Pengaruh Menyusupnya Japanese Wave ke Indonesia

Tanggal : 04 Dec 2023

Ditulis oleh : DITA TANIA

Disukai oleh : 1 Orang

Pengaruh Menyusupnya Japanese Wave Ke Indonesia

Budaya Jepang kini sudah merajalela di Indonesia. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang

menirukan budaya Jepang, termasuk kaum milenial. Seseorang yang memiliki ketertarikan akut dengan

kebudayaan Jepang biasa dijuluki “wibu”. Tidak hanya tertarik dengan anime, bahkan lagu, idol, dan

penampilan ala Jepang. Sedangkan “otaku” biasa digunakan untuk menjuluki seseorang yang menyukai

dunia anime saja. Tentu saja hal ini memiliki pengaruh bagi remaja di Indonesia yang menjadi wibu.

Kebanyakan wibu otaku hanya bermalas-malasan di rumah menghabiskan waktu luangnya

untuk menonton anime dan tidak melakukan aktivitas yang lebih positif. Padahal diusia remaja

merupakan masa yang prduktif untuk mencoba berbagai hal baru yang lebih menarik. Tidak hanya

berpengaruh pada produktivitas kaum remaja, namun juga pada gaya hidup mereka. Tentunya wibu

otaku tidak henti-hentinya menggali informasi mengenai cerita selanjutnya tentang anime yang

digemari. Alih-alih mempelajari budaya lokal, dikalangan wibu pendengar lagu Jepang dan wibu otaku ini

justru meningkat. Kini Indonesia menduduki urutan ke-3 dengan jumlah wibu terbanyak di dunia.

Menurut Riset dari Luminate, Gen Z di Indonesia pendengar lagu Jepang meningkat, dari yang awalnya

25,7% di tahun 2022 kini menjadi 31%. Maka tidak heran lagi jika wibu sudah mulai populer.

Bahkan kini mulai marak cosplayer anime yang terjadi di berbagai mall. Bayangkan saja seberapa

dalam mereka merogoh dompet yang digunakan untuk membeli berbagai peralatan dan barang-barang

untuk membuat baju. Mereka membuat diri mereka semirip mungkin dengan karakter anime yang

sedang diperankan. Ada pula sebagian dari mereka yang ingin dirinya dianggap sebagai tokoh anime

terebut. Wibu otaku menggemari anime karena kisah ceritanya yang seru atau unik. Mereka juga

menggemari keimutan dan ketampanan dari karakter anime. Seperti cosplay Gojo Satoru yang kerap

muncul di sosial media. Karena hal itu, mereka seringkali berpakaian dan mengubah tatanan rambut

agar bisa berpenampilan semirip mungkin dengan karakter yang mereka sukai

Tidak hanya dipenampilan saja, wibu otaku tidak jarang menggunakan bahasa Jepang

dikehidupan sehari-hari mereka. Apalagi jika para wibu otaku berkumpul menjadi satu circle dalam

pertemanan, Bahasa Jepang dapat mendominasi diperbincangan keseharian mereka. Mencampur

Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jepang, seperti “Watashi mau makan dulu”.

Dampak besar wibu otaku yang fanatik seperti ini akan melanda kehidupan sosial mereka.

Remaja penggemar anime kebanyakan menjadi pribadi yang introvert. Kecenderungan menutup diri ini

menjadikan mereka enggan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat. Hal itu dikarenakan mereka

mempunyai dunia sendiri sebagai wibu dan hanya berkumpul dengan sesama wibu. Dampaknya mereka

akan sulit menerima atau menolak pengaruh budaya lain. Jelas mereka akan berpenampilan mencolok

dan sebagian masyarakat menganggap mereka absurd.

Meski demikian, tidak semuanya fanatik ada juga yang sekedar menggemari gambar karakter

anime atau kisah ceritanya. Tidak semua wibu otaku menonton anime sepanjang hari, ada juga yang

menonton anime hanya saat mereka memiliki waktu yang senggang dan tetap memprioritaskan kuliah

atau pekerjaan mereka. Justru terdapat wibu otaku yang menjadikan anime sebagai hal yang positif.

Mereka jadi cakap berbahasa Jepang dan berjibun mengetahui budaya orang Jepang melalui anime yang mereka saksikan. Soft skill yang terbangun pada wibu otaku akan meningkat khususnya bagi cosplayer

anime, mereka akan meningkatkan kreativitas dengan pembuatan costum yang dirancang sendiri. Selain

itu mereka dapat memanfaatkan acara kebudayaan Jepang yang ada dengan menjual pernak-pernik

atau aksesoris yang berbau Jepang khususnya anime. Selain mendapat pemasukan uang yang terbilang

cukup banyak, akan terlatih jiwa bisnis dalam dirinya. Kebudayaan Jepang masyarakatnya terkenal akan

kedisiplinannya. Hal itu nampak jauh lebih baik jika mereka mengaplikasikan dalam kehidupan sehari

hari dengan budaya disiplin ini. Bagi mereka yang sedang melanjutkann masa studinya, maka

kedisiplinan merupakan hal yang sangat penting misalkan untuk menyelesaikan tugas-tugas dengan

tepat waktu. Disiplin akan memberi dampak positif untuk siapa saja yang melakukannya, khususnya para

pekerja yang mampu bekerja lebih efisien dan tidak membuang banyak waktu.

Kebudayaan wibu memiliki dampak bagi kaum remaja di Indonesia. Dimana pengaruh itu dapat

berupa negatif dan positif. Mereka cenderung bermalas malasan yang menyebabkan turunnya

produktivitas remaja, menjadi pribadi yang introvert, enggan bersosialisasi dengan lingkungan

masyarakatnya, dan lebih memilih berteman dengan yang wibu saja atau memiliki dunianya sendiri.

Namun disisi lain, wibu yang dapat menyikapi budaya Jepang dengan bijak maka akan mendapat hal

positif dikehidupannya. Soft skill yang mereka miliki akan berkembang akan lebih fasih dalam berbahasa

Jepang namun juga tidak mendominasikan Bahasa Jepang didalam kehidupan sehari-harinya, jiwa kreatif

cosplayer meningkat, terasahnya jiwa berbisnis melalui pembuatan pernak pernik berbau anime, dan

meniru budaya disiplin yang menjadikannya sebagai remaja yang tidak membuang banyak waktu. Jadi,

tidak melulu wibu itu negatif, hanya saja diperlukan tindakan yang bijak untuk menyikapinya agar

menjadi remaja yang tidak terlena dengan adanya anime d

Pengaruh Menyusupnya Japanese Wave Ke Indonesia

Budaya Jepang kini sudah merajalela di Indonesia. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang

menirukan budaya Jepang, termasuk kaum milenial. Seseorang yang memiliki ketertarikan akut dengan

kebudayaan Jepang biasa dijuluki “wibu”. Tidak hanya tertarik dengan anime, bahkan lagu, idol, dan

penampilan ala Jepang. Sedangkan “otaku” biasa digunakan untuk menjuluki seseorang yang menyukai

dunia anime saja. Tentu saja hal ini memiliki pengaruh bagi remaja di Indonesia yang menjadi wibu.

Kebanyakan wibu otaku hanya bermalas-malasan di rumah menghabiskan waktu luangnya

untuk menonton anime dan tidak melakukan aktivitas yang lebih positif. Padahal diusia remaja

merupakan masa yang prduktif untuk mencoba berbagai hal baru yang lebih menarik. Tidak hanya

berpengaruh pada produktivitas kaum remaja, namun juga pada gaya hidup mereka. Tentunya wibu

otaku tidak henti-hentinya menggali informasi mengenai cerita selanjutnya tentang anime yang

digemari. Alih-alih mempelajari budaya lokal, dikalangan wibu pendengar lagu Jepang dan wibu otaku ini

justru meningkat. Kini Indonesia menduduki urutan ke-3 dengan jumlah wibu terbanyak di dunia.

Menurut Riset dari Luminate, Gen Z di Indonesia pendengar lagu Jepang meningkat, dari yang awalnya

25,7% di tahun 2022 kini menjadi 31%. Maka tidak heran lagi jika wibu sudah mulai populer.

Bahkan kini mulai marak cosplayer anime yang terjadi di berbagai mall. Bayangkan saja seberapa

dalam mereka merogoh dompet yang digunakan untuk membeli berbagai peralatan dan barang-barang

untuk membuat baju. Mereka membuat diri mereka semirip mungkin dengan karakter anime yang

sedang diperankan. Ada pula sebagian dari mereka yang ingin dirinya dianggap sebagai tokoh anime

terebut. Wibu otaku menggemari anime karena kisah ceritanya yang seru atau unik. Mereka juga

menggemari keimutan dan ketampanan dari karakter anime. Seperti cosplay Gojo Satoru yang kerap

muncul di sosial media. Karena hal itu, mereka seringkali berpakaian dan mengubah tatanan rambut

agar bisa berpenampilan semirip mungkin dengan karakter yang mereka sukai

Tidak hanya dipenampilan saja, wibu otaku tidak jarang menggunakan bahasa Jepang

dikehidupan sehari-hari mereka. Apalagi jika para wibu otaku berkumpul menjadi satu circle dalam

pertemanan, Bahasa Jepang dapat mendominasi diperbincangan keseharian mereka. Mencampur

Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jepang, seperti “Watashi mau makan dulu”.

Dampak besar wibu otaku yang fanatik seperti ini akan melanda kehidupan sosial mereka.

Remaja penggemar anime kebanyakan menjadi pribadi yang introvert. Kecenderungan menutup diri ini

menjadikan mereka enggan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat. Hal itu dikarenakan mereka

mempunyai dunia sendiri sebagai wibu dan hanya berkumpul dengan sesama wibu. Dampaknya mereka

akan sulit menerima atau menolak pengaruh budaya lain. Jelas mereka akan berpenampilan mencolok

dan sebagian masyarakat menganggap mereka absurd.

Meski demikian, tidak semuanya fanatik ada juga yang sekedar menggemari gambar karakter

anime atau kisah ceritanya. Tidak semua wibu otaku menonton anime sepanjang hari, ada juga yang

menonton anime hanya saat mereka memiliki waktu yang senggang dan tetap memprioritaskan kuliah

atau pekerjaan mereka. Justru terdapat wibu otaku yang menjadikan anime sebagai hal yang positif. Mereka jadi cakap berbahasa Jepang dan berjibun mengetahui budaya orang Jepang melalui anime yang mereka saksikan. Soft skill yang terbangun pada wibu otaku akan meningkat khususnya bagi cosplayer anime, mereka akan meningkatkan kreativitas dengan pembuatan costum yang dirancang sendiri. Selain itu mereka dapat memanfaatkan acara kebudayaan Jepang yang ada dengan menjual pernak-pernik atau aksesoris yang berbau Jepang khususnya anime. Selain mendapat pemasukan uang yang terbilang cukup banyak, akan terlatih jiwa bisnis dalam dirinya. Kebudayaan Jepang masyarakatnya terkenal akan kedisiplinannya. Hal itu nampak jauh lebih baik jika mereka mengaplikasikan dalam kehidupan sehari hari dengan budaya disiplin ini. Bagi mereka yang sedang melanjutkann masa studinya, maka kedisiplinan merupakan hal yang sangat penting misalkan untuk menyelesaikan tugas-tugas dengan tepat waktu. Disiplin akan memberi dampak positif untuk siapa saja yang melakukannya, khususnya para pekerja yang mampu bekerja lebih efisien dan tidak membuang banyak waktu. Kebudayaan wibu memiliki dampak bagi kaum remaja di Indonesia. Dimana pengaruh itu dapat berupa negatif dan positif. Mereka cenderung bermalas malasan yang menyebabkan turunnya produktivitas remaja, menjadi pribadi yang introvert, enggan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakatnya, dan lebih memilih berteman dengan yang wibu saja atau memiliki dunianya sendiri.

Namun disisi lain, wibu yang dapat menyikapi budaya Jepang dengan bijak maka akan mendapat hal positif dikehidupannya. Soft skill yang mereka miliki akan berkembang akan lebih fasih dalam berbahasa Jepang namun juga tidak mendominasikan Bahasa Jepang didalam kehidupan sehari-harinya, jiwa kreatif cosplayer meningkat, terasahnya jiwa berbisnis melalui pembuatan pernak pernik berbau anime, dan meniru budaya disiplin yang menjadikannya sebagai remaja yang tidak membuang banyak waktu. Jadi, tidak melulu wibu itu negatif, hanya saja diperlukan tindakan yang bijak untuk menyikapinya agar menjadi remaja yang tidak terlena dengan adanya anime dari Jepang dan tetap mencintai kebudayaan lokal.




POST TERKAIT

POST TEBARU