Solusi dari Miskonsepsi berpikir
Tanggal : 05 Nov 2021
Ditulis oleh : FADHILA UZLIFATI MATSNA
Disukai oleh : 0 Orang
Solusi dari Miskonsepsi Berpikir 'Open-Minded’ Warganet
Oleh: Fadhila Uzlifati Matsna
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Mahasiswa Pendidikan Kimia
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Di era globalisasi, semua aspek kehidupan pasti mengalami perubahan dan perkembangan. Termasuk salah satunya berpengaruh pada cara berpikir manusia. Setiap manusia pasti hidup di lingkungan yang berbeda-beda, sifat, karakter, juga moral yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tinggal. Setiap manusia pun memiliki hak untuk bebas berpendapat. Namun, kebebasan berpendapat tersebut banyak menyebabkan salah tafsir oleh beberapa orang. Bisa kita lihat pada fenomena saat ini, banyak orang yang menggunakan media sosial sebagai wadah berpendapat, tetapi bertolak belakang dengan norma yang berlaku di negara Indonesia ini.
Pergeseran Arti Open-Minded
Open-minded adalah orang yang mau untuk menerima kemungkinan alternatif dan cara pikir yang berbeda, serta mau untuk menghadapi keraguan atas pendirian yang telah ia bangun. Berpikir secara terbuka atau open-minded juga dapat diartikan sikap terbuka terhadap berbagai pendapat, informasi, ide serta melihat suatu hal dari berbagai sisi, bukan hanya dari satu sisi saja.
Namun, justru kini open-minded diartikan sebagian besar pengguna media sosial sebagai golongan orang-orang yang rasis, menormalisasi budaya barat dan menjadikan budaya barat sebagai kiblat dalam kehidupannya. Pandangan ini timbul dari para pelaku yang sok menganggap dirinya open-minded, sehingga makna open-minded itu akhirnya dianggap buruk.
Mereka yang menganggap dirinya open-minded akan merasa menjadi orang yang paling benar di dunia. Mereka memandang sebelah mata orang yang berbeda pendapat dengannya dan menyebutnya dengan sebutan orang 'kuno' karena pemikirannya yang sebenarnya masih memegang erat adat dan norma budaya setempat serta etika dalam bermedia sosial. Mereka yang merasa pemikirannya terbuka menganggap dirinya mudah menerima pandangan baru, namun justru malah mengusik pilihan hidup orang lain dan meremehkan pemikiran orang yang tak terbiasa dengan pandangan baru atau yang disebut close-minded.
Penyebab Miskonsepsi ‘Open-Minded’
Perang pendapat antar warganet pun sering terjadi di media sosial. Hal itu terjadi karena terkadang, ketika kita menyimpulkan sesuatu, kita terikat dengan suatu kepercayaan tertentu, atau frame, yang membatasi sudut pandang kita. Maka dari itu, manusia rentan terhadap kesalahan menyimpulkan sesuatu. Tak hanya itu, karena manusia adalah makhluk hidup yang unik, kesimpulan dan pendapat masing-masing individu pun pastinya berbeda beda.
Kemampuan berpikir kritis setiap orang berbeda-beda, menurut Stanovich (2016) sebagian perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan dalam pengetahuan dan Keterampilan yang dimiliki individu. Selain perbedaan dalam pengetahuan dan keterampilan, juga terdapat perbedaan dalam hal disposisi, sifat, dan sikap dari masing-masing individu. Salah satu bagian dari disposisi yang dipandang melandasi berpikir kritis adalah gaya berpikir aktif-terbuka (actively open-minded thinking.
Membangun Jiwa Berpikir Open-Minded
Tak bisa dipungkiri, perkembangan zaman menuntut kita untuk beradaptasi agar bisa bersaing dengan individu lain. Pada dasarnya jiwa berpikir open-minded penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika sudah terjun ke dunia kerja. Sebab, setiap orang pasti unik dan berbeda, jika kita tidak memiliki pemikiran yang terbuka maka kita akan kesulitan mengidentifikasi masalah, menghasilkan solusi yang efektif, dan sulit bersosialisasi.
Ada beberapa cara yang dapat diterapkan agar kita bisa mempunyai pemikiran terbuka. Pertama, rajinlah bersosialisasi dan memperluas relasi. Dengan bersosialisasi kita bisa bertukar pendapat dan menambah wawasan kita. Kedua, jauhi kebiasaan berasumsi. Terlalu banyak berasumsi menjadi penghambat untuk berpikiran terbuka. Lebih baik carilah informasi secara langsung daripada hanya berasumsi terus menerus. Ketiga, bijaklah dalam merespons sesuatu. Jika mendapatkan informasi yang belum tentu kebenarannya, maka jangan langsung menyimpulkan informasi itu benar. Orang yang berpikiran terbuka akan menanggapi sesuatu dengan bijak dan santai. Jangan sampai pemikiran atau kesimpulan yang salah kita jadikan sebagai dalih pembenaran ‘open-minded’.
Itulah beberapa miskonsepsi berpikir open-minded dan cara membangun jiwa berpikir open-minded yang benar. Sebagai warganet yang cerdas, kita harus bisa memahami perbedaan antar sesama dan tetap menerapkan etika dalam bermedia sosial.
Link koran : http://m.harianmomentum.com/read/37456/harian-momentum-edisi-4-november-2021
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial