Pembelajaran Jarak Jauh, Pendidikan Karakter Tetap Tumbuh?

Tanggal : 29 Jun 2021

Ditulis oleh : NURI KURNIAWATI

Disukai oleh : 0 Orang

Sudah lebih dari satu tahun, seluruh peserta didik di Indonesia tidak melaksanakan pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Pasalnya, tingkat penularan virus Covid-19 di Indonesia masih cukup tinggi, sehingga pembelajaran tatap muka belum dilaksanakan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap penyampaian pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Selama masa pandemi ini, anak-anak didampingi oleh orang tuanya dalam proses pembelajaran. Lalu bagaimana karakter anak-anak? Dapatkah terbentuk dengan baik atau justru sebaliknya? Jika pendidikan karakter cenderung diabaikan, maka dikhawatirkan akan terjadi yang namanya “Character Lost” pada anak.
Di satu sisi, anak-anaklah yang dirugikan karena pendidikan karakter terabaikan, namun di sisi lain, negaralah yang dirugikan. Karena anak-anaklah yang akan mengemban tugas untuk memajukan negara di masa yang akan datang. Hasil penelitian Howard Gardner (2002) menyatakan bahwa kesuksesan seseorang 20% ditentukan oleh kepintaran (hard skill) dan 80% ditentukan oleh karakter (soft skill). Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu kita hadirkan dalam pembelajaran jarak jauh yang saat ini sedang dilaksanakan.
Karakter adalah kunci keberhasilan dari setiap orang yang merupakan faktor penentu keberhasilan bangsa dan negara dalam mempersiapkan masa depannya. Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan kebutuhan pokok bagi bangsa yang ingin maju dan berkembang.
Ketika pendidikan harus menerapkan proses pembelajaran jarak jauh, siswa harus belajar dari rumah, dan guru harus mengajar dari rumah, maka siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter siswa? Saya sependapat dengan yang dikatakan oleh David H. Elkind dan Freddy Sweet Ph.D, dalam artikelnya yang berjudul “Bagaimana Melakukan Pendidikan Karakter” bahwa kita semua, siapapun kita, kita adalah pendidik karakter, yang dapat membantu untuk membentuk karakter pada anak-anak yang kita temui. Oleh karena itu, siapapun bisa memberikan pendidikan karakter pada anak.
Dalam hal ini, dibutuhkan kerja keras dan kerjasama yang baik antara orang tua dengan satuan pendidik agar pendidikan karakter tidak terabaikan di masa pandemi ini. Jika guru bertanggung jawab terhadap persiapan materi yang akan diajarkan, memikirkan metode dan media belajar daring, serta mengevaluasi hasil pembelajaran anak, maka orang tua dapat berperan dalam mendidik karakter anak. Pada jenjang Sekolah Dasar dan Menengah Pertama, penggunaan buku harian, buku pendamping maupun buku kontrol karakter dapat mempermudah orang tua dalam mengontrol karakter anak.
Peran orang tua dalam menumbuhkembangkan karakter anak dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas, seperti membersihkan rumah, memasak, merawat tanaman, merawat hewan, dan sebagainya. Aktivitas ibadah bersama di rumah juga dapat menjadi sarana strategis untuk menumbuhkembangkan karakter, puasa sunah juga dapat mendidik anak agar memiliki rasa peduli kepada yang tidak mampu.
Pendidikan karakter tetap dapat dikawal oleh guru, salah satunya dengan memberikan “Jurnal Kontrol Karakter”. Jurnal kontrol ini dapat dibuat sedemikian rupa oleh guru yang disesuaikan dengan program pembelajaran, situasi dan kondisi daerah tempat tinggal peserta didik, dan karakter apa yang akan ditonjolkan sebagai ciri khas dari suatu kelas atau sekolah.
Dalam pembuatan jurnal kontrol ini, target dan isian pointnya tidak perlu terlalu banyak, agar siswa dan orang tua tidak terbebani, cukup yang dipandang penting saja dan dapat dilakukan oleh siswa secara rutin. Meskipun pembiasaannya sedikit, yang terpenting anak senang melakukannya dan tidak merasa terpaksa. Hal ini sesuai dengan teori kondisioning, dimana respon seseorang ditentukan oleh lingkungannya, seseorang akan merasa senang dan bahagia jika lingkungannya ramah, terbuka, dan menerima. 
Jurnal kontrol ini mungkin menjadi solusi dari kekhawatiran wakil ketua komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi yang dikatakan pada tanggal 21 januari 2021, yaitu : Satu hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran jarak jauh adalah pendidikan karakter. Karena dikhawatirkan dari PJJ selama setahun ini dapat menyebabkan “Character Lost” pada anak didik.
Dengan adanya jurnal kontrol karakter yang diberikan guru kepada siswa dan diketahui oleh orang tua, serta diisi secara rutin, diharapkan pendidikan karakter akan tumbuh kembali sedikit demi sedikit di masa pandemi ini. Meskipun situasi dan kondisi dalam keadaan darurat karena belum adanya pembelajaran tatap muka, tetapi amanah mencerdaskan bangsa dengan berkarakter kebangsaan akan terpenuhi dengan hadirnya jurnal kontrol karakter siswa yang setiap hari diisi oleh siswa dengan bimbingan orang tuanya masing-masing.
Adapun jurnal kontrol karakter yang dapat dibuat, yaitu berupa penjabaran dari sikap spiritual (ketaatan beribadah, berdo’a, toleransi dalam beribadah, bersyukur) dan sikap sosial (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, percaya diri) yang terdapat dalam kurikulum.

Koran: Mata Banua
E-paper: https://drive.google.com/file/d/1cdcRyeTeJm8XPuyB1_UpBOogZfXh71hq/view?usp=drivesdk




POST TERKAIT

POST TEBARU