Revitalisasi Literasi Bekal Hadapi Globalisasi
Tanggal : 30 Mar 2021
Ditulis oleh : NURUL UMAH
Disukai oleh : 1 Orang
Pada era globalisasi saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat. Informasi apa saja dapat kita terima dengan mudah dan cepat. Sama halnya budaya asing yang masuk dengan mudah. Segala bentuk teknologi tersebut telah mempengaruhi budaya dan pola hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara terutama di kota-kota besar. Masyarakat kota memiliki karakteristik yang cenderung lebih terbuka dibandingkan masyarakat pedesaan. Selain itu, sarana dan prasarana yang mendukung serta adanya perantara yang berperan besar dalam perkembangan teknologi dan informasi di kota. Hal ini membuat budaya asing masuk dengan mudah ke dalam kehidupan masyarakat. Sayangnya budaya asing yang masuk tidak semua bersifat positif, kebanyakan justru bersifat negatif bahkan bertentangan dengan Pancasila yang dapat memicu radikalisme.
Generasi milenial khususnya di perkotaan akan selalu mengikuti arus globalisasi dan menerima berbagai informasi yang ada dengan sangat mudah. Pasalnya media sosial saat ini memungkinkan setiap penggunanya menerima informasi apa saja yang mereka inginkan hanya dengan satu kali klik. Akan tetapi, kemudahan ini juga membawa dampak negatif yang begitu besar bagi masyarakat. Pasalnya masyarakat terutama kaum milenial bukan mengambil informasi positif tetapi malah mengambil dan menyerap informasi yang bersifat negatif. Informasi yang diambil berupa budaya asing yang melenceng dari nilai-nilai pancasila dan jika dibiarkan akan merusak Indonesia dari dalam. Oleh karena itu, kita perlu menyaring setiap budaya asing yang masuk, mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Untuk dapat menyaring budaya asing tersebut diperlukan sebuah kemampuan dan kecakapan intelektual dan sikap.
Salah satu cara untuk menumbuhkan kecakapan intelektual dan sikap dapat dilakukan dengan literasi. Literasi memberi banyak sekali manfaat untuk semua generasi bukan hanya generasi muda saja. Melalui kegiatan literasi sesorang mendapat banyak informasi, pengetahuan, dan wawasan menjadi luas. Secara tidak langsung hal tersebut dapat mengasah pola pikir dan bila dilakukan dengan teratur kecakapan intelektual seseorang dapat meningkat. Tidak hanya kecerdasan intelektual saja yang dapat meningkat namun sikap mental pun ikut terbentuk dengan kegiatan literasi. Salah satunya menghargai waktu, disiplin, dan menghormati sesama akan dapat terbentuk melalui literasi. Sikap inilah yang akan menjadi jembatan untuk kita agar dapat menyaring budaya asing yang timbul akibat arus globalisasi.
Literasi disini tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis saja. UNESCO juga menguraikan bahwa literasi meliputi kemampuan mengidentifikasi, memahami, mengkomunikasikan, dan menghitung materi materi cetak maupun tertulis dengan berbagai konteks. Jadi, literasi yang dimaksud juga mencakup kemampuan dan kecakapan menggunakan media digital dalam menemukan, mengevaluasi, dan memanfaatkannya dengan bijak. Banyak sekali ilmu pengetahuan yang bisa kita dapat hanya dengan satu kali klik. Kemudahan akses ini harus kita manfaatkan untuk mengembangkan potensi dalam diri kita dalam rangka memajukan kehidupan bangsa. Namun, masih banyak masyarakat yang justru memanfaatkan kecanggihan zaman untuk hal-hal yang kurang baik bahkan menyimpang jauh dari nilai pancasila. Disinilah literasi berperan sebagai filter dari informasi dan budaya asing yang masuk ke Indonesia.
Literasi sebenarnya bukan suatu hal baru, bahkan literasi telah ada sejak zaman kolonialisme. Tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa kolonial juga berperan penting bagi literasi di Indonesia saat itu. Namun, saat ini keberadaan literasi mulai terabaikan di mata masyarakat. Penyebabnya yang tak lain dan tak bukan adalah globalisasi. Masyarakat beranggapan bahwa literasi itu tidak penting karena menurut mereka literasi hanya sebatas membaca buku. Cara pandang seperti ini harus diubah pasalnya literasi memiliki makna luas bukan hanya sebatas membaca buku. Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi literasi untuk menciptakan sumber daya yang bermutu dan berorientasi ke masa depan. Revitalisasi literasi perlu digalakkan pada seluruh lapisan masyarakat terutama kaum milenial. Mengingat minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah dibandingkan negara lain. Dilihat dari data Programme for International Student Assessment (PISA) yang baru diliris 2019 skor membaca Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara.
Revitalisasi literasi dapat dimulai dari sekolah karena generasi muda banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Terlebih sekolah juga merupakan tenpat belajar sehingga langkah awal revitalisasi literasi dapat dilakukan di sekolah. Guru sebagai panutan siswa harus mampu memberi contoh literasi yang baik dan menyisipkan budaya literasi dalam setiap pembelajaran maupun di luar kegiatan pembelajaran. Misalnya setiap pagi dibudayakan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran. Kemudian, diadakan ekstrakulikuler kepenulisan dan lain-lain. Langkah-langkah kecil tersebut jika dilakukan secara teruatur dan berkelanjutan akan menjadi suatu hal besar. Untuk menanamkan budaya literasi memang tidak bisa instan diperlukan waktu dan proses secara bertahap.
Selain sekolah, rumah juga salah satu tempat yang tepat untuk menanamkan kembali budaya literasi. Setiap orang pasti menjadikan rumah sebagai tempat paling nyaman untuk beristirahat ataupun menikmati waktu senggang. Dari sinilah budaya literasi ditanamkan sebagai kelanjutan literasi yang ditanamkan di sekolah. Karena literasi dapat dilakukan dimana saja tidak hanya di sekolah. Untuk menanamkan kembali budaya literasi di rumah, orang tua memiliki kontribusi besar dalam keberhasilannya. Orang tua dapat menasihati anaknya agar mau membaca dan membatasi penggunaan telepon gengam. Pasalnya telepon gengam ini merupakan racun bagi generasi muda yang membuat mereka enggan membaca dan perlahan meninggalkan budaya literasi.
Budaya literasi merupakan salah satu bekal untuk kaum milenial untuk menghadapi globalisasi dan membawa Indonesia maju. Literasi adalah hal pokok yang harus dimiliki oleh setiap manusia untuk bertahan hidup di tengah arus globalisasi. Tantagan zaman yang semakin sulit mengharuskan setiap orang memiliki kemampuan dan kecakapan untuk menjawab tantangan tersebut. Budaya literasi memiliki dampak yang baik bagi masyarakat. Pasalnya dengan literasi wawasan menjadi luas, pikiran terbuka sehingga meningkatkan daya perpikir dan kemampuan melihat sesuatu. Dengan demikian seseorang yang menerapkan budaya literasi dalam kehidupannya akan mampu menyikapi sesuatu dengan kritis dan tidak mudah terpengaruh. Inilah alasan mengapa Indonesia perlu menghidupkan kembali budaya literasi di tengah masyarakat.
Literasi ini merupakan langkah awal untuk mencetak generasi unggul yang akan membawa Indonesia menuju perubahan. Dapat kita lihat saat ini masyarakat terutama generasi muda lebih disibukkan dengan telepon gengam mereka. Mulai dari anak-anak sampai orang tua rata-rata memiliki telepon gengam dan dimana pun mereka berada pasti sibuk dengan benda kecil tersebut. Jika dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat tidak masalah. Namun, kenyataannya masyarakat menggunakan telepon gengam untuk hal-hal yang kurang bermanfaat seperti main game, nonton film, aktif di media sosial yang tidak jelas. Dapat dibayangkan akan seperti apa Indonesia lima tahun kedepan jika masyarakatnya seperti itu. Oleh karena itu, Indonesia perlu menggalakkan revitalisasi literasi pada seluruh lapisan masyarakat dalam rangka menghadapi globalisasi. Pemerintah, guru, dan orang tua juga harus senantiasa menanamkan budaya literasi serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi. Agar bersama-sama dapat membawa Indonesia menuju perubahan, mampu bersaing dengan dunia global tanpa meninggalkan jati diri bangsa serta dapat bertahan di tengah arus globalisasi.