Momentum Ramadan Bulan Menempa Diri

Tanggal : 14 Apr 2021

Ditulis oleh : FAUZAN ABRORI

Disukai oleh : 1 Orang

Semboyan “Marhaban Ya Ramadan”, mulai bertebaran di mana-mana mulai dari jagat maya, televisi, radio, hingga di jalan spanduk, baliho, poster bertebaran ikut serta meramaikan penyambutan bulan agung ini. Bulan agung ini selalu menjadi bulan kerinduan bagi umat islam pasalnya banyak keistimewaan menyelimutinya, seperti nilai pahala dilipat gandakan, bulan penuh dengan pengampunan dosa, terdapat malam yang paling istimewa (Lailatul Qodar), bulan terbaik untuk bersedekah, serta bulan dikabulkannya do’a- do’a.


Memanfaatkan keistimewaan tersebut kita dituntut untuk melakukan ibadah sebanyak-mungkin, tentu ibadah tidak hanya dinilai dari seberapa banyak yang kita lakukan, ibadah harus dibaregi niat lurus dan iklasan karena allah SWT. oleh sebab itu sangat bagus apabila momentum ini dijadikan sebagai sarana menempa diri. Menempa diri artinya medidik hawa nafsu dari hal-hal kejelekan, serta membiasakan diri untuk melakukan hal-hal kebaikan, riyadhatun nafs ini tentuk tidak mudah sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi Muhammad jihad yang lebih besar daripada pertempuran seperti dalam perang Badar adalah jihad melawan hawa nafsu, begitulah gambarannya melawan hawa nafsu namun kita bisa mengupayakan tersebut dari nilai ibadah bulan berkan ini.


Memanfaatkan puasa, Ramadan idetik berpuasa yang diwajibkan seluruh kepada umat islam yang sudah balig yang berakal sehat. Ibadan puasa merupakan ibadah menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan buruk maupun dari yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah SWT. tentu kesempurnaan nilai puasa itu tidak hanya diukur dengan menahan diri dari makan dan minum semata, melaikan kesempurnaannya bilamana kita menahan diri dari perbuatan yang bisa menguragi kulitas ibadah tersebut seperti berkata bohong, gibah, dan perkara kotor lainya. Sebagaimana Nabi Muhammad menggambarkan berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan lapar, oleh karenanya hanya dengan kesabaran dan keiklasan lah yang menuntun kualitas puasa yang kita jalankan.


Selajutnya, memperbanyak ibadah dibulan agung ini seperti membaca al quran, salat sunah (tarawih), bershodakoh, berzhikir, bershalawat, iktikaf, bersilaturahmi, serta ibadah lainya. Bualan puasa bukan ajang bermalas-malasan karena berpuasa. Sologan tidur itu ibadah kurang tepat, tidur akan bernilai ibadah jika menempatkan pada tempatnya jangan seharian suntuk tidur secara terus-menerus karena hal itu menghilangkan peluang nilai-nilai ke istimewaan yang terdapat dibulan ini. Tidak semerta-merta melakukan semua ibadah melaikan melakukan ibadah semampunya, jika bisa tentu sangat bagus. Mulailah pelan-pelan dari perkara hal kecil seperti kata pepatah hal yang besar dimulai dari hal-hal yang kecil.


Beristiqomahlah dalam beribadah, artinya kita dituntut untuk selalu berkometmen dalam menjalankan ibadah secara terusmenerus. Tentu bukan perkara mudah sepeti membolak-balikan sebuah tanggan, hal tersebut harus ada upaya agar terus berjalan seperti membuat angenda ibadah harian serta melakukan evaluasi (bermuhasabah) diri terhadap ibadah yang telah dilakukan, hal tersebut bisa dilakukan sebelum dan sesudah tidur.


Pada hakikatnya Bulan Ramadan sebagai ajang melatih diri pada persoalan ketaan, kesabaran, keikhlasan, dan kesunguhan kepada allah SWT. Dengan kesabaran dan kesungguhan lah kita bersedia melalui sebulan penuh dengan ibadah puasa dan lainya, serta menjaga diri dari hal-hal kemungkaran sehingga dengan hal tersebut menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga Ramadan kali ini benar-benar menjadi bulan latihan menempa diri dan ujian bagi kita semua, hingga memperoleh nilai keberkahan aamiin. Wallahu a'lam.




POST TERKAIT

POST TEBARU