Sekolah Tanpa Buku: Tren Digitalisasi Atau Ancaman Literas

Tanggal : 21 May 2025

Ditulis oleh : KIRANA SAFITRI

Disukai oleh : 0 Orang

Di ruang kelas saat ini, buku cetak semakin sulit ditemukan. Tergantikan oleh layar tablet dan laptop, suara lembaran buku yang dulu mulai memudar, digantikan oleh klik dan sapuan jari. Banyak sekolah di Indonesia mulai menerapkan kebijakan “sekolah tanpa buku” sebagai bagian dari peralihan menuju pendidikan digital. Namun, apakah langkah ini menuju masa depan, atau malah menjadi ancaman bagi budaya membaca? 

Berdasarkan laporan Katadata (2023), indeks literasi digital Indonesia pada tahun 2022 naik menjadi 3,54 dari total Skala 5. Meski meningkat, angka ini tetap berada pada kategori menengah, khususnya dalam hal keamanan dan pemikiran kritis digital. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi belum didukung oleh kesiapan yang cukup, termasuk dari pihak siswa. 

Digitalisasi memang telah menjadi fokus utama pemerintah, terbukti melalui program Merdeka Belajar, penyediaan Chromebook, serta platform Rumah Belajar. Pandemi COVID-19 semakin mempercepat penerapan teknologi dalam bidang pendidikan. Namun setelah pandemi, banyak sekolah yang masih menggunakan sistem daring, karena dianggap lebih fleksibel dan sesuai. 

Meskipun dianggap sebagai suatu kemajuan, hilangnya buku fisik menimbulkan kerugian. Para pendidik dan orang tua merasa cemas bahwa membaca di layar dapat mengurangi kemampuan fokus dan pemahaman yang mendalam. Banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca teks yang panjang dalam media cetak lebih efektif untuk mengembangkan pemikiran reflektif dibandingkan dengan layar digital. 

Indonesia masih berjuang dengan rendahnya minat membaca. Meskipun angka 0,001 dalam laporan UNESCO sering diperdebatkan, sebagian besar sepakat bahwa minat membaca masyarakat masih rendah. Mengganti buku cetak dengan versi digital tanpa meningkatkan dasar literasi dapat mengurangi masalah ini. 

Teknologi benar-benar memberikan berbagai kelebihan: akses terhadap ribuan bahan terbuka, pembelajaran yang interaktif, serta efisiensi dalam logistik. Guru dapat mengawasi perkembangan siswa secara langsung, sedangkan siswa dapat belajar sesuai dengan cara mereka. Digitalisasi juga mendukung pengembangan literasi digital yang sangat diperlukan di masa informasi ini. 

Namun, pemanfaatan alat digital juga menimbulkan risiko terganggunya fokus. Alih-alih konsentrasi membaca, siswa dapat memutar untuk membuka media sosial atau aplikasi hiburan. Buku fisik, di sisi lain, cenderung menghasilkan lingkungan pembelajaran yang lebih menyenangkan. 

Masalah lain yang juga sangat penting adalah ketidakmerataan akses. Meskipun tingkat penggunaan internet di tingkat nasional telah mencapai 78%, wilayah terpencil masih mengalami kekurangan infrastruktur. Banyak pelajar yang tidak memiliki perangkat pribadi atau harus mencari sinyal untuk mengakses konten digital. Hal ini dapat memperbesar kesenjangan dalam pendidikan. 

Dari segi psikologis, penggunaan layar yang berlebihan pada anak juga mempengaruhi kesehatan mata, pola tidur, dan perkembangan kognitif. Buku cetak memberikan pengalaman mendalam yang menyentuh, mencium, menandai halaman yang sulit dicari ganti pada layar. 

Oleh karena itu, transformasi digital dalam pendidikan harus dilaksanakan secara bertahap dan mencakup semua pihak. Hanya beralih dari media cetak ke digital tanpa adanya strategi literasi yang solid justru bisa menimbulkan kebingungan dan ketidakadilan. Transformasi ini perlu didukung dengan pelatihan bagi guru, intervensi dalam literasi digital, dan investasi infrastruktur yang seimbang. 

Sekolah yang tidak menggunakan buku bukanlah masalah pada dasarnya. Ia dapat menjadi lambang kemajuan jika diterapkan secara tepat. Namun, hal itu juga dapat menjadi ketidakadilan jika akses dan persiapan tidak seimbang. Literasi tidak hanya berkaitan dengan banyaknya buku yang dibaca, namun juga mengenai kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengolah suatu informasi. 

Jika demikian, pendekatan kombinasi—mengintegrasikan buku fisik dan digital—mungkin menjadi solusi yang paling optimal. Kita tidak sedang memilih antara buku dan layar, melainkan menentukan bagaimana anak-anak memahami dunia. Dalam upaya mencapai kemajuan teknologi, jangan sampai kita kehilangan kualitas berpikir. 

 

 

 

 

 

 

 




POST TERKAIT

POST TEBARU