Pembelajaran Daring pada masa Pandemi, Solusi atau Masalah?

Tanggal : 15 Apr 2021

Ditulis oleh : TEGUH IMAN NUGRAHA

Disukai oleh : 1 Orang

PANDEMI virus covid-19 membawa perubahan bagi segala sektor termasuk dalam sektor pendidikan. Sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas pembelajaran menjadi sepi karena diganti dengan platform pendidikan berbasis internet. Wacana mengenai pembelajaran jarak jauh akan dipermanenkan menuai pro dan kontra. Banyak pihak yang setuju dengan wacana tersebut namun tidak sedikit pula yang mengkritikinya termasuk para guru dan dosen sebagai fasilitator pendidikan. Tidak semua sekolah dan kampus siap dengan metode pembelajaran daring. Faktanya, proses pendidikan selama ini lebih banyak menggunakan mekanisme tatap

Di media sosial para orang tua dan murid mengeluh dengan mekanisme pembelajaran yang hanya tugas, tugas, dan tugas tanpa adanya feedback dari pendidik. Keluhan ini bisa jadi disebabkan karena pendidik tidak terbiasa dengan metode pembelajaran daring. Pendidik dituntut harus menguasai teknologi bahkan jaringan internet yang memadai sebagai akses mengajar. Begitu juga dengan peserta didik. Belum lagi orang tua yang bukan hanya bertugas mengurus rumah, kini harus menggantikan peran guru kepada anaknya. Sementara, kemendikbud memutuskan bahwa pembelajaran daring akan dilaksanakan hingga akhir 2020. Lantas bagaimana nasib pendidikan selanjutnya?

Para pendidik harus memodifikasi rencana pembelajaran sedemikian rupa agar metode yang digunakan tepat dan dipahami oleh peserta didik. Tantangan tersebut bukan hanya terletak pada bagaimana metode untuk transfer ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pembelajaran daring tetap fokus pada pendidikan karakter. Hal ini dikarenakan bahwa pendidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value yang mana peran guru sangat dibutuhkan dan tidak dapat digantikan dengan teknologi secanggih apapun. Lantas bagaimana perkembangan karakter peserta didik dalam situasi yang tidak bisa memantau secara langsung?

Pertama disiplin, disiplin yang merujuk pada patuh dan tertibnya peserta didik dalam menaati peraturan. Dalam situasi pembelajaran tatap muka, peserta didik terbiasa untuk mematuhi peraturan dengan memakai seragam sesuai jadwal dan topi saat upacara bendera. Tiba-tiba pada masa pandemi covid-19 mereka belajar dirumah tanpa memakai seragam. Tentu suasananya berbeda. Kedua, jujur. Ketika ujian ataupun mengerjakan tugas dari guru peserta didik cenderung mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh karena guru memantau dalam kelas. Berbeda ketika mengerjakan ujian secara daring, keseriusan peserta didik dalam mengerjakan ujian berkurang bahkan mengundang peserta didik melakukan plagiarisme karena tanpa pengawasan dari guru meskipun orang tua mendampinginya, tentu pengawasan guru dan orang tua itu berbeda.  Ketiga tanggungjawab, dalam sistem tatap muka peserta didik biasanya ada aktivitas piket harian. Hal tersebut ditujukan untuk melatih peserta didik agar bertanggungjawab terhadap tugasnya, berbeda ketika sistem daring yang mana anak-anak cenderung tidak memikirkan lingkungan sekitar karena merasa sudah menjadi tanggungjawab orang tua.

Tentu tidak mudah bagi seorang guru untuk mencari jalan keluar atas permasalahan pembelajaran daring ini, namun guru tetap dituntut untuk mencari solusi sebagai kosekuensi sebagai seorang pendidik. Salah satunya yang dapat dilakukan oleh guru adalah menjaga komunikasi dengan murid, misalnya dengan teguran atau sapaan setiap pagi. Maksud dari aktivitas tersebut adalah untuk menjaga semangat dan mengingatkan kembali bahwa guru selalu memantau dan menjadi teladan bahwa sikap ramah itu sangat penting. Kedua, meningkatkan rasa disiplin. Dapat diterapkan ketika guru melakukan pembelajaran, biasanya waktu pembelajaran sudah terjadwal,  guru dapat melakukan pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan tanpa mengurangi ataupun menambah jam mata pelajaran.

Bekerjasama dengan orang tua, tentu antara guru dan orang tua harus menjadi model good character dalam pembentukan karakter anak. Karena rumah menjadi sekolahnya, maka disini orang tua menjadi tokoh utamanya. Namun, banyak para orang tua mengeluh karena tidak sanggup berperan sebagai pendidik seperti halnya seorang guru. Padahal, momen belajar di rumah ini dapat menjadi waktu yang baik untuk menjaga komunikasi antara orang tua dan anaknya, di sinilah orang tua menunjukkan perannya sebagai pendidik yang handal. Bukankah pendidikan anak yang pertama dan utama itu ada di dalam lingkungan keluarga?

Guru dan orang tua harus memiliki tujuan yang sama agar pendidikan yang diharapkan dapat tercapai. Guru memberi pengajaran dan orang tua memahamkannya, ibaratnya seorang guru memberi buah mangga dan orang tua mengupaskannya. Tentu anak akan lebih semangat memakannya. Bukan hanya itu, pemantauan orang tua kepada anak dalam menggunakan teknologi juga sangat penting. Misalnya bagaimana mengatur waktu dalam penggunakan handphone ketika belajar dan bermain agar anak tidak salah fokus terhadap fungsi handphone untuk kegiatan belajar.

Permasalahan yang terjadi pada pembelajaran daring tidak bisa terlepas dari kurangnya interaksi siswa dengan guru dan sesama siswa lainnya secara tatap muka, dan tentu saja kondisi lingkungan belajar di rumah pada masa pandemi. Interaksi secara virtual nyatanya tidak membuat nyaman suasana belajar dan pembelajaran. Siswa perlu didampingi langsung, bukan hanya sekadar berbalas pesan atau bertegur sapa secara virtual. Guru pun perlu melihat dan mengamati apa saja yang dilakukan siswa secara langsung agar transfer informasi, pengetahuan, dan karakter dapat tersampaikan dengan maksimal. Di sisi lain, guru tidak bisa memantau apakah siswa sendiri yang mengerjakan tugas karena kenyataan di lapangan banyak orang tua yang lebih dominan dalam pembelajaran.

Selain permasalahan tersebut, muncul permasalahan lain seperti banyaknya siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran karena tidak dapat mengikuti model pembelajaran daring yang membutuhkan media elektronik dan tambahan biaya untuk membeli jaringan internet. Adapula para siswa di pelosok negeri yang terpaksa putus sekolah karena memang kondisi wilayah di tempatnya tinggal tidak mendukung terciptanya pembelajaran daring. Dengan adanya pandemi ini, sudah tampak jelas tingginya jurang kesenjangan pendidikan di Indonesia. Bukan tentang kesenjangan kualitas saja, namun tampak pula kesenjangan sarana prasarana, ekonomi, bahkan infrastruktur di masyarakat.

Rencana pembelajaran tatap muka kembali diumumkan oleh Kemendikbud setelah pada pada awal Januari 2021 sempat direncanakan. Hal tersebut menjadi jawaban di tengah ketidakpastian dunia pendidikan selama pandemi. Kabar vaksinasi dan rencana pembelajaran tatap muka menjadi angin segar bagi masyarakat. Sekaligus menjadi harapan bagi dunia pendidikan di Indonesia yang tampak lesu dengan segala permasalahan yang muncul selama pembelajaran daring di masa pandemi.

Walaupun sebenarnya pendidikan di Indonesia lebih membutuhkan solusi dan inovasi untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan. Pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud tidak boleh merasa lega dengan adanya vaksinasi. Justru di masa mendatang ada tantangan yang lebih besar untuk mencari solusi yang lebih mujarab demi mengatasi beberapa permasalahan yang muncul di era sebelum dan sesudah pandemi. Jika sebelum pandemi saja ada banyak masalah yang belum teratasi dan belum ada obatnya, maka selama pandemi dan pasca akan ada tambahan permasalahan dan tantangan yang memerlukan solusi dan inovasi tambahan.

Jika memang kebijakan pemerintah perlu dikritik, baiknya dikritik dengan kritik membangun dan bukan saling menyalahkan dan menuding pihak lainnya. Sebaliknya, jika memang kebijakan pemerintah layak untuk didukung maka sebaiknya didukung bukan malah saling curiga dan merongrong di belakang. Jelas sekali, selain kerja sama, kepedulian, dan sumbangsih pemikiran, diperlukan pula kedewasaan dan pemikiran serta sikap yang bijaksana untuk bersama-sama menemukan solusi bagi pendidikan di Indonesia

Pembelajaran daring di masa pandemi ini memang tidak mudah, perlu adanya kerja sama yang baik dari berbagai subjek pendidikan. Pendidikan yang baik adalah proses yang bukan sebatas memberi dan menerima pembelajaran, namun di balik itu ada sikap positif yang mampu tumbuh, yaitu karakter yang baik dan santun. Pembelajaran daring akan dirasa tidak menyulitkan apabila direspon dan dihadapi dengat sikap yang tepat, sehingga dapat menjadi metode pembelajaran yang bagus. Semoga pendemi ini segera berakhir.




POST TERKAIT

POST TEBARU