Normalisasi Menyontek di Kalangan Pelajar Indonesia

Tanggal : 20 Dec 2021

Ditulis oleh : SAFIRA AFIFAH SABRINA

Disukai oleh : 0 Orang

Menyontek merupakan hal yang sudah tidak asing dalam lingkup pendidikan di Indonesia. Fenomena yang kerap kali menyertai proses belajar mengajar khususnya saat ujian di Indonesia namun jarang mendapat pembahasan dalam wacana pendidikan. Dikarenakan kurangnya pembahasan, fenomena ini seperti tidak kunjung mendapat titik terang dan terus berlangsung hingga saat ini.

Ketika mengerjakan suatu ujian maka kita sebagai pelajar harus bertanggung jawab atas ujian itu dengan cara mengerjakannya semaksimal mungkin sesuai kemampuan diri masing-masing dan atas dasar kejujuran. Pada saat seseorang menyontek maka ada dua karakter yang hilang yaitu sikap bertanggung jawab dan jujur. Padahal sikap bertanggung jawab serta jujur merupakan karakter penting yang harus dimiliki setiap orang. Karena dua karakter ini menjadi pondasi dalam kehidupan, baik saat menjadi pelajar, di lingkungan kerja maupun di lingkungan masyarakat.

Oleh karena itu, jika kita kehilangan karakter ini, maka akan membawa kepada hal yang salah. Sebagai contohnya adalah ketika seseorang sudah terbiasa menyontek sedari masih menjadi pelajar, maka itu bisa menjadi pertanda ketika sudah bekerja disuatu instansi akan cenderung melakukan korupsi.

Hampir seluruh pelajar di Indonesia mengakui pernah menyontek. Alasannya pun beragam, mulai dari memang malas belajar, terpaksa, tidak percaya diri, sampai takut nilai jelek. Dan yang menjadi masalah adalah tidak ada perasaan bersalah ataupun malu dikarenakan ada perasaan bahwa itu telah menjadi hal yang normal. Bahkan yang tidak pernah menyonteklah yang dianggap tidak normal. Inilah yang menjadi masalah penting yang harus segera diperbaiki.

Terlalu banyak faktor-faktor pendukung yang membuat fenomena menyontek sulit untuk dihilangkan. Terkadang yang menjadi kendala juga dikarenakan beberapa guru justru tidak mempermasalahkan itu dan berpikir “yang penting nilai bagus”. Kini menyontek bukan hanya dinormalisasi oleh antar pelajar tetapi bahkan juga oleh beberapa guru. Kemudian yang menjadi perhatian juga adalah pelajar yang memutuskan untuk tidak menyontek ataupun memberi contekan justru disalahkan dan bahkan sampai ada yang dijauhi. Mungkin kalimat seperti “orang pintar pura-pura budeg”, “gak asik orangnya”, “sok banget” atau “orang pinter emang pelit” sudah tidak asing lagi, karena kalimat itu sering kali dilontarkan pelajar kepada pelajar lain yang tidak ingin memberikan contekan saat ujian. Ini hal yang sangatlah berbahaya.

Maka untuk menanggulangi fenomena menyontek semua pihak harus terlibat, mulai dari keluarga, guru di sekolah serta pelajar itu sendiri. Yang pertama keluarga harus menanamkan karakter bertanggung jawab dan jujur sejak dini kepada anak. Kemudian dikarenakan salah satu alasan banyak pelajar menyontek adalah karena akan dimarahi orang tua jika mendapat nilai yang kurang bagus.

Maka lingkungan keluarga harus menjadi tempat yang aman serta nyaman bagi anak untuk dapat menjadi dirinya sendiri. Yang harus dipahami adalah setiap anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, jika mendapat nilai yang kurang bagus padahal sudah berusaha maka mungkin kelebihannya bukan disitu. Oleh karenanya, orang tua tidak boleh memaksakannya.

Selanjutnya, kini beberapa guru mulai tidak mementingkan kejujuran pelajar dalam mengerjakan ujian dan hanya mementingkan nilai. Guru harus dapat bersikap tegas, pelajar yang menyontek harus diberikan sanksi tegas yang bernilai positif sehingga fenomena menyontek dapat diberantas. Dan terakhir yang paling penting adalah kesadaran dari setiap pelajar itu sendiri. Pelajar harus mempunyai rasa tanggung jawab atas pendidikannya. Harus ada keinginan untuk berusaha agar dapat memberikan yang terbaik.

Lalu pelajar harus percaya pada kemampuan diri sendiri sehingga tidak ada niat untuk menyontek kepada pelajar lain. Angka pada nilai yang didapatkan tidak akan bernilai jika tidak didapatkan dengan usaha sendiri. Dan yang tidak kalah penting pelajar harus selalu ingat bahwa menyontek merupakan perilaku yang salah maka tidak boleh ada keinginan untuk melakukannya.

Setiap pihak memiliki peran penting, jika hanya satu pihak saja yang bekerja maka tidak akan mencapai keberhasilan. Maka dari itu keluarga, guru maupun pelajar harus ikut serta agar Indonesia bisa bebas atau paling tidak adanya pengurangan dari fenomena menyontek.




POST TERKAIT

POST TEBARU