Project Based Task Penolong Pendidikan Karakter di Masa Pandemi

Tanggal : 03 Dec 2021

Ditulis oleh : SOFI NIHAYATUL KAMILAH

Disukai oleh : 0 Orang

Covid-19 masih menjadi misteri yang tiada henti memberikan kejutan bagi kita semua akan kapan berakhirnya. Pendidikan pun berlangsung dengan pembelajaran daring sebagai solusi dari masa pandemi. Perjalanan kegiatan belajar tak semulus yang diharapkan. Sisi positif selalu berdampingan dengan sisi negatif. Apalagi menyangkut pendidikan karakter rasanya semakin terabaikan. Pembelajaran hanya sekedar penjelasan teori semata. Sehingga penerapan pendidikan karakter tak menjamin para siswa mendapatkannya.

Seperti halnya kegiatan islami yang biasanya dilakukan di madrasah/sekolah islam, misalnya sholat sunnah duha, pengajian qur’an, kultum atau sholat dzuhur berjamaah. Semua hal tersebut tak terpantau oleh pengawasan guru, terlebih lagi kalo di rumah orang tuanya tidak terlalu mempedulikan apa saja program-program sekolah. Meskipun pengabsenan bisa saja berlaku, tetapi semuanya tak akan komprehensif.

Sikap dan kebiasaan yang tumbuh akan menjadi karakter, dimana suatu karakter tersebut akan menjadi kunci utama dalam menggapai sebuah tujuan pendidikan. Sebagaimana terdapat dalam UU No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

Definisi dari pendidikan karakter disini adalah upaya pendidikan pengoptimalan muatan karakter yang baik dan positif (seperti halnya sikap, sifat, perilaku baik dan budi luhur). Dimana semua itu yang menjadi sebuah pegangan dan modal dalam pengembangan individu dan bangsa kemudian hari. Dilihat dari sejarah yang ada di muka bumi ini, pada hakekatnya pendidikan memiliki tujuan untuk membantu manusia menjadi cerdas dan pintar, dan membantu mereka menjadi pribadi yang baik.

Mereka yang cakap dalam pengetahuannya saja kadang tidak tidak beradab. Karena banyak orang cerdas dan pintar, tetapi pribadinya tidak menguntungkan bagi negara. Misalnya orang yang berpakaian rapih berdasi, pengetahuannya pun sudah tidak diragukan lagi, namun sayang seribu sayang karena tamak harta tindakan korupsi pun menjadi santapan sehari-hari.

Memang menjadikan pribadi baik dan bijak bisa dikatakan sulit dilakukan. Namun, tak ada kesulitan yang terus menerus menimpa. Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Sebagaimana quotes yang sudah tak asing di telinga kita “kelak akan ada pelangi,  jika hujan tak menghampiri”. Kita percaya kalo semuanya bisa diatasi asal ada kemauan, tak terkecuali problem pendidikan karakter di masa pandemi. Ada beberapa alternatif yang mesti dilakukan seorang guru bersama para orang tua dirumah agar tujuan pendidikan tadi tercapai. Bagaimana proses pembelajaran bisa dilaksanakan dan transfer nilai tetap berlangsung, bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan saja. Berikut ini tipsnya:

Pertama, karena kegiatan keseharian berjalan di rumah maka peran utama sendiri ialah orang tuanya. Penanaman dimulai diterapkan dengan memberikan rasa nyaman kepada anak. Sehingga tidak ada kecanggungan apapun dan disinilah madrasah pertama ialah orang tua. Orangtua ajarkan kebiasaan yang baik mulai bangun pagi hari, beribadah, membantu pekerjaan orang tua dengan menyiapkan sarapan bersama, menyiapakan pembelajaran daring, dan lain sebagainya.

Kedua, pendidikan karakter juga harus tetap diawasi dan dikontrol oleh para guru. Dilihat dari karakter positif  pada kompetensi inti kurikulum 2013 seperti memiliki sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Disini guru bisa memberikan project based task yang mana menuntut siswa aktif bermasyarakat. Misalnya, untuk siswa SMP mata pelajaran IPA diberikan tugas untuk mengetahui pembuatan tahu di lingkungan sekitar masing-masing siswa. Informasi yang didapat berupa pembuatannya, modal yang dikeluarkan, pemasaran, keuntungan/ kerugiannya serta tantangan yang dialami pembuat tahu. Setelah pengamatan dan wawancara, informasi dibuat laporan dan kemudian dipresentasikan dikelas.

Kegiatan sederhana ini dapat menuntut siswa menjadi kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, berpikir kritis dan peka dengan problem masyarakat yang ada. Di sinilah peran dari keluarga, sekolah, dan masyarakat atau peran tri pusat pendidikan ini akan menjadi relevan.




POST TERKAIT

POST TEBARU