Mewujudkan Pendidikan Karakter di Masa Pandemi Covid-19

Tanggal : 23 Apr 2021

Ditulis oleh : KHAFIFAH AULIA WULAYALIN

Disukai oleh : 0 Orang

Terhitung sejak tanggal 2 Maret 2020 hingga saat ini, pandemi Covid-19 belum juga usai. Berbagai bidang kehidupan ikut melemah karena adanya pandemi ini. Dari mulai bidang ekonomi, pariwisata, pendidikan, dan lain sebagainya. Segala aktivitas dialihkan di rumah, kita diminta untuk memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak untuk memperlambat penyebaran Covid-19. Di bidang pendidikan, siswa dan mahasiswa diminta untuk belajar dari rumah secara daring. Dengan adanya peraturan baru ini, maka pihak sekolah dan orang tua pun harus memiliki cara baru dalam perkembangan dan pembelajaran anak, seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi.

Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Kita akan berhasil berkembang di masyarakat jika kita memiliki karakter yang kuat di dalam diri kita. Pembentukan karakter sebaiknya dilakukan ketika anak masih usia dini. Hal ini tentu melibatkan peran orang tua dan tenaga pendidik. Melalui proses pembelajaran secara luring pendidikan karakter dapat diatur dan dipraktikkan secara langsung. Namun, karena adanya pembelajaran daring dan belum dipastikannya pembelajaran luring, maka peran tenaga pendidik dalam proses pengembangan pendidikan karakter juga harus diperbarui sesuai dengan keadaan yang ada dengan tujuan yang sama.

Guru harus memutar otak, supaya pendidikan karakter tetap terbentuk walaupun pembelajaran dilakukan secara daring. Untuk itu, perlu kerjasama antara guru dan orang tua siswa. Langkah yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang guru adalah memahami karakteristik setiap siswa sebagai acuan dalam menerapkan model pembelajaran.Sikap dan karakteristik setiap siswa dapat dieksplor melalui minat dan kegemarannya. Dengan mengetahui hal tersebut, maka tenaga pendidik dapat dengan mudah mengekspresikan model pembelajaran yang sesuai dengan siswa tersebut. Banyak model pembelajaran yang dapat dilakukan selama pandemi Covid-19. Selain itu, seorang guru tidak boleh hanya mengorientasikan nilai sempurna sebagai standar suatu penilaian, sertakan juga effort yang telah diberikan siswa dalam proses pembelajaran daring. Misalnya seperti keaktifan bertanya dan menjawab sebuah diskusi. Dengan adanya hal ini, maka siswa memiliki keikutsertaan dalam proses pembelajaran. Sehingga terbentuklah diskusi dua arah antara siswa dan guru. Kegiatan belajar mengajar dapat didukung menggunakan aplikasi pembelajaran daring seperti Gmeet, Microsoft Team, danZoom. Kemudian, peran orang tua di rumah membantu siswa dalam memahami dan menjelaskan kembali materi yang diberikan oleh guru. Jadi, pastikan bahwa orang tua selalu berada di samping siswa saat proses pembelajaran berlangsung.

Menurut pengamatan, ketika siswa sedang melakukan pembelajaran, seperti mengerjakan soal ujian atau ulangan harian, orang tua justru ikut mencarikan dan memberikan jawaban kepada siswa. Hal ini, tentu mendidik siswa untuk berbuat curang. Berbeda ketika di sekolah, guru bisa mengawasi langsung secara ketat, agar siswa tidak berani untuk mencontek atau memberikan jawaban ke temannya. Perbuatan tersebut dapat diatasi dengan memberikan sanksi tegas kepada siswa. Misalnya, dengan tidak keluarnya nilai ulangan ketika ketahuan mencontek atau memberikan jawaban ke temannya, memberikan poin sanksi yang terdapat di buku saku bimbingan konseling, atau melakukan ujian ulang di ruang guru. Peran orang tua seharusnya sebagai pendamping siswa dalam proses pembelajaran. Memberikan pemahaman dan penjelasan lebih rinci ketika siswa belum memahami materi terkait yang dijelaskan oleh guru.

Jika kebiasaan memberikan jawaban ujian pada saat pembelajaran daring serta hanya berorientasi pada nilai akhir dan kelulusan. Maka tujuan pembelajaran untuk menguasai suatu materi dinilai kurang tercapai. Siswa hanya akan mendapat nilai sempurna tanpa pemahaman terhadap materi yang seharusnya ia kuasai. Sehingga, ketika hal tersebut terus-menerus diulang maka akan berakibat buruk bagi masa depan siswa hingga perguruan tinggi. Mereka akan terbiasa mengandalkan contekan tanpa belajar. Lalu, mereka pun akan terlahir sebagai seorang koruptor yang akan menghancurkan bangsa Indonesia. Sikap korupsi bukanlah suatu karakter yang baik, Indonesia tidak membutuhkan koruptor untuk mengembangkan bangsa dan negara, Indonesia membutuhkan seseorang yang mau bekerja keras, jujur, dan bertanggung jawab.

Pembelajaran secara daring ini memang melatih kesadaran siswa untuk belajar secara mandiri. Pembelajaran daring juga memiliki kelemahan dan kelebihannya. Kelemahannya bagi sebagian siswa yang kurang cepat menangkap materi maka ia harus mengulang-ulang materi tersebut dalam waktu yang lebih lama dari siswa lainnya. Belum lagi jika siswa tersebut tidak memiliki kesadaran untuk mempelajari lagi materi yang telah disampaikan. Kelebihan dari proses pembelajaran daring adalah siswa dapat belajar tanpa batas waktu. Mereka bisa melakukan kapan saja di rumah dan tetap beraktivitas di rumah seperti biasa tanpa adanya suasana formal ketika proses pembelajaran di kelas. Pendidikan karakter pun seharusnya masih dapat diwujudkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Namun, hal ini tentu saja harus ada usaha dan kerja keras yang besar dari guru, orang tua, dan siswa itu sendiri. Sejak dahulu, guru dan orang tua memiliki peranan yang besar dalam pendidikan Indonesia. Karena siswa adalah generasi penerus bangsa yang nantinya akan membawa arah masa depan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik.

Koran: Mata Banua

E-paper: https://drive.google.com/file/d/1RcbVv9EKZAFQGGAPB-eio-ylnqJxoFOt/view?usp=drivesdk




POST TERKAIT

POST TEBARU