REVITALISASI STRATEGI PEMBELAJARAN MENINGKATKAN PRESTASI SISWA
Tanggal : 26 Dec 2023
Ditulis oleh : SYIFA PUTRI FADILAH
Disukai oleh : 0 Orang
Pembelajaran merupakan interaksi seorang guru dalam proses pemerolehan ilmu terhadap peserta didik yang meliputi ilmu pengetahuan, pembentukan sikap maupun karakter siswa agar memiliki rasa percaya diri dalam mengembangkan potensi yang ada dalam setiap peserta didik. Dalam proses belajar dan pembelajaran, perlu adanya sistem lingkungan yang mendukung. Mempersiapkan lingkungan yang kondusif merupakan salah satu cara agar peserta didik dapat merasa nyaman ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
Menciptakan lingkungan yang efektif dan nyaman termasuk menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang baik, dan mencukupi. Di samping itu, cara mengajar guru juga sangat berdampak terhadap respon atau impact siswa. Faktanya, guru yang cerdas, kreatif serta komunikatif akan lebih digemari dibanding dengan guru yang hanya menjelaskan materi secara monoton serta kurangnya komunikasi dengan peserta didik. Jika pembelajaran yang berlangsung kurang maksimal, maka pengetahuan dan pemahaman baru siswa pun kurang optimal.
Pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam proses mengajar. Karena pendidikan dapat memberikan perubahan dan transformasi. Melalui pendidikan, para pelajar dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki. Hal ini dapat berdampak positif karena terbentuknya generasi yang kreatif, cerdas dan aktif. Melalui potensi yang mereka kembangkan, maka terciptanya masyarakat yang produktif. Tempat yang tepat untuk mengembangkan potensi serta menambah banyak pengetahuan adalah sekolah.
Menurut data sekolah nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi, Negara Indonesia memiliki 436.813 sekolah dengan semua jenjang. Dari banyaknya sekolah yang ada di Negeri tanah air ini, apakah semua pelajar dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru? Apakah semua guru sudah memberikan pendampingan secara optimal? Menurut survei yang telah dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) mengenai sistem pendidikan menengah di dunia pada tahun 2018 lalu, Indonesia menempati posisi yang rendah yakni ke-74 dari 79 negara lainnya dalam survei. Dengan kata lain, Indonesia memiliki sistem pendidikan yang berada di posisi ke-6 terendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Hal ini berarti rendahnya mutu dan relevansi pendidikan. Karena, stimulus yang diberikan guru kurang maksimal dan respon yang diberikan murid pun kurang. Maka perlu diterapkan teori pembelajaran yang lebih efektif agar dapat membangkitkan semangat para peserta didik dalam memahami, menguasai, serta mengembangkan kompetensi di sekolah maupun di luar sekolah. Teori pembelajaran yang dapat diterapkan yakni teori belajar behaviorisme. Mengapa harus teori behaviorisme?.
Teori pembelajaran lahir dari para pemikir dan pakar yang memiliki keahlian di berbagai bidang keilmuwan. Beliau merumuskan teori-teori belajar dan mempraktikannya dalam kehidupan nyata. Salah satunya adalah teori behaviorisme. Teori belajar ini cocok untuk semua jenjang pendidikan. Diantaranya TK, SD, SMA maupun perguruan tinggi. Karena, teori pembelajaran ini bergantung pada 2 kekuatan hubungan yakni antara stimulus dan respon. Stimulus merupakan sebuah rangsangan atau kegiatan belajar apa saja yang diberikan guru kepada siswanya. Sedangkan respon adalah sebuah tanggapan dari kegiatan pembelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dengan kata lain, stimulus yang diberikan oleh guru ini sangat berpengaruh terhadap respon yang akan diberikan oleh peserta didik.
Untuk penerapan teori ini, guru dapat memberikan kesiapan atau menurut konsep belajar Edward Lee Thorndike (Salah satu tokoh pencetus teori belajar behaviorisme) adalah Law of readiness terhadap muridnya. Contohnya pengajar dapat memberitahu siswa mengenai materi yang akan disampaikan di pertemuan selanjutnya. Sampaikanlah dengan Bahasa yang menarik agar peserta didik ‘penasaran’ sehingga mereka pun dapat mempelajari materi tersebut untuk kesiapan di pertemuan selanjutnya. Lebih asyik lagi jika di akhir pembelajaran siswa dapat ditunjuk untuk menyampaikan kesan dan pesan maupun kesimpulan dari materi yang telah disampaikan pada hari ini. Serta sebelum guru menutup pembelajaran berilah ‘quotes’ maupun ‘motivasi’ agar dapat membangun semangat belajar peserta didik. Dengan dilakukannya hal tersebut, diharapkan para peserta didik mampu dalam memahami pembelajaran serta selalu siap untuk belajar di sekolah.
Adapun hal lain yang perlu dilakukan oleh guru agar membangkitkan semangat belajar siswa siswi dalam mengembangkan kompetensi yang ada dalam diri masing-masing mereka adalah dengan menggunakan konsep belajar Law of exercise atau latihan. Peserta didik akan lebih paham jika pembelajaran, materi yang disampaikan, maupun kegiatan di luar jam kelas, misalnya menari, menyanyi ataupun kegiatan non akademik lainnya di ulang berkali-kali dalam arti dilatih secara terus menerus. Mengapa hal tersebut perlu dilakukan?.
Konsep belajar Law of exercise perlu dilakukan karena berdampak pada hasil belajar siswa maupun siswi. Bila peserta didik terus dilatih atau selalu mengulang dalam arti diberi penguatan (reinforcement), maka hasil belajar akan optimal serta mampu untuk menyalurkan potensi yang dimiliki sehingga lahirlah peserta didik yang cerdas dan berprestasi. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator dan juga konselor diharapkan mendampingi secara maksimal serta mampu memahami karakteristik dan psikologis setiap anak. Tingkat pemahaman setiap siswa pasti berbeda. Maka dari itu, Guru dipastikan memperhatikan setiap muridnya. Bimbing satu persatu dan berilah penguatan dalam pembelajaran agar semua peserta didik yang ada dalam kelas dapat memahami apa yang diajarkan oleh pengajarnya.
Guru yang kreatif dan komunikatif dalam proses pembelajaran akan memberikan efek yang baik terhadap respon murid. Semua proses berlangsungnya pembelajaran adalah tergantung cara penyampaian dari seorang guru. Sudah dipastikan jika seorang guru dapat membangun suasana pembelajaran di dalam kelas menjadi lebih seru dan menyenangkan maka respon dari murid akan menghasilkan nilai positif. Dengan kata lain, jika guru mampu untuk membuat siswa maupun siswi memiliki kesiapan dalam belajar, maka proses pembelajaran di dalam kelas akan lebih kondusif, efektif, dan aktif sehingga peserta didik dapat cepat memahami, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan atas apa yang diajarkan oleh pengajarnya.
Selain itu, peran guru tidak hanya memberi materi dan teori. Melainkan memberikan reward maupun apresiasi terhadap siswa yang sudah berhasil mencapai atau melakukan sesuatu atas kerja kerasnya dalam pembelajaran. Reward atau apresiasi ini penting dilakukan agar dapat memotivasi siswa untuk terus berkembang dan belajar. Jika apresiasi ataupun reward tidak dilakukan, maka siswa maupun siswi akan merasa bahwa selama ini hasil belajar maupun hasil kerja kerasnya dalam pembelajaran tidak ada nilainya di mata guru ataupun pengajarnya. Maka perlu diberlakukannya penyampaian apresiasi maupun reward terhadap peserta didik.
Selain apresiasi yang diberikan oleh guru, teman dan lingkungan sekitar juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter setiap peserta didik. Perilaku yang tertanam dalam diri merupakan kendali dari faktor-faktor lingkungan. Contoh simpelnya, jika pergaulan peserta didik kurang baik, maka akan kurang baik juga perilakunya, jikalau peserta didik mampu menempatkan diri serta dapat memilah dan memilih mana yang baik dan buruk maka hasil belajar yang diperoleh akan optimal. Dalam hal teori behaviorisme, perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan apa yang terjadi di masa yang akan datang dan apa yang kita tuai hari ini merupakan akibat dari apa yang kita lakukan di masa lampau.
Guru memiliki peranan penting dalam hal mendidik. Cara penyampaian materi yang disampaikan oleh guru akan berdampak pada respon yang diberikan peserta didik. Maka dari itu, perlunya stimulus yang kuat diberikan kepada setiap murid. Membangun kesiapan dalam pembelajaran, membuat suasana kelas menjadi lebih aktif, serta memberikan penguatan agar hasil dari pembelajaran akan optimal. Sehingga diharapkan siswa maupun siswi mampu berinovasi dan mencetak karya bangsa.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial