Membudayakan Dolanan Anak
Tanggal : 24 Sep 2021
Ditulis oleh : NURUL UMAH
Disukai oleh : 0 Orang
Permainan tradisional atau sering disebut dolanan anak merupakan salah satu ragam kebudayaan dan aset bangsa. Ratusan bahkan ribuan permainan tradisional ada di Indonesia. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad Zaini Alif pada tahun 2005 bahwa terdapat 2.600 jenis permainan tradisional di nusantara. Permainan tradisional juga merupakan salah satu ciri khas dari masing-masing daerah. Karena permainan tradisional ada sebagai hasil kebudayaan masyarakat setempat. Bahkan dahulu permainan tradisional dianggap sebagai persembahan dan pengabdian untuk negeri.
Namun, saat ini keberadaan permainan tradisional sudah tergeser oleh permainan online. Padahal sebelum hadirnya teknologi, permainan tradisional acdalah pelangi yang mewarni kehidupan anak-anak Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa di era globalisasi ini anak-anak lebih menyukai permaian modern yang berbau digital. Hampir seluruh anak mulai dari usia dini sudah memainkan game online. Hal ini sejalan dengan tingginya penggunaan smartphone di Indonesia. Berdasarkan data dari Newzoo pengguna smartphone di Indonesia mencapai 82 juta lebih dan sebagian besar penggunanya adalah anak-anak.
Anak zaman sekarang cenderung lebih menyukai permainan online seperti mobile legend. Bahkan Operational Manager Moonton Indonesia pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa pengguna aktif bulanan Mobile Legend saat ini mencapai 50 juta. Indonesia merupakan kontributor terbesar dari seluruh negara di dunia. Tingginya pengguna permainan ini karena tidak perlu kemana-mana untuk memainkannya. Selain itu, sebagian besar orang tua saat ini sudah tidak memperhatikan permainan anak. Jadi tidak heran mengapa permainan tradisional semakin tenggelam di tengah arus globalisasi.
Padahal, di dalam permainan tradisional terkandung banyak sekali nilai-nilai kehidupan. Seperti nilai kejujuran, kerja sama, menghargai sesama dan disiplin waktu. Bahkan permainan tradisonal dapat melatih kecepatan, ketangkasan, dan kecerdasan anak. Permainan tradisional secara tidak langsung juga mengasah kreativitas anak. Misalnya saat bermain kapal-kapalan dari kulit jeruk bali. Anak dilatih untuk berpikir kreatif memanfaatkan benda di sekitar menjadi mainan. Berbeda dengan permainan modern yang harus membeli mahal dan menimbulkan sifat konsumtif pada anak.
Mengingat banyaknya nilai positif yang terkandung di dalamnya, maka kita perlu mebudayakan permainan tradisional pada anak. Agar anak-anak mengenal warisan kebudayaan bangsa sendiri bukan dari bangsa lain. Melestarikan permainan tradisional juga merupakan bentuk cinta tanah air. Karena pada hakikatnya, permainan tradisional adalah tradisi yang dibawa oleh para leluhur. Jika kita meninggalkan tradisi yang telah ada sejak dulu sama saja kita tidak menghargai jasa leluhur. Tidak bisa dipungkiri Indonesia dapat seperti sekarang juga berkat perjuangan para pahlawan dan leluhur yang ikut memerangi penjajah.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bahwa permainan tradisional harus terus dilestarikan. Sebagai salah satu upaya menambah pengetahuan anak Indonesia tentang kearifan lokal. Kemendikbud juga turut berkontribusi dalam menghidupkan kembali permainan tradisional di tengah masyarakat modern. Bahkan Kemendikbud menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) sebagai wadah unuk mengenalkan permainan tradisional yang ada di Indonesia. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Kongres Kebudayaan yang telah dilakukan pada tahun 2018. Melalui Pekan Kebudayaan Nasional ini setiap daerah dapat menampilkan permaian tradisional khas daerahnya masing-masing.
Adanya program ini menjadi media interaksi budaya serta memberi ruang kepada masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan, pelestarian, dan pemanfaatan kekayaan budaya. Selain itu, di sekolah-sekolah juga perlu memasukan permainan tradisional ini ke dalam pembelajaran seni budaya. Agar pengetahuan siswa mengenai permainan tradisional semakin mendalam. Sehingga rasa cinta akan budaya Indonesia akan tumbuh dengan sendirinya. Disini orang tua juga memiliki tugas untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak. Akan tetapi, kebanyakan orang tua zaman sekarang justru mengenalkan gadget kepada anaknya.
Selain itu, membudayakan permainan tradisional pada anak juga dapat dilakukan melalui perlombaan saat acara HUT Kemerdekaan. Moment ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali permainan tradisional. Karena 17 Agustus adalah hari kemerdekaan Indonesia dan hari dimana masyarakat mengingat jasa para pahlawan kemerdekaan. Disini kita dapat menyelipkan permainan-permainan tradisional sebagai ajang perlombaan. Disamping mendapat nilai kegembiraan kita juga mendapat nilai moral yang ada di dalam permainan tradisional tersebut.
Mengadakan kampanye online secara nasional untuk mengenalkan permainan tradisional atau dolanan anak juga salah satu cara yang efektif untuk melestarikannya. Kecanggihan teknologi yang ada saat ini memungkinkan kita untuk bertatap muka virtual dengan orang dari seluruh daerah Indonesia. Melalui kegiatan ini dapat membantu masyarakat untuk mengenal lebih dalam permainan tradisional yang ada di Indonesia tanpa harus pergi kemana-mana. Cara ini dapat meningkatkan rasa cinta terhadap permainan tradisional (dolanan anak). Kampanye ini memberi ruang bagi keberagaman budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memperkokoh kebudayaan yang inklusif.
Permainan tradisional adalah bukti dari kekayaan budaya dan aset bangsa. Jika tidak dikenalkan pada anak sejak dini, di masa yang akan datang permainan tradisional menjadi barang asing. Anak cucu kita nantinya tidak dapat merasakan kekayaan warisan kebudayaan bangsa sendiri. Kebudayaan Indonesia akan digeser oleh kebudayaan bangsa lain. Oleh karena itu, seluruh lapisan perlu bekerja sama dalam upaya membudayakan permainan tradisional pada anak di tengah globalisasi ini. Agar kekayaan bangsa ini tetap lestari dan dikenal masyarakat meski di zaman modern sekalipun.
Koran : Mata Banua
Link : https://matabanua.co.id/2021/09/23/e-paper-harian-pagi-mata-banua-kamis-23-september-2021/