Menanamkan Kesadaran Pentingnya Pendidikan Seksual

Tanggal : 23 May 2025

Ditulis oleh : ALYA FAIZA RAFIF

Disukai oleh : 0 Orang

Kasus kekerasan seksual sudah tidak jarang lagi kita dengar saat ini, setiap tahunnya ada puluhan atau bahkan ratusan kasus kekerasan seksual pada anak telah diadukan pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Belum lama ini KPAI menerima 265 kasus kekerasan seksual pada anak, 53 diantaranya telah dilakukan pengawasan. Jumlah sisanya dirujuk ke lembaga layanan untuk mendapatkan pendampingan dan penanganan lebih lanjut. 

Tujuh kasus diantaranya terjadi di lembaga pendidikan atau lembaga pengasuhan alternatif. Salah satu faktor penyebab maraknya kasus kekerasan seksual pada anak adalah Keterbatasan lembaga layanan di daerah, terutama di wilayah 3T, serta minimnya tenaga profesional mengakibatkan anak-anak kurang mendapatkan dukungan pendampingan dan rehabilitasi yang memadai.

Di Indonesia pendidikan seks masih sering dianggap tabu. Masih banyak orang tua dan masyarakat yang keliru akan arti dari pendidikan seks. Mereka masih menganggap pendidikan seks akan membawa hal-hal negatif seperti pornografi dan akan mengajarkan hal-hal yang mungkin anak-anak akan ketahui setelah mereka menikah. 

Karenanya mereka menganggap pendidikan seks adalah sesuatu yang tidak perlu diajarkan pada anak-anak. Padahal anggapan ini sangat keliru, akibat tidak adanya pendidikan seks, siswa sering kali tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang tubuh mereka sendiri, batasan privasi, dan cara melindungi diri dari kekerasan seksual atau informasi menyesatkan di media sosial.

Ketika pendidikan seksual tidak diajarkan secara formal dan sehat, maka yang ditakutkan adalah siswa tersebut mungkin saja ingin mencari tahu sendiri dari internet yang mungkin tidak benar atau menyesatkan dan bisa saja malah menjadi salah pemahaman. Parahnya saat kasus kekerasan seksual terjadi, beberapa orang ada yang menyalahkan si korban tersebut, tapi jarang orang yang berfikir bahwa edukasi akan hal ini perlu diadakan di satuan pendidikan. Maka perlu adanya hal yang bisa mengubah cara pandang Masyarakat tentang pendidikan seksual.

Faktanya pendidikan seksual bukanlah pembahasan seperti hubungan intim, tapi lebih dari itu. Pendidikan ini mencakup tentang kebersihan diri, masa-masa pubertas, Batasan privasi pada diri sendiri, dan cara menghargai diri sendiri serta orang lain. Semua Itu penting diajarkan sejak dini, tentunya materi yang diberikan disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Tanpa pemahaman dan pendampingan yang tepat, anak-anak terutama di usia remaja akan mudah menjadi korban kekerasan anak, perundungan atau bahkan eksploitasi anak di dunia digital.

Beberapa negara seperti Belanda, Finlandia dan beberapa negara asia seperti Malaysia dan Tiongkok juga sudah menerapkan pendidikan seksual sejak usia dini. Belanda bahkan mewajibkan pendidikan seks dimulai dari usia 4 tahun, sementara Finlandia telah mengintegrasikan pendidikan seksual dalam kurikulum sekolah sejak tahun 1970. Hasilnya, negara-negara tersebut memiliki tingkat kehamilan remaja dan kasus pelecehan yang jauh lebih rendah dibanding negara-negara yang masih menganggap seksualitas sebagai hal yang harus ditutup rapat-rapat. 

Di Indonesia terkadang anak-anak masih bingung jika mengalami perubahan fisik atau tanda-tanda pubertas mereka harus bertanya. Karena mereka merasa malu dan akhirnya mereka mencoba mencari tahu sendiri dan hal itu bisa berdampak pada salah pemahaman atau pengaruh negatif media lainnya. Maka dari itu, pendidikan seksual yang benar, ilmiah, dan empatik menjadi sangat penting. Ini bukan soal kebebasan tanpa batas, melainkan perlindungan dan pembekalan agar anak-anak tumbuh dengan kesadaran penuh tentang hak atas tubuh mereka sendiri.

Meskipun penting, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan seks masih memiliki banyak tantangan, salah satunya seperti yang sudah disinggung di awal pembahasan, yaitu masih banyak orang beranggapan pendidikan seks adalah hal yang tabu untuk diajarkan, guru juga merasa kurang nyaman saat menjelaskan, ini mungkin karena kurangnya pengetahuan dan pelatihan yang cukup dalam menyampaikan materi ini dengan benar. Selain itu, sebagian orang tua juga menolak hal ini karena mereka beranggapan aka mereka akan menjadi “cepat tahu.” Padahal ketidak tahuanlah yang bisa membawa mereka ke arah yang salah.

Solusi untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan pendekatan holistic dan berbasis nilai. Sebagai perumpamaan, pendidikan seksual bisa dimasukkan ke dalam kurikulum Pendidikan secara bertahap, hal ini tentunya disesuaikan dengan usia peserta didik. Misalnya mengenalkan bagian tubuh dan batas privasi sejak SD, lalu pubertas dan hubungan sehat di jenjang SMP dan SMA karena di masa-masa inilah anak-anak mulai mengenal lawan jenis mereka. Guru juga perlu mendapatkan pelatihan agar dapat menyampaikan materi ini dengan kata-kata yang enak didengar, secara sistematis dan juga ilmiah. 

Di sisi lain peran orang tua juga sangat penting, sebelumnya orang tua dan sekolah bisa berdiskusi agar orang tua tidak salah pemahaman tentang adanya pendidikan seksual ini, peran orang tua juga sangat penting dalam memberikan pengertian pada anak dirumah. Dengan pendekatan yang terbuka, bertahap, dan penuh empati, pendidikan seksual bukan hanya mungkin diterapkan, tapi juga menjadi kekuatan untuk melindungi generasi muda.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap pendidikan seksual sebagai sesuatu yang tabu dan tidak cocok untuk diajarkan. Justru karena tidak dibicarakan dengan cara yang sehat dan terbuka, anak-anak dan remaja Indonesia menjadi mudah terkena kasus kekerasan, pelecehan, dan penyimpangan informasi. Pendidikan seksual yang benar bukan mengajarkan kebebasan tanpa batas, melainkan membekali peserta didik untuk memahami tubuh mereka, menjaga batasan privasi mereka, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab. 

Ini bukan sekadar persoalan kurikulum, tapi juga kesadaran kolektif, bahwa menjaga generasi muda tidak cukup hanya dengan larangan dan rasa malu, tapi dengan ilmu dan ruang diskusi yang terbuka. Karena pada akhirnya, pendidikan seksual bukan kontroversi, melainkan langkah pasti untuk membangun masa depan yang aman, sehat, dan penuh empati.




POST TERKAIT

POST TEBARU