Mengatasi Mental Illness dengan Self Healing
Tanggal : 14 Oct 2021
Ditulis oleh : ELISA INTAN MASFUFAH
Disukai oleh : 0 Orang
Semenjak pembelajaran dari rumah ditetapkan oleh pemerintah guna memutus rantai penularan Covid-19 memicu adanya mental illness terhadap para pelajar. Mental illness merupakan gangguan mental yang mengarah terhadap suatu kondisi mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan, suasana hati. Maka, kesehatan mental para pelajar penting untuk diperhatikan terutama masa pandemi Covid-19.
Masalah gangguan mental dapat disebabkan faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Faktor biologis didapati usia remaja umumnya mengalami emosi yang tak terkendali dan lebih sensitif. Lingkungan sekolah secara daring dapat memicu gangguan mental para pelajar. Hal ini dikarenakan kegiatan sekolah dialihkan di rumah, sehingga kadar untuk bersosialisasi dan bermain berkurang ditambah kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat.
Adapun ciri-ciri umum penderita gangguan mental antara lain emosi tidak stabil, pemurung, rasa sedih tanpa sebab, kecemasan, dan gelisah, Bahkan, berkeinginan mengakhiri hidupnya. Gangguan mental ini menyulitkan seseorang terlebih dalam sosialisasi masyarakat ditambah adanya media sosial sebagai tempat bebas berekspresi. Karenanya, para pelajar rentan menjadi korban bullying yang dapat memicu gangguan mental. Para pelajar justru menarik diri dari dunia, sulit bergaul, overthinking, dan insecure.
Studi American Psychological Association menyatakan bahwa wanita lebih rentan mengalami gangguan mental. Mengapa demikian? Kodrati wanita dikenal makhluk perasa. Istilah zaman sekarang baper atau bawa perasaan. Hal ini terkait dalam mental health seorang wanita jika dipendam atau disimpan sendiri berakhir menyalahkan diri sendiri seakan menjadi orang paling gagal didunia.
Lantas, bagaimana peran keluarga dalam menghadapi mental illness yang menyerang anak-anak sekolah? Keluarga merupakan lingkup paling dekat. Keterbukaan antar anggota keluarga dibutuhkan dalam menjaga keharmonisan keluarga. Sebagai orang tua harus memahami pola pikir anak yang berbeda dengan kemauan orang tua.Tak jarang kemauan anak dan orang tua berbeda terlebih masalah perkuliahan.
Pertengkaran dalam keluarga berimbas pada beban mental anak. Maka, keluarga diharapkan memberikan energi positif terhadap anak dengan menjaga komunikasi yang menjaga perasaan anak. Untuk menghadapi gangguan mental para pelajar dapat dilakukan dengan pendekatan rohani terhadap masalah kesehatan mental. Masalah kita tergantung cara kita menanggapi dan merespons. Contohnya ada pelajar yang tetap enjoy ketika tugas sekolah numpuk dan anak yang stres akibat kebanyakan tugas bahkan respons tubuh sampai jatuh sakit. Maka, jangan menyalahkan keadaan. Mengenai pendekatan rohani kita harus yakin bahwa semua masalah berasal dari tuhan dan yakin setiap jalan solusi dipermudah asal tidak putus asa.
Penderita mental illness cenderung dikucilkan oleh masyarakat bahkan menjadi bahan pembicaraan. Tentu hal tersebut tidak dibenarkan. Seharusnya kita harus menjadi support system mengajak penderita dalam kegiatan positif, menjadi pendengar dan penasihat baik menampung keluh kesahnya. Self healing menjadi jalan para penderita mental illness yang berusaha melawan penyakit mentalnya. Self healing dapat dilakukan dengan menerima diri kita terlebih dahulu tanpa menuntut lebih, memaafkan diri sendiri, belajar sebisanya jangan memaksakan, jangan merasa kegagalan adalah kematian.
Selain itu, tanamkan dalam diri kita jangan takut, insecure, minder dengan kemampuan teman. Yakin bahwa setiap makhluk diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ingat jangan fokus masalahnya, fokus terhadap solusinya. Jangan jadikan masalah sebagai beban tetapi jadikan masalah sebagai tantangan. Dalam menyelesaikan masalah kita sebagai kaum wanita diperbolehkan meniru cara laki-laki dalam menghadapi masalah. Bodo amat, easy going, santai, apapun masalahnya. Tentunya bukan dengan adu fisik. Tetapi dalam menyelesaikan masalah kita harus berani, smart, dan pastinya keadaan kepala dingin.
Koran: Harian Momentum
http://m.harianmomentum.com/read/37050/harian-momentum-14-oktober-2021
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial