Menjadikan Pembelajaran Kimia Lebih Interaktif dengan Perkembangan Teknologi Augmented Reality (AR)
Tanggal : 31 Jul 2024
Ditulis oleh : HENI INDRI RAHAYU
Disukai oleh : 1 Orang
Semenjak diterapkannya pembelajaran daring ketika terjadi wabah COVID-19, para peneliti bidang pendidikan memutar otak untuk membuat media pembelajaran daring yang lebih menyenangkan bagi siswa dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Bukan hanya dirasakan oleh siswa saja dampaknya, tentunya guru juga dapat terfasilitasi dengan perkembangan media belajar berbasis teknologi, salah satunya adalah Augmented Reality (AR). Teknologi Augmented Reality (AR) merupakan teknologi yang tercipta dari gabungan benda maya 2 dimensi dan 3 dimensi lalu dimasukkan ke dalam dunia nyata. Benda maya tersebut akan diproyeksikan ke dalam waktu yang nyata, seolah-olah kita dapat melihat benda maya tersebut di waktu itu juga. Teknologi Augemented Reality (AR) ini diciptakan dengan esensi menambah motivasi belajar siswa dan dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi yang diajarkan oleh guru, melalui media yang langsung direalisasikan oleh Augmented Reality.
Teknologi Augmented Reality (AR) ini cukup bagus untuk memudahkan guru dan siswa melaksanakan kegiatan belajar mengajar, terutama ketika daring dan mata pelajaran yang diampu eksak, seperti mata pelajaran kimia di SMA. Dengan memadupadankan pembelajaran kimia dengan teknologi, keterbatasan guru, sarana, dan prasana di sekolah dapat teratasi. Penggunaan Augmented Reality (AR) masih terus dikembangkan di dunia pendidikan, sekarang ini terdapat beberapa penelitian yang mengembangkan aplikasi Augmented Reality (AR) agar dapat digunakan dalam pembelajaran kimia, misalnya pada aplikasi sarana dan prasana di dalam laboratorium. Aplikasi tersebut digunakan untuk mendesain ruang laboratorium dan menempatkan barang-barang laboratorium, di dalam aplikasi dapat terlihat tampilan ruang secara 3 dimensi yang seolah-olah kita masuk ke dalam ruangan tersebut.
Setiap perkembangan teknologi sudah pasti terdapat kelebihan dan kekurangnnya, tak dipungkiri teknologi Augmented Reality (AR) juga terdapat kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari Augmented Reality (AR) ini adalah dapat menjadikan objek tersebut seolah-olah nyata di hadapan kita, desain dari Augmented Reality (AR) itu sendiri juga dapat dikreasikan mandiri oleh guru. Pembelajaran di kelas menjadi interaktif antara guru dan siswa maupun siswa dengan sesama temannya. Media yang digunakan pun dapat beragam, memerlukan biaya yang murah dan mudah dalam pembuatan media pembelajaran, dikarenakan desainnya yang dapat dikreasikan secara mandiri oleh guru. Selain pembuatannya yang relatif mudah, ketika menggunakannya pun mudah, sehingga siswa mudah mengaksesnya.
Pada beberapa sekolah, teknologi Augemented Reality (AR) sudah dikembangkan, seperti pada pembelajaran kimia pada materi sistem periodik unsur. Guru dapat membuat aplikasi belajar dengan konsep, jika suatu kode gambar dipindai dengan smartphone maka beberapa saat akan muncul gambar salah satu nama unsur dengan dilengkapi beberapa keterangan nomor atom, jumlah proton dan elektron, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kreativitas seorang guru sangat diperlukan, desain pembelajaran yang dibuat harus dapat menarik perhatian siswa untuk membuat rasa ingin tahu siswa meningkat. Dengan pengaplikasian Augemented Reality (AR) ini pembelajaran juga dapat menjadikan siswa lebih aktif di kelas Guru dapat melempar pertanyaan kepada siswa dan mempertanyakan kesimpulan dari gambar yang telah diproyeksikan dengan aplikasi tersebut. Pengaplikasian Augemented Reality (AR) ini dapat membuat siswa menjadi lebih paham dengan materi, karena terkadang guru ketika menggambarkan suatu objek kimia kurang pandai. Namun ketika mengguankan Augemented Reality (AR) ini guru dapat membuat objek atau unsur kimia tersebut lebih realistis.
Aplikasi Augemented Reality (AR) juga dapat dibuat untuk panduan melakukan praktikum, sebelum siswa terjun lansung pada ruang praktikum yang sesungguhnya, seperti melakukan uji coba terlebih dahulu. Hal ini juga dapat menjadi solusi untuk sekolah yang belum dapat memenuhi kebutuhan sarana dan prasana praktikum di pembelajaran kimia terkhususnya. Misalnya pada praktikum kimia membedakan larutan asam dan basa, aplikasi Augemented Reality (AR) dapat dirancang dengan membuat animasi atau objek yang digunakan seperti lemon, kunyit, bunga telang, kertas lakmus, air sabun, serta objek-objek seperti alat-alat kimia yaitu gelas beaker, tabung reaksi, pipet, dan lain sebagainya. Aplikasi tersebut didesain untuk siswa seolah-olah memang melakukan praktikum di laboratorium, dan dari bahan-bahan yang didesain dapat dioperasikan sendiri oleh siswa. Sebagai contoh, siswa seperti bermain game namun hasilnya telah diatur oleh guru akan jadi warna apa ketika kunyit di tes dengan kertas lakmus biru dan lakmus merah.
Dibalik banyak kelebihan yang dimiliki oleh Augemented Reality (AR), terdapat beberapa kekurangan. Seperti pada bentuk objeknya, mudah berubah-ubah mengikuti proyeksi atau gerak benda yang kita gunakan. Objek yang terlihat di proyeksi juga terkadang kurang jelas, tidak ada penjelasan gambar, hanya terdapat gambar dan animasi sederhana. Dalam penyimpanannya juga membutuhkan banyak memori internal untuk menyimpan objek yang akan dimasukkan ke dalam Augemented Reality (AR). Selain itu yang masih menjadi kendala dalam penggunaan Augemented Reality (AR) adalah masih banyak yang belum menguasai perkembangan teknologi Augemented Reality (AR) ini di kalangan siswa, guru, dan sekolah di beberapa daerah.
Poin terakhir yang disebut di atas adalah permasalahan yang saat ini sedang terjadi, siswa masih banyak yang belum paham penggunaan dari teknologi Augmented Reality (AR) ini. Terutama bagi sekolah-sekolah pelosok yang dikategorikan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Informasi-informasi masih minim sekali dalam ranah teknologi, apalagi dengan sarana prasana yang belum tentu memadai di sekolah tersebut. Hal tersebut menjadikan ketertinggalan siswa di sekolah 3T dengan siswa yang sekolah di kota-kota besar. Tidak hanya siswa, guru pun sulit mendapatkan akses dan sosialiasi dari atasan atau pemerintah pusat, yang terkadang beralasan karena sulitnya akses menuju ke daerah pelosok tersebut.
Oleh karena itu, diharapkan dari pemerintah melaksanakan sosialisasi atau pertemuan dengan guru-guru untuk memberikan edukasi mengenai teknologi Augmented Reality (AR) kepada guru atau tenaga pendidik terlebih dahulu, kemudian direalisasikan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas oleh guru. Pemberian edukasi kepada guru dapat dilakukan melalui webinar terbuka dan praktik langsung menggunakan media Augmented Reality (AR). Sebaiknya pemerintah dan pihak sekolah melengkapi sarana prasana yang diperlukan siswa, dalam hal ini contohnya adalah prasana komputer atau gawai yang digunakan untuk pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR).
Di era sekarang, seharusnya pendidikan sudah merata untuk semua anak di pelosok negeri, dan juga pembelajaran saat ini jika tidak didukung dengan teknologi maka pengajar atau tenaga pendidik akan kewalahan, karena jumlah guru di Indonesia sangat sedikit, dan tidak merata pembagiannya. Walaupun ketika pembelajaran dilakukan berbasis teknologi, tidak dapat menghilangkan peran guru sepenuhnya, siswa tetap perlu diawasi dalam menggunakan smartphone. Sekarang guru harus pandai-pandai mengatur rancangan pembelajaran, agar pembelajaran yang dilakukan tidak membuat siswa mengalami kebosanan dan jenuh.
http://app.harianmomentum.com/read/53651/harian-momentum-edisi-31-juli-2024
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial