Mencari Jalan Tengah Atas Maraknya Mental yang Lemah

Tanggal : 19 Dec 2023

Ditulis oleh : MAYA INDRA PRATIWI

Disukai oleh : 1 Orang

Manusia diciptakan dengan pemberian fitrahnya, yakni menginginkan kehidupan yang bahagia, damai, dan sejahtera, baik secara pribadi maupun dalam kelompok. Dalam upaya merealisasikan keinginan-keinginan tersebut, kesehatan mental memegang peranan yang sangat penting didalam kehidupan setiap individu. Jika dilihat dari UU Nomor 18 Tahun 2014 mengenai Kesehatan Jiwa, kesehatan jiwa atau mental merupakan kondisi dimana individu dapat berkembang baik secara fisik, mental, spiritual, dan juga sosial. Sehingga dapat menyadari kemampuan yang dimilikinya untuk mengatasi tekanan dalam bekerja secara produktif, serta mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Di era sekarang maraknya desas-desus tentang meningkatnya ketidakstabilan mental sudah menjadi rahasia umum yang diperbincangkan oleh setiap kalangan. Kasus peregangan nyawa yang terjadi kerap kali dipicu oleh kondisi ketidakmampuan seseorang dalam menyepadankan dirinya dengan lingkungan sekitarnya, sehingga menyebabkan tekanan berlebih yang membuatnya merasa down dan tidak kuat atas problematika yang sedang ia hadapi, yang kemudian berakhir dengan cara meregang nyawa ditangan sendiri semata-mata dianggap sebagai jalan keluar untuk mendapatkan ketenangan bathiniyah. Namun, tentu saja perbuatan tersebut sangat amat fatal dan tidak dibenarkan dalam kehidupan ini. Seseorang harus bertahan di dunia ini sampai nyawanya diambil oleh penciptanya sendiri. Beberapa ciri-ciri ketidakstabilan mental adalah stress dan kecemasan yang berkepanjangan, sehingga menimbulkan dampak terhadap terhambatnya aktivitas dan menurunnya kualitas fisik seseorang. Lantas bagaimana jalan tengah bagi orang yang sedang mengalami ketidakstabilan mental? Seseorang yang mentalnya sedang tidak stabil seperti merasa tertekan, tepuruk atau mungkin merasa berada di titik terendah sebaiknya perlu didampingi oleh pakar atau lembaga khusus yang sudah berkecimpung didunia kesehatan terkhusus di bidang kejiwaan. Karena sejatinya seseorang dalam kondisi mental yang tidak stabil sangat membutuhkan seorang pendengar baik, serta bisa memberikan solusi atas permasalahan yang ia hadapi tanpa adanya judgement atau penilaian yang semakin memperburuk kondisi kesehatan mentalnya. Mengutip perkataan Nadin Hamizah seorang penyanyi sekaligus penulis lagu, bahwa semua manusia juga perlu dirayakan. Maksud dirayakan disini yaitu setiap manusia berhak diterima kehadirannya, dihargai, bahkan diapresiasi atas semua hasil dan pencapaian yang telah ia lakukan. Perayaan disini tidak melulu dengan seseorang. Namun manusia bisa merayakan dirinya sendiri seperti self reward atau pengapresian diri. Karena dengan hal tersebutlah manusia dinilai menghargai keberadaan mentalnya serta pereda atau pengistirahatan diri setelah melalui tekanan yang pernah terjadi. Menjalani kehidupan terbaik versi diri sendiri merupakan impian banyak orang. Namun selalu ada kendala untuk bisa menjalani versi terbaik tersebut, salah satunya menyamakan kehidupannya dengan kehidupan yang dimiliki orang lain. Oleh karena itu, menyamakan kehidupanmu dengan orang lain yang kamu anggap lebih baik sebenarnya sangat tidak wajar. Mengenai penyamaan kehidupan seseorang dengan orang lain yang dianggap lebih baik daripada kehidupan sendiri ini juga utarakan oleh psikolog Jovita Maria Ferliana yaitu. "Ukuran kebahagiaan yang dimiliki seseorang dengan orang lain itu pasti berbeda tidak bisa disama-ratakan, dan tentu saja kehidupan yang dimiliki mempunyai standarnya terbaik masing-masing,". Kamu adalah pemegang tahta tertinggi dalam kehidupan yang kamu jalani sekarang. Kenali siapa dirimu dan apa yang membuatmu bahagia, jalani hal-hal yang kamu sukai secara sadar tanpa ada paksaan dari orang lain. Ketika kamu mampu untuk menjaga kestabilan mentalmu, maka kamu akan dengan mudah menjalani tantangan yang ada didalam kehidupan ini. Tetaplah hidup untuk memperjuangkan semua impianmu.


POST TERKAIT

POST TEBARU