RESILIENSI PADA STRES MAHASISWA DI ERA PANDEMI
Tanggal : 15 Apr 2021
Ditulis oleh : NUR KHOFIFAH
Disukai oleh : 0 Orang
Akhir tahun 2019 dunia digemparkan dengan sebuah virus berbahaya yang menyerang Wuhan, Cina. Virus tersebut adalah pneumonia coronavirus diases 2019 atau yang sering dikenal dengan Covid-19. Virus yang berasal dari Wuhan, Cina ini menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia, pemerintah mengumumkan kasus pertama covid-19 pada awal maret 2020. Berhubungan dengan hal ini, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Diseases (Covid-19). Dengan diberlakukannya pembelajaran daring menuntut Mahasiswa untuk beradaptasi dengan perubahan dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring. Bahkan tidak sedikit dari mereka mengalami stress akibat perubahan ini..
Stres sendiri adalah kondisi seorang individu yang mengalami ketidakseimbangan karena ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dengan kenyataan dan memperngaruhi perilaku individu tersebut. Masalah yang dihadapi mahasiswa dalam pembelajaran daring seperti banyaknya tugas kuliah tetapi kurangnya sumber belajar, sulitnya akses internet karena jaringan yang kurang stabil, serta besarnya kuota internet yang dihabiskan membuat mereka tertekan dan menimbulkan gejala stress. Gejala stress tersebut berdampak pada gangguan pola tidur, sakit kepala, gelisah, mudah marah, dan kelelahan fisik.
Dalam menanggulangi stress, sangat diperlukan suatu resiliensi individu. Mungkin istilah resiliensi asing di lingkunangan masyarakat. Tatapi dalam dunia ilmu psikologi, istilah resilensi merupakan suatu hal yang biasa. Istilah resiliensi pertama kali dikenalkan oleh Blok pada tahun 1950-an dengan nama ego-resilliency (ER), yang memiliki arti kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal atau eksternal. Seiring berkembangnya zaman, kata resiliensi banyak dimaknai para ahli, salah satunya menurut Samuel (dalam Nurinayanti dan Atiudina, 2011:93) mengartikan resiliensi sebagai kemampuan individu untuk mampu bertahan dan tetap stabil dan sehat secara psikologis setelah melewati peristiwa-peristiwa yang traumatis. Dapat disimpulkan bahwa resiliensi merupakan kemampuan individu untuk pulih dari keadaan yang menekan dan mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Dalam kondisi yang serba sulit seperti ini, resiliensi sangat dibutuhkan bagi mahasiswa. Karena apabila mahasiswa memiliki resiliensi yang tinggi maka mahasiswa akan dapat bangkit dan mampu bertahan walaupun dihadapkan dengan situasi yang sulit karena pandemi covid 19. Mahasiswa yang memiliki resiliensi akademik yang tinggi akan lebih optimis dan percaya bahwa segala sesuatu dapat berubah menjadi lebih baik, sehingga tekanan yang dialami mahasiswa dapat diminimalkan.
Menjadi individu resiliensi di situasi sulit seperti ini tidaklah mudah. Maka, dibutuhkan suatu kemampuan dalam membentuk individu resiliensi. Ada 7 kemampuan dasar dalam membentuk individu yang resiliens. Pertama, regulasi emosi yaitu suatu kemampuan individu dalam mengendalikan diri untuk meredakan emosi karena sedih, marah, stress, dll. Menurut Goleman (dalam Annisa, 2015) Regulasi emosi individu yang tepat seharusnya mencakup enam aspek diantaranya: a) Kendali diri, kemampuan untuk mengendalikan diri dan memilih bagaimana individu akan menunjukan perilaku atau emosi yang sesuai, b) Hubungan interpersonal yang baik dengan oranglain, c) Memiliki sikap hati-hati, d) Memiliki adaptibilitas, yaitu kemampuan individu untuk beradaptasi serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya, e) Toleransi yang tinggi terhadap frustasi, apabila individu memiliki toleransi yang lebih tinggi dibandingkan frustasi maka individu akan mampu mengendalikan apa yang dilakukan dan tidak mudah putus asa, f) Pandangan yang positif terhadap diri dan lingkungan.
Kedua, pengendalian impuls. Pengendalian impuls merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan keinginan, dorongan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri individu. Individu yang tidak memiliki pengendalian impuls akan mudah emosi yang akan berakibat terhadap pikiran dan perilakunya. Kemampuan pengendalian impuls merupakan suatu hal yang utama dalam resiliensi. Semakin tinggi kemampuan pengendalian impuls, maka semakin tinggi pula daya resiliensi individu.
Ketiga, optimisme. Optimis merupakan individu yang selalu berpikir positif dan yakin dengan keinginan yang ada. Kendala yang dihadapi mahasiswa ketika pembelajaran daring dapat menyebabkan menurunnya semangat mahasiswa sehingga menimbulkan gejala stress mahasiswa. Gejala stress tersebut sangat baik jika diimbangi dengan dasar kemampuan resiliensi yang ketiga ini yaitu optimisme. Dengan adanya Sikap optimis yang dimiliki seorang Mahasiswa akan memberikan dampak positif berupa harapan-harapan baik dalam menghadapi sulitnya pembelajaran daring. Sikap optimis ini dapat dilakukan dengan melakukan kebiasaan seperti bersyukur dengan nikmat yang dapat kita nikmati saat ini (nikmat kesehatan). Selain itu, berbagi cerita kepada teman atau keluarga, yang mana hal ini akan meningkatkan semangat serta harapan.
Keempat adalah causal analysis. Causal analysis merupakan kemampuan individu dalam mengidentifikasi masalah dari sebab akibat secara akurat dari masalah yang dihadapi. Kemampuan ini sangat diperlukan mahasiswa khususnya dalam menganalisis/mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi dengan tepat.
Kelima, empati. Empati berhubungan dengan bagaimana individu mampu membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain. Oleh sebab itu, individu yang memiliki kemampuan empati tinggi, cenderung memiliki hubungan sosial yang positif. Hal ini berakibat positif untuk seorang Mahasiswa terutama dalam berinteraksi dengan teman kuliah ataupun masyarakat.
Ke enam, efikasi diri. Efikasi diri menurut Revich, K., & Shatte, A. (2002 : 45) adalah keyakinan bahwa individu mampu memecahkan dan menghadapi masalah yang dialami secara efektif. Seorang mahasiswa yang memiliki sikap efikasi diri akan mampu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan berhasil dan sukses. Dimana hal ini, akan mengurangi sikap pesimisme serta memberikan semangat bagi Mahasiswa.
Terakhir, Reaching out. Risiliensi memiliki arti luas, yaitu tidak hanya berkutat pada kemampuan individu dalam mengatasi kesengsaraan dan bangkit dari keterpurukan, namun lebih dari itu resiliensi merupakan kapasitas individu meraih hal positif dari sebuah keterpurukan yang terjadi dalam diri individu.
Resiliensi ini merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki mahasiswa khususnya dalam pembelajaran daring. Dapat kita lihat, saat ini banyak Mahasiswa yang mengeluh bahkan memiliki gejala stress akibat pembelajaran daring ini. Langkah awal yang dalam mengurangi stress yaitu dapat menerapakan dasar dari kemampuan risiliensi. Yang mana hal ini dapat memberikan dampak positif terhadap alam bawah sadar seorang mahasiswa.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial