Merawat Api Persatuan, di Tengah Abu Perbedaan
Tanggal : 18 Apr 2026
Ditulis oleh : SALMA AYUDIA
Disukai oleh : 0 Orang
Indonesia adalah negara yang dikenal sebagai bangsa yang kaya akan
keragaman suku, agama, adat, bahasa, serta berbagai identitas sosial yang
mewarnai kehidupan masyarakatnya. Namun, keberagaman itu dapat menjadi
sumber konflik apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, menjaga
persatuan menjadi tugas penting untuk seluruh bangsa. Keberagaman itu pula
bukan sekadar kenyataan yang tidak bisa dihindari, tetapi sesuatu yang menjadi
fondasi lahirnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda
tetapi tetap satu jua. Namun, di balik keindahan keberagaman itu, selalu ada
faktor api yang dapat menghangatkan persatuan atau justru membakar
keharmonisan yang telah terbangun (Rahman, 2020).
Kemudian pada zaman modern ini sudah mulai ada banyak tantangan-
tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan oleh para pendiri bangsa. Oleh
karena itu, generasi-generasi muda saat ini perlu merawat api persatuan di tengah
abu perbedaan tersebut salah satunya dengan cara menjaga keharmonisan sosial
dan persatuan bangsa. Selain itu, merawat tradisi kerja sama, gotong royong,
menghargai perbedaan, dan mengedepankan komunikasi ketika terjadi gesekan
merupakan praktik-praktik nyata yang menjaga agar “api persatuan” terus
menyala (Sembiring et al, 2024).
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika pula menjadi dasar filosofis yang
mempunyai makna bahwa persatuan tidak mungkin terjadi dengan menghapus
perbedaan, tetapi justru dengan menerima dan menghargainya. Sejarah
membuktikan bahwa bangsa Indonesia berdiri karena kesadaran memiliki
persamaan nasib dan tujuan yang sama, bukan karena keseragaman identitas
sosial. Nilai ini dapat mempererat kehidupan nasional dalam berbagai situasi
sosial dan politik yang menantang (Rahman, 2020).
Pancasila sebagai dasar negara juga memiliki peran penting dalam
menjaga keberlangsungan persatuan bangsa. Dalam sila ketiga, yang berbunyi
“Persatuan Indonesia”, menegaskan bahwa identitas bersama lebih tinggi daripada
identitas kelompok yang sempit. Namun, penerapan Pancasila tidak cukup hanya
sebatas simbol atau slogan, melainkan harus dihayati, dipahami, dan dipraktikkan
di tindakan nyata yaitu dengan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari
(Hidayat, 2021).
Merawat persatuan berarti mengutamakan komunikasi yang baik dan
bermanfaat, lebih mengutamakan kerja sama daripada sikap individualis, dan
mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan. Sebagai
bangsa, kita perlu membangun kebiasaan mendengar sebelum berbicara,
memahami sebelum menghakimi, dan menghargai sebelum berkesimpulan.
Persatuan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan untuk saling
menerima dan menghargai perbedaan (Sembiring et al, 2024).
Di era digital ini, perbedaan yang dulu dianggap sebagai kekayaan,
sekarang malah sering menjadi sumber perdebatan yang tidak ada hentinya.
Media sosial yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi sekarang
berubah menjadi tempat konflik identitas. Selain itu, banyak orang merasa bebas
berbicara tanpa mempertimbangkan dampaknya, kata-kata yang meningkatkan
emosi lebih cepat terucap daripada hasil dari proses berpikir kritis yang matang.
Padahal, hakikatnya persatuan itu tidak pernah memandang siapa yang menang
dan kalah, tetapi tentang bagaimana seseorang tetap dalam kesadaran bersama
bahwa kita Adalah satu bangsa yang harus saling mendukung dan menghargai
(Kultura, 2022).
Pendidikan menjadi salah satu bidang yang sangat tepat dalam
menanamkan nilai persatuan. Pendidikan multikultural dapat dengan mudah
memberikan pengajaran kepada peserta didik terkait kesadaran untuk menghargai
keberagaman serta tidak memandang perbedaan sebagai ancaman. Sekolah yang
menerapkan pendidikan multikultural terbukti mampu menciptakan lingkungan
yang lebih toleran dan menyeluruh (Wardhani, 2023).
Selain pendidikan, budaya gotong royong dalam masyarakat merupakan
praktik sosial yang sudah lama menjadi salah satu pemersatu masyarakat
Indonesia. Gotong royong dapat menumbuhkan rasa solidaritas, kebersamaan, dan
tanggung jawab bersama dalam mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat.
Budaya ini harus terus dilestarikan agar tidak tergantikan oleh individualisme
yang berkembang di era modern (Lestari, 2021).
Generasi muda memiliki peran penting yaitu sebagai pewaris masa depan.
Di tangan merekalah identitas nasional dibentuk kembali sesuai dengan tantangan
zaman yang ada. Generasi ini tumbuh dalam dunia digital yang cepat, dinamis,
dan penuh informasi. Disamping itu, ternyata bukan hanya ada banyak akses
pengetahuan yang luas, tetapi juga akan terdapat banyak risiko jika akses-akses
tersebut tidak digunakan dengan baik. Nasionalisme generasi muda bukan hanya
diukur dari hafalan Pancasila atau upacara bendera, tetapi harus melalui penerapan
kesadaran dalam tindakan nyata, seperti berkontribusi sesuai kemampuan,
menghargai perbedaan, menjaga lingkungan sosial, dan mencintai negeri dengan
cara yang relevan (Sembiring et al, 2024).
Dengan demikian, persatuan Indonesia saat ini dapat menghadapi
tantangan besar akibat perkembangan teknologi informasi dan media sosial.
Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan politik identitas dapat memperlemah
hubungan sosial antarkelompok. Untuk mempertahankan persatuan di tengah abu
perbedaan tersebut, diperlukan beberapa langkah yang harus dilakukan, seperti
memperkuat literasi media agar masyarakat dapat membedakan informasi valid
(fakta) dan manipulative (hoax), memperluas ruang dialog antarkomunitas agar
perbedaan pendapat dapat diatasi melalui komunikasi, dan menciptakan serta
menerapkan kebijakan publik yang adil agar tidak muncul kecemburuan sosial
yang dapat menimbulkan perpecahan antar bangsa (Kultura, 2022).
Selain itu, salah satu cara untuk mempererat hubungan antarwarga adalah
dengan mengadakan perayaan budaya lokal secara Bersama. Festival budaya,
kegiatan komunitas, dan kolaborasi sosial dapat menumbuhkan rasa saling
memahami dan memiliki. Identitas bersama sebagai bangsa Indonesia harus selalu
ditanamkan dalam kesadaran, dan identitas Bersama lebih diutamakan daripada
identitas kelompok (Lestari, 2021).
Merawat persatuan bangsa dan negara bukan tugas pemerintah saja, tetapi
tugas seluruh warga Indonesia. Setiap individu memiliki peran untuk menciptakan
hubungan sosial yang harmonis, menghormati perbedaan, dan membangun dialog
yang saling menghargai tanpa membeda-bedakan. Jika setiap individu
menerapkan nilai persatuan secara konsisten, maka api persatuan akan tetap
menyala meski perbedaan selalu ada (Hidayat, 2021).
Pembahasan ini menunjukkan bahwa persatuan hanya dapat terjaga
melalui internalisasi nilai kebangsaan, penguatan lembaga sosial, literasi media,
dan praktik dialog antar-kelompok yang berkelanjutan. Pada akhirnya, persatuan
menjadi api yang harus selalu dijaga. Api itu dapat memberi kehangatan ketika
membutuhkan, menerangi jalan saat tersesat, dan menjadi cahaya harapan di
tengah kegelapan. Namun, seperti setiap api, ia bisa padam jika diabaikan tanpa
perhatian atau membakar jika diarahkan oleh kemarahan. Tugas kita itu
sederhana, tetapi tidak mudah untuk menjaga api itu, membersihkan abunya, dan
menyatukan langkah demi Ibu Pertiwi. Maka dekatkan hati itu, satukan langkah
itu, karena kita bukan sekedar penghuni tanah ini, tetapi kita adalah generasi yang
Ibu Pertiwi selalu harapkan untuk rela merawatnya (Sembiring et al, 2024).
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial