Optimalisasi Pendidikan Berbasis Pemberdayaan

Tanggal : 23 Dec 2024

Ditulis oleh : ANNISA FIKRI ADIIBAH

Disukai oleh : 0 Orang

Perkembangan zaman yang memasuki era revolusi 4.0 mendorong perubahan teknologi di bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hingga industri. Pesatnya perkembangan teknologi mendorong adanya tuntutan bagi individu untuk dapat memanfaatkan teknologi. Keterbukaan akses internet memberikan peluang sekaligus tantangan besar bagi setiap individu. Hal ini mendorong terjadinya perubahan sumber daya manusia yang dituntut lebih cakap dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan baru. 

Dalam era yang terus bertransformasi dengan pesat, pendidikan tidak dapat menghindar dari dampak revolusi digital yang melanda segala bidang kehidupan. Sejak beberapa dekade terakhir, kemajuan teknologi telah mengubah secara mendasar cara kita berinteraksi dengan informasi, budaya, dan tentu saja, proses pendidikan. Pergeseran ini, dari pembelajaran konvensional menuju penggunaan teknologi digital, membawa konsekuensi dan potensi yang mendalam untuk mengubah lanskap pendidikan global.

Program merdeka belajar dalam Kurikulum Merdeka sebenarnya dapat dimaksimalkan dengan baik oleh pihak sekolah karena program ini dapat mengasah soft skills peserta didik. Mereka dapat belajar public speaking, problem solving, berpikir kritis dan kreatif pada saat pelaksanaan P5. Namun kebanyakan dalam program P5 masih banyak sekolah-sekolah yang kurang memaksimalkan kegiatan ini untuk menunjang pengembangan soft-skills, faktor yang mempengaruhi antara lain adalah kurangnya fasilitas dalam pelaksanaan P5, waktu pelaksanaan P5 yang terbatas, dan kurangnya partisipasi peserta didik dalam kelompoknya.

Bidang pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal sebagai fondasi penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia juga tak luput dari pesatnya perkembangan teknologi.  Tuntutan kecakapan digital ini berimbas pada tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan penguasaan hard skills yang harus diikuti dengan peningkatan soft skills individu.

Dalam upaya akselerasi di bidang pendidikan, pada dasarnya kegiatan pengintegrasian soft skills di setiap pembelajaran sudah tersurat dalam kurikulum pendidikan saat ini. Namun pada kenyataannya, masih banyak lembaga pendidikan maupun pendidik yang kurang memprioritaskan dan memfokuskan pada aspek soft skills sebagai tujuan utama dan outputpendidikan (Irawan, dkk., 2023). Pengembangan soft skills menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Soft skills sendiri mempunyai pengaruh terhadap kesiapan kerja atau employability soft skills (Utomo & Azwar, 2018).

Perkembangan pendidikan dirasakan begitu cepat khususnya di pulau jawa. Kabupaten Wonogiri yang merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah juga merasakan pesatnya perkembangan tersebut. Meskipun Kabupaten Wonogiri tidak begitu terpencil namun pendidikan di Kabupaten Wonogiri masih kurang merata. Kurangnya edukasi mengenai pentingnya pendidikan dan pentingnya mengasah softskills membuat masyarakat di Kabupaten Wonogiri awam akan pentingnya pendidikan. Padahal softskills sangat dibutuhkan dalam dunia perkuliahan maupun pekerjaan. Hal ini menyebabkan peningkatan pengangguran di Kabupaten Wonogiri terutama oleh lulusan SMA maupun SMK. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Wonogiri memiliki Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun 2023 sebesar 1,92%. Badan Pusat Statistik juga menyebutkan bahwa lulusan SMK menyumbangkan jumlah pengangguran terbanyak di Wonogiri. Sebelumnya Badan Pusat Statistik Wonogiri mendata jumlah angkatan kerja di Wonogiri pada tahun 2023 sebanyak 712.252 orang atau bertambah 123.671 orang dibandingkan pada tahun 2022. Dari jumlah itu 13.730 orang atau 1,92% diantaranya menjadi pengangguran terbuka.

Keterkaitan antara soft skills dengan kesiapan kerja yang sangat erat, harus diikuti dengan langkah nyata dimulai dari skala terkecil dalam masyarakat. Pemberdayaan komunitas remaja yang ada di masyarakat secara maksimal dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan hard skillsindividu, melainkan juga soft skills. Soft skills didefinisikan sebagai keterampilan, kemampuan, dan sifat-sifat yang berhubungan dengan kepribadian, sikap perilaku daripada pengetahuan formal atau teknis, (Mahasneh & Thabet, 2015). Dalam perspektif sosiologi soft skills disebut sebagai Emotional Intelligence Quotient (Rahayu, 2013). Berdasarkan pemahaman  tersebut  ruang    lingkup soft skills telah dikemukakan oleh banyak ahli secara beragam.

Soft skills juga sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan khususnya bagi siswa SMA atau SMK yang akan menghadapi dunia perkuliahan maupun pekerjaan. Maka dari itu, dibutuhkan program peningkatan soft skills bagi siswa SMA dan SMK. Dalam mengatasi masalah pengembangan soft skillsini, terdapat beberapa solusi antara lain adalah memberikan pemahaman bagi siswa mengenai pentingnya mengasah soft skills sejak SMA atau SMK dan memberikan sosialisasi pentingnya berlatih berorganisasi untuk menghadapi dunia perkuliahan maupun pekerjaan yang banyak menuntut diri untuk bersosialisasi dengan orang lain tidak hanya dengan teman dekat.

Pengembangan soft skills dapat dilakukan dengan pemberdayaan komunitas yang ada di masyarakat. Pemberdayaan komunitas adalah program yang bertujuan untuk membentuk perilaku dan sikap masyarakat yang mandiri. Konsep pemberdayaan komunitas searah dengan community development yaitu proses pembangunan jejaring interaksi untuk mengembangan kualitas hidup masyarakat.

Di Kabupaten Wonogiri sendiri, sebenarnya sudah ada program “Dalem Pasinaon” terletak di Kecamatan Slogohimo yang didirikan sejak tahun 2019 oleh Dhiya Restu Putra mahasiswa program studi Sastra Daerah Universitas Sebelas Maret (UNS). Namun program ini masih kurang maksimal untuk menunjang pengembangan soft-skills untuk seluruh siswa di Kabupaten Wonogiri. Program “Dalem Pasinaon”  bisa lebih maksimal jika dibantu oleh program “RUBIKAN” yang dapat diselenggarakan di kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kabupaten Wonogiri. 

Program Rumah Bina Pendidikan (RUBIKAN) akan diselenggarakan dengan model pelatihan pengembangan soft skills dalam upaya pemberdayaan masyarakat seperti public speaking, problem solving, membiasakan berpikir kritis dan kreatif untuk mempersiapkan siswa SMA maupun SMK dalam menghadapi dunia perkuliahan maupun pekerjaan serta mengurangi angka pengangguran lulusan SMA maupun SMK dikarenakan kurangnya pengembangan soft skills.

Program RUBIKAN ini akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri untuk menyosialisasikan edukasi terkait dengan pentingnya pengembangan soft skills bagi siswa SMA atau SMK untuk menghadapi dunia perkuliahan maupun pekerjaan. Sosialisasi dapat dilakukan secara online melalui zoom meeting atau konten-konten edukatif dan dipublikasikan melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagramdan juga Tiktok. Cara ini dapat menjadi cara yang efektif karena siswa siswi SMA atau SMK mayoritas lebih memperhatikan media sosial. Selain dengan cara online, cara lain yang dilakukan yaitu secara offline dengan menginisiasi RUBIKAN (Rumah Bina Pendidikan).

Rumah Bina Pendidikan ini nantinya akan mewadahi siswa SMA SMK dalam upaya peningkatan soft skills dengan kelas pelatihan mingguan yang bekerja sama dengan komunitas remaja seperti karang taruna maupun komunitas lokal wonogiri seperti halnya wonogirich. Program ini akan dilakukan dengan kelas soft skills yang berbeda setiap minggunya. Beberapa kelas yang akan dilakukan yaitu kelas public speaking, problem solving, voice over, kewirausahaan. Dalam setiap kelasnya akan dilakukan pemaparan materi, focus group discussion, dan diakhiri dengan praktik. Dalam mengukur pencapaian peserta setiap minggunya, akan dibentuk logbook mingguan. Adanya logbook ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan setiap kelas yang telah diadakan. Logbook ini nantinya juga akan memudahkan dalam evaluasi kelas yang akan datang.

Pemberdayaan komunitas dari skala kecil seperti karang taruna harapannya dapat memaksimalkan keikutsertaan siswa SMA SMK dalam pelatihan soft skills setiap minggunya. Melalui pemberdayaan komunitas yang berada di lingkungan masyarakat dapat menjadi opsi dengan pertimbangan dari segi keefektifan. Upaya kerja sama dengan komunitas lokal di Wonogiri seperti halnya wonogirich diharapkan mampu memperluas relasi yang nantinya dapat lebih menambah wawasan peserta dan juga lebih mengenal potensi lokal Wonogiri. 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wonogiri juga dapat memfasilitasi program “RUBIKAN (Rumah Bina Pendidikan)” dengan perluasan informasi mengenai program ini kepada siswa SMA SMK yang ada di Wonogiri. Dalam program RUBIKAN ini diharapkan para siswa SMA atau SMK di Kabupaten Wonogiri dapat mengasah soft skills untuk persiapan menghadapi dunia perkuliahan maupun pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan hard skill tetapi juga membutuhkan soft skills.




POST TERKAIT

POST TEBARU