Pengaruh Anime bagi Psikologis Remaja
Tanggal : 30 Nov 2021
Ditulis oleh : FADIA HAYYA TAHTA AUNIILLAH
Disukai oleh : 1 Orang
Pengaruh Anime bagi Psikologi Remaja
Oleh: Fadia Hayya Tahta Auniillah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Kartun yang berasal dari Negeri Sakura atau yang sering dikenal dengan sebutan Anime, cukup populer dikalangan masyarakat Indonesia dari anak-anak hingga dewasa. Anime merupakan animasi khas Jepang yang digambarkan oleh tangan maupun teknologi komputer. Kata ini adalah singkatan dari “animation” dalam bahasa Inggris. Sementara, dalam bahasa Jepangnya ¢0Ë0á0 jika dibaca: a-ni-me, bukan a-nim. Pada abad 20, populasi penikmat anime dan pembaca manga di Indonesia meningkat dengan pesat hingga 67%.
Biasanya masyarakat Indonesia menyebut orang yang menyukai anime dengan panggilan wibu atau bau bawang. Padahal tingkatan fans anime mempunyai tingkatan tersendiri dalam mengkategorikan berdasarkan level kecanduan mereka terhadap anime.
Ada delapan tingkatan fans anime:
pertama, adalah newbie. Newbie merupakan level paling bawah atau paling normal. Biasanya newbie hanya sebatas mengetahui tentang anime tertentu. Jika ditanya lebih lanjut mengenai anime, mereka masih sangat awam. Kedua, adalah anime lovers. Mereka sudah mempunyai banyak pengetahuan tentang anime. Namun, belum terlalu hafal dengan nama tokoh maupun alur cerita anime tersebut.
Ketiga, adalah otaku, pada tingkatan ini mereka merupakan fans berat anime maupun manga. Biasanya para otaku ini adalah orang yang introvert. Dikarenakan tergila-gila dengan anime dan komik, mereka lebih memilih untuk mengurung diri dibandingkan bersosialisasi dengan orang lain.
Keempat, ada otamega, tingkat ini lebih ekstrim dibanding otaku. Karena sering menonton anime terlalu banyak, mata mereka sampai rusak, sehingga mayoritas para otamega ini berkacamata.
Kelima adalah nijikon. Di level ini para fans tidak terlalu menyukai anime, namun mereka sangat terobsesi dengan tokoh yang ada di anime maupun manga. Bahkan mereka sampai berandai-andai menjadi tokoh yang mereka sukai.
Keenam, adalah hikikomori, pada level ini kehidupan sosial mereka lebih parah, karena hampir 80% waktu mereka dihabiskan untuk menonton anime, membaca manga ataupun memainkan game yang mereka suka.
Ketujuh, ada weeaboo, atau yang lebih dikenal dengan wibu. Di level ini, para wibu tidak hanya menyukai anime, namun juga dengan tempat asal anime tersebut diproduksi. Sehingga para wibu ini cenderung bergaya layaknya orang Jepang. Yang terakhir adalah wapanesee. Para penggemar anime di level ini merupakan penggemar yang paling akut. Mereka mempunyai obsesi besar juga terhadap budaya Jepang seperti wibu, namun bedanya para wapanesee ini sampai menikahi karakter atau tokoh dari anime maupun manga kesukaannya.
Anime yang terdiri dari beberapa genre tersebut, ternyata mempunyai pengaruh besar terhadap psikologi remaja yang gemar menonton anime maupun membaca manga. Penggemar anime di Indonesia berada di posisi ketiga terbanyak diantara 10 negara lainnya. Pada peringkat pertama ada Filipina, El Salvador, kemudian Indonesia, disusul oleh Nikaragua, Peru, Malaysia, Bolivia, Kosta Rika, Honduras, dan yang terakhir Chile.
Di awal tahun 2020, televisi Indonesia lebih banyak menampilkan acara program sinetron dibanding dengan anime. Namun itu tidak membuat para penggemar anime menurun, karena saat ini banyak blog-blog, fansub, youtube bahkan aplikasi yang menyediakan anime secara gratis dengan subtitle Indonesia. Sehingga para penggemar anime tidak kesulitan dalam menonton anime.
Anime populer di Indonesia tidak hanya anak-anak saja, bahkan para remaja maupun dewasa juga suka menonton anime. Pada masa pandemi lalu, kita disarankan untuk tetap berada dirumah hingga waktu yang ditentukan. Dikarenakan hal itu, tidak sedikit orang yang merasakan stres saat berada dirumah. Biasanya orang-orang akan berefreshing setelah melakukan tugas dari sekolah maupun dari kantor agar pikirannya tidak merasa terbebani sehingga otak menjadi fresh.
Berbeda pada saat masa pandemi, banyak orang yang bingung dalam menghibur diri di dalam rumah saat itu. Mereka mencari hiburan untuk menemani rasa gabut atau bosan saat berada di rumah, salah satunya adalah menonton anime. Dengan adanya berbagai genre dalam anime, membuat para penonton tidak jenuh saat melihatnya, mereka dapat memilih tontonan yang mereka suka.
Anime tidak hanya sebuah animasi saja, namun anime juga mempunyai berbagai edukasi, pesan moral dan pengetahuan yang dapat menambah wawasan kita. Banyak judul anime yang yang berkaitan dengan pendidikan, misalnya Hataraku Saibou yang berkaitan dengan ilmu biologi yang menceritakan tentang sel-sel dalam tubuh manusia. Dr. Stone yang berkaitan dengan ilmu kimia. Detective Conan yang berkaitan dengan ilmu fisika, geologi, kimia, sejarah, serta dapat membuat kita ikut berpikir logis dan kritis dalam memecahkan sebuah masalah.
Tentu saja, dengan menonton anime kita juga dapat mempelajari bahasa Jepang maupun budaya mereka, dan masih banyak lagi. Menonton anime juga dapat kita jadikan sebagai pengalih rasa stres setelah mengerjakan berbagai tugas yang menumpuk dan membuat penat. Anime juga bisa kita jadikan sebagai penyemangat dalam mengerjakan tugas, seperti jika kita sudah menyelesaikan beberapa tugas yang ditargetkan, maka kita boleh menonton anime hingga episode tertentu. Sehingga kita tidak merasa terbebani dengan tugas yang diberikan.
Dengan adanya target tersebut, secara tidak langsung dapat memberikan semangat dan mengobati depresi remaja pada masa pandemi. Karena pada masa pandemi saat ini, pikiran dan psikologis seseorang sangat mempengaruhi kondisi badan.
https://matabanua.co.id/2021/11/29/e-paper-harian-pagi-mata-banua-senin-29-november-2021/