Ramadhan Sebagai Pengendali Sirap Hati
Tanggal : 23 Apr 2021
Ditulis oleh : MUHAMAD ADITYA HIDAYAH
Disukai oleh : 0 Orang
Ramadhan Sebagai Pengendali Sirap Hati
Penulis : Ahmat Dani
Ramadhan Mubarak. Kini umat Islam sangat bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan 1442 H. Bulan Ramadhan adalah bulan diwajibkannya muslim melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Perintah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan itu ada di Surat Al Baqarah ayat 183.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Allah SWT menyeru kepada umat Islam yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Allah SWT juga menerangkan bahwa puasa seperti puasa di bulan Ramadhan juga diperintahkan kepada umat-umat sebelum umat nabi Muhammad SAW. Tujuan dari puasa Ramadhan ini adalah agar meraih derajat ketakwaan kepada Allah SWT.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari komunikasi dan interaksi antar sesama, dan pastinya di dalam setiap interaksi bisa muncul emosi, baik yang menyenangkan maupun sebaliknya. Emosi akan merespons dari informasi yang didengarnya ataupun perlakuan yang diterimanya. Respons inilah yang membedakan mana orang yang bisa mengendalikan emosi dan mana orang yang lebih banyak dikendalikan oleh emosinya.
Setiap muslim yang berpuasa diwajibkan untuk menjaga kesucian dari ibadah puasanya dengan cara bersabar dan menahan amarahnya serta menjaga diri dari berbagai perbuatan yang bisa merusak puasanya. Puasa mewajibkan agar setiap muslim tidak mudah terpancing oleh berbagai provokasi dan celaan dari siapa pun. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa itu adalah perisai, apabila seseorang di antara kamu sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan pula berbuat fasik. Jika ada seseorang yang menyerangnya atau mencacinya, maka hendaklah ia berkata ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa’”. (HR. Bukhari Muslim).
Muslim yang dapat mengendalikan emosinya akan memberikan respons yang positif atas setiap perlakuan dan informasi yang diterimanya dari orang lain. Sebesar apa pun itu akan dihadapi dengan penuh kebijaksanaan dan tentunya dengan kepala dingin. Namun sebaliknya, jika emosinya lebih banyak dalam mengendalikan dirinya, biasanya segala tindakan dan perbuatannya sering sulit untuk dikendalikan. Salah satu hakikat dari ibadah puasa adalah pengendalian emosi. Emosi di sini dimaknai sebagai pergolakan pemikiran, nafsu, perasaan, dan atau setiap keadaan mental (psikologis) yang hebat dan meluap-luap. Bentuk emosi ini bermacam macam, sulit untuk didefinisikan karena sering kita jumpai emosi bercampur aduk menjadi satu. Emosi bisa juga dikategorikan menjadi amarah, kasih sayang, jengkel, kesedihan, rasa takut, kesal, cinta, rindu, malu dan lain sebagainya.
Ketika manusia sedang dilanda oleh emosi, biasanya emosilah yang lebih banyak mengendalikan kita, ketimbang kita yang mengendalikan emosi. Akibatnya kita akan menjadi pemarah, meledak-ledak, dan pada akhirnya akan bertindak irasional. Puasa dapat memberikan ketenteraman jiwa, sehingga setiap muslim diharapkan mampu mengendalikan emosi dengan arif dan bijaksana. Rasulullah SAW sangat melarang kita untuk emosi dan marah. Pernah suatu ketika, seorang laki-laki berkata, wahai Rasulullah, perintahkan aku dengan sesuatu amal perbuatan yang ringan yang bisa aku lakukan. Lalu Nabi SAW bersabda, “Jangan Marah”. Lalu orang itu mengulanginya lagi, lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jangan Marah”. (HR. Bukhari).
Dalam menghadapi orang yang sedang marah kita harus dengan penuh kesabaran dan kearifan. Karena orang yang sabar akan senantiasa mampu mengendalikan dirinya. Pengendalian diri adalah kekuatan yang amat sangat hebat. Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang menang dalam pertandingan gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat dia marah.” (HR. Bukhari Muslim).
Ada beberapa nasihat yang sering menjadi petuah dari orang tua kita, untuk mengendalikan amarah.
1.Hendaklah kita beristigfar agar dapat meredam emosi yang ingin meledak.
2.Jika belum reda, ubahlah posisi badan dan tubuh kita. Jika sedang duduk, maka berdirilah, jika sedang tidur, maka bangkitlah.
3.berwudulah, karena wudu membuat hati menjadi lebih tenang. Orang yang marah dianjurkan untuk berwudu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Apabila seorang di antara kamu sedang marah, maka hendaknya ia berwudu dengan air, karena marah berasal dari api.” (HR. Abu Dawud).
4.lakukan Shalat sunah lalu berdiam. Rasulullah bersabda: “Apabila kamu sedang marah, hendaklah diam.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
5.perbanyak membaca Alquran. Amarah bersumber dari nafsu dan nafsu dikendalikan oleh setan. Untuk itu sering-seringkah membaca surat-surat pendek, seperti surat Al-Ikhlas dan juga surat Alfalah, sebagai salah satu cara mengusir setan dalam hati kita.
6.sebisa mungkin hindari kondisi dan situasi yang dapat memancing amarah.
Bulan suci Ramadhan mengajarkan kepada manusia muslim untuk selalu menjaga dirinya dari berbagai perbuatan yang kotor dan tidak terpuji. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa merupakan perisai dari perbuatan yang sia-sia dan dosa” (HR. Muslim). Ramadhan mengajarkan bahwa orang yang berpuasa akan selalu menjaga hati dan jiwanya dari segala perbuatan dan perkataan yang sia-sia.
Melalui puasa Ramadhan, kita dilatih untuk bersabar. Kemampuan kita dalam menahan emosi akan diganjar oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada tegukan yang lebih besar pahalanya selain tegukan kemarahan yang ditelan seseorang demi mengharap ridho Allah SWT.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban).
Semoga puasa Ramadhan ini menjadikan kita tergolong orang-orang yang mampu mengendalikan silap hati untuk menjemput predikat puasa, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Aamiin.
Koran : Matabanua
Link : https://drive.google.com/file/d/1Ofqyr8zrQ7xYOnDsehwZk8sl7COyRKR6/view