Menyoal Culture Shock Anak Perantauan di Kota Budaya
Tanggal : 02 Nov 2022
Ditulis oleh : HAYYIN NAUROTUL ALYA
Disukai oleh : 1 Orang
Sebagai seorang pendatang dan perdana menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta tentunya mengalami banyak kejutan. Mulai dari sambutan yang ramah tamah dari masyarakatnya sampai dengan segala budaya lokal yang unik dan menarik. Sebagai kota budaya yang masih mempertahankan konsep tradisional, kota Yogyakarta sangat khas. Kota ini terletak di bagian selatan Pulau Jawa.
Yogyakarta juga dikenal sebagai Kota Pelajar yang menjadi salah satu alasan anak-anak negeri untuk mengenyam pendidikan. Salah satu hal adalah karena Kota Yogyakarta memiliki banyak lembaga pendidikan. Apalagi biaya hidup di sini lumayan terjangkau. Oleh karenanya, Yogyakarta menjadi tempat yang memayungi mahasiswa dengan budaya yang berbeda, sehingga antar pelajar terbentuk bahasa asing.
Perihal bahasa yang diistilahkan menjadi culture shock yang paling mendasar karena background para pelajar yang berbeda-beda. Kita mungkin akan terkejut jika pertama berkomunikasi dengan orang sunda. Atau tidak pernah juga mendengar orang Batak menyapa dengan intonasi yang tinggi seperti marah-marah. Atau juga berbincang dengan orang ngapak, dan canggung menggunakan “lo, gue, lo, gue’’ yang digunakan oleh anak Jaksel. Hingga mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi jual beli. Ketidak terbiasa inilah menjadi hal asing yang dialami oleh anak perantauan di tengah riuh sapa kota budaya ini.
Kebiasaan warga lokal menunjukkan arah menggunakan mata angin. Bagi para pendatang tentunya ini menjadi hal yang membingungkan karena kebanyakan menggunakan arah kiri dan kanan. Di jogja penyebutannya terkenal dengan lor yaitu arah utara yang dipatokkan dengan gunung merapi, wetan sebelah timur, kidul sebelah selatan, dan kulon menunjukkan arah barat. Dan beberapa patokan jalan sering digunakan warga lokal seperti, banjo adalah lampu merah, prapatan atau perempatan jalan, pertelon yang digelar dengan pertigaan sampai cakruk yang tidak lain adalah pos ronda.
Hingga lidah akan dikejutkan dengan makanan yang lebih mendominasi rasa manis. Angkringan yang tersebar di sudut-sudut kota. Dan jajanan kuliner yang beragam. Pada akhirnya membuat para pelajar memiliki kegemaran yang dikenal dengan berburu kuliner atau wisata kuliner. Berbagai jenis makanan dijajakan mulai dari kuliner khas negeri hingga korean food yang menjadi sasaran pelajar di Kota Yogyakarta.
Tidak kalah culture shock yang istimewa seperti kotanya adalah budaya nongkrong. Banyak para pelajar mengalihkankan fungsi tempat tongkrongan sebagai tempat mengerjakan tugas. Atau mengerjakan laporan hingga burjonan dijadikan sebagai tempat rapat dan diskusi organisasi. Pada awalnya yang kita kenal tempat nongkrong adalah tempat mengisi waktu luang serta refreshing yang bebas dari beban kerja dan perkuliahan. Hal tersebut sungguh menjadi kejutan yang tidak biasa dialami oleh pelajar dari luar Kota Yogyakarta.
Pelajar di Yogyakarta memiliki karakter yang kritis, memahami proses berdialektika ide yang luar biasa. Tidak jarang di Yogyakarta terdapat banyak komunitas antar pelajar untuk membangun relasi menambah wawasan. Lebih baik saling merangkul dan mewadahi antar sesama pelajar agar menjadi pemuda yang bermanfaat.
City light yang memanjakan mata di malam hari seolah menambahkan kehangatan jiwa untuk perantauan dari keluarga di kampung halaman. Serta banyaknya tempat wisata menjadi penghapus isi dan menambahkan semangat cita-cita, kejutan yang penuh warna dan membekas tidak lebih jauh dari ringroad selatan ke utara.
https://drive.google.com/file/d/1LBW40KchvleIKifkHwAmeXX3H0lSohlj/view