Menghadapi Dunia Digital dengan Sikap Self-Compassion

Tanggal : 02 Dec 2021

Ditulis oleh : LEGENDARIA RAULA SAPUTRI

Disukai oleh : 1 Orang

Menghadapi Dunia Digital dengan Sikap Self-Compassion

Oleh: Legendaria Raula Saputri

Mahasiswa Pendidikan Kimia

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Memasuki era digital, jumlah pengguna internet di Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya. Dunia digital sangat dibutuhkan bahwa proses percepatan kebutuhan sangat penting serta sebagai alat pemuas kebutuhan dan penghibur bagi yang mengalami depresi setelah melakukan karir individu. Namun, adanya dampak pada menggunakan digital/teknologi informasi secara berlebihan dan bisa meningkat penyakit mental seperti kecanduan.

Menilik tingginya jumlah remaja yang menggunakan internet serta tingginya minat penggunaan media sosial di Indonesia, tampaknya penting untuk memperhatikan secara seksama dampak dari hal-hal tersebut. Fenomena cyberbullying salah satunya. Berdasarkan survei yang dilakukan APJII (2019), sebanyak 49% pengguna internet mengaku pernah di-bully di media sosial dan 31,6% membiarkan saja perilaku cyberbullying tersebut.

Tingginya angka cyberbullying seharusnya membuat kita prihatin. Media sosial berfokus pada self-branding daripada menerima diri sendiri. Media sosial mendorong seseorang tampil sempurna untuk dinilai oleh orang lain. Harga diri seseorang dapat dengan cepat diukur dari jumlah suka, pengikut, jumlah teman, komentar alih-alih berfokus pada nilai. Sehingga individu berlomba-lomba untuk menampilkan diri sendiri lebih baik dari orang lain.

 Individu dengan tingkat self-compassion yang lebih tinggi cenderung untuk menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam mengalami emosi yang memicu stres, termasuk di media sosial, dan cenderung untuk tidak memikirkan kekurangan-kekurangan yang mereka miliki. Self-compassion berfungsi untuk menumbuhkan self-kindness dan perasaan sayang pada diri dan juga tubuh, serta kemampuan untuk menghadapi ancaman atau stressor dari lingkungan (salah satunya adalah tekanan dalam berpenampilan) dengan cara yang tidak menghakimi.

Selain itu, self-compassion membantu individu mengatur pikiran dan perasaan mereka untuk menerima dan tidak menghakimi terkait dengan citra tubuh, juga membantu mengurangi frekuensi individu dalam membandingkan penampilan mereka dengan orang lain. Berbagai penelitian membuktikan bahwa self-compassion memberikan berbagai macam manfaat dalam kesehatan mental seperti berkurangnya depresi, berkurangnya gangguan kecemasan, berkurangnya perfeksionisme yang neurotik, serta meningkatnya kepuasan hidup.

Individu dengan self-compassion yang tinggi cenderung lebih adaptif dalam menghadapi pengalaman buruk. Self-compassion dapat mengurangi keadaan emosional yang mengganggu yang dihasilkan dari penggunaan media sosial dengan meningkatkan kesadaran akan pikiran dan perasaan yang menyakitkan.

Meninjau banyaknya manfaat yang didapatkan dari self-compassion yang tinggi pada diri seseorang, maka tampaknya penting untuk meningkatkan self-compassion. Meningkatkan self-compassion tentu dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk para remaja. Dalam kasus cyberbullying, self-compassion dapat menjadi salah satu strategi untuk mengatasinya. peningkatan self-compassion bisa dilakukan bermacam-macam pertemuan yang bisa dilakukan seperti pelatihan-pelatihan, layanan konseling, layanan medis khususnya bagian tentang behavior manusia (psikis). 

Peningkatan self-compassion bisa dilakukan pada problematika pada siswa yang mengalami kecanduan pada teknologi informasi seperti sosial media yang merupakan dampak negatif bagi psikis individu. Adapun pemberian peningkatan tersebut dilakukan bermacam-macam proses pertemuan serta pemberian solusi bagi siswa seperti terapi behavior seperti dengan pendekatan konseling yaitu cognitive behavior therapy.

Fenomena cyberbullying yang merebak di era digital yang serba mudah dan cepat ini menimbulkan kekhawatiran terkait dampak psikologis yang diterima korban, seperti depresi dan kecemasan. Hal ini khususnya pada remaja yang tingkat penggunaan media sosialnya tinggi dan di saat bersamaan tengah berada dalam masa pencarian identitas diri.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak gangguan psikologis yang mungkin muncul adalah dengan meningkatkan self-compassion, yakni berbaik hati pada diri sendiri meskipun sedang mengalami pengalaman buruk berupa cyberbullying atau permasalahan hidup lainnya, karena pada dasarnya kehidupan itu rentan dengan problematika.

Kehadiran media sosial di satu sisi memang menawarkan berbagai kemudahan bagi para penggunanya untuk mengakses dan men-share informasi secara cepat, mudah, dan murah. Namun, di sisi lain, ketika penggunaan media sosial berkembang makin liar dan keluar dari batas-batas norma, risiko yang terjadi ialah munculnya keresahan dan bahkan tidak mustahil munculnya konflik yang manifes di masyarakat.

Link Koran: https://matabanua.co.id/2021/12/02/e-paper-harian-pagi-mata-banua-kamis-2-desember-2021/




POST TERKAIT

POST TEBARU