapi memilih untuk bangsa. Untuk menciptkan pemilu yang berkualitas, mahasiswa tidak boleh berpolitik praktis dalam pendidikan. Mahasiswa tidak boleh memihak salah satu tokoh secara vulgar. Namun, mahasiswa boleh memberi saran kepada masyarakat karena mahasiswa menjadi agent of change. Mahasiwa dapat terjun secara langsung dalam masyarakat untuk menyosialisasikan kepada mereka untuk memilih capres, cawapres,dan  caleg sesuai hati nurani bukan dari sogokan seseorang. Masyarakat harus benar-benar diberikan pemahaman bahwa satu suara mereka sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Apalagi masyarakat Indonesia adalah kaum-kaum veodak sisa -sisa veodal yang hanya menurut kata pemimpin atau orang petinggi. Sehingga mahasiswa perlu memberikan sosialisasi yang disertai dengan aksi nyata.

Ketiga, mahasiswa dapat mengkampanyekan pemilu melalui sosial media dengan sharing hal-hal yang sifatnya menjunjung tinggi negara dengan membuat slogan- slogan yang berisi netralitas dan menciptakan pemilu yang luberjurdil. Sebenarnya ditahun politik seperti ini, mahasiswa rawan dalam mengkritik pemerintah atau bahkan hanya sekedar mengutarakan pendapat mereka kepada para calon pemimpin terhadap kekurangan yang ada di Indonesia. Namun setiap orang dapat menyuarakan pendapat. Kebebasan menyuarakan pendapat ini dilindungi UUD pasal 28 tentang perlindungan HAM. Hal yang perlu diperhatikan, mahasiswa dapat menyuarakan kritik tapi tidak boleh mencederai Undang- Undang dan tidak boleh anarkis, sehingga kritik hanya dijadikan cek bales pemerintah agar orang yang dikritik tidak akan berada di zona nyaman. Dan selanjutnya para calon pemimpin dapat lebih memperbaiki hal tersebut. Oleh karena itu, jika terjadi aposisi maka demokrasi terjadi dengan baik.

Terakhir, mahasiswa dapat berperan dengan memberikan suara hak pilihnya dan jangan sampai golput. Mahasiswa harus mampu memilih calon presiden beserta wakil presiden juga lembaga legislatif yang berkualitas dan bukan berdasarkan aspek popularistas. Namun hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih calon dengan meninjau dengan kapabilitas, yakni berkaitan dengan kemampuan calon pemimpin untuk memikiran atau mengemukaan gagasan terhadap apa yang akan dilakukan selama memimpin. Selain itu, mahaiswa tidak boleh memiliki tendensi apapun yang berdasar membakingi salah satu tokoh. Sebagai mahasiwa, harus merahasiakan hak pilih kita terhadap orang lain, dan mahasiwa tidak boleh memaksakan pilihannya dengan teman sesama mahasiswa atau saling memengaruhi.

Hal yang menjadi permasalahan, mahasiswa perantauan lebih memilih golput daripada kerepotan pulang ke kampung halaman. Padahal pesta demokrasi dapat dilakukan di tempat mereka singgah dengan mengurus beberapa persyaratan pemindahan TPS. Namun, karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan mengenai tata cara mengurus dan berkas apa saja yang diperlukan dalam pemindahan tempat pemilihan suara, mahasiwa menjadi malas dan lebih memilih untuk golput.

Peranan mahasiwa dalam menciptakan pemilu 2024 yang berkualitas sangatlah diperlukan. Mahasiwa harus aktif kontribusi dalam pemilu. Peranan tersebut seperti mahasiswa dapat dijadikan agen pengawas di TPS, mengkampanyekan pemilu yang menjunjung netralitas, dan mahasiswa dapat mengkritik kekurangan pemerintahan saat ini agar dipemerintahan selanjutnya dapat diperbaiki. Hal yang tak kalah penting, mahasiswa harus mampu memilih calon pemimpin yang berkualitas dengan memberikan suaranya kepada orang yang dianggap mampu memajukan bangsa. Mahasiswa perantuan juga tetap harus memberikan suaranya sebagai wujud ikut berpartisipasi terhadap pemilihan umun 2024.




POST TERKAIT

POST TEBARU