Strategi Coping Stress Memerangi Stress Akademik di Masa Pandemi Covid-19
Tanggal : 09 Apr 2021
Ditulis oleh : SOFI NIHAYATUL KAMILAH
Disukai oleh : 0 Orang
Di masa pandemi, berbagai kebijakan baru yang ditegakkan oleh pemerintah menjadikan seluruh individu harus bisa melakukan adaptasi terhadap situasi dan kondisi yang berdampingan dengan virus Covid-19. “Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah dari rumah perlu terus digencarkan untuk mengurangi penyebaran Covid-19” demikian yang disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo. Kebijakan diambil dalam kondisi darurat pandemi yang jumlah kasusnya semakin meningkat. Sehingga kebijakan ini dirasa cukup tepat untuk mengurangi potensi penyebaran Covid-19, meski dalam perjalanannya menimbulkan berbagai masalah baru bagi setiap individu, termasuk pelajar.
Permasalahan yang memprihatinkan para pelajar adalah masalah yang dihadapi dibebankan dengan model pembelajaran online, dimana proses belajar menggunakan media online yang lebih melelahkan dan membosankan, karena mereka tidak bisa langsung berinteraksi langsung baik dengan guru maupun teman. Apabila hal ini terus menerus berlanjut akan mengakibatkan frustasi dan stress. Stress berupa tekanan atau ketegangan yang dialami oleh pelajar yang berkaitan dengan kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dinamakan stress akademik.
Stress akademik dialami oleh setiap individu, tidak terkecuali siswa di TK, SD SMP, SMA, bahkan mahasiswa diperguruan tinggi. Mahasiswa perguruan tinggi memiliki resiko yang sangat tinggi terjadi stress. Berdasarkan penelitian Zha dan Wang (2020) menyimpulkan bahwa mahasiswa China menunjukkan kecemasan yang lebih tinggi selama pandemi Covid-19. Perubahan kurikulum, lingkungan, iklim pembelajaran baru menyebabkan timbulnya stress akademik. Bahkan mahasiswa yang sedang menyelasaikan studi mengalami kesulitan dalam masa pandemi, tugas-tugas lapangan tidak dapat dilakukan secara langsung. Sehingga harus menggganti topik pembahasan, bahkan tidak sedikit yang menunda untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Kondisi tersebut diperparah dengan kondisi keuangan yang dalam beberapa kasus bermasalah. Sehingga menyebabkan mahasiswa harus mengambil cuti. Dampak yang terjadi mengakibatkan mahasiswa mengalami frustasi dan stress.
Frustasi berkepanjangan pelajar dapat mempengaruhi kondisi fisik, mental, dan emosi hingga menimbulkan stress berat serta bisa mengganggu proses pendidikan. Maka dari itu, dimana virus Covid-19 yang masih berkeliaran disekitar kita, penting sekali untuk menjaga kesehatan fisik dan juga mental. Salah satu strategi mencegah stress akademik yang dialami pelajar ialah coping stress.
Menurut Lazzarus dan Folkman, coping stress merupakan suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik tuntutan yang berasal dari individu maupun lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi penuh tekanan. Fungsi coping stress, pertama emotion-focused coping, digunakan mengatur respons emosional terhadap stress. Pengaturan ini melalui perilaku individu, seperti mengggunakan obat penenang, bagaimana meniadakan fakta yang tidak menyenangkan, melalui strategi kognitif. Bila individu tidak mampu mengubah kondisi yang stressfull, individu akan cenderung mengatur emosinya. Fungsi kedua, problem-focused coping untuk mengurangi stressor, individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan yang baru. Individu cenderung menggunakan strategi ini jika dirinya yakin akan dapat mengubah situasi, dan biasanya digunakan oleh orang dewasa.
WHO merumuskan strategi untuk menghadapi stress selama pandemi Covid-19:
Pertama, jika kita merasa sedih, tertekan, bingung, takut, dan marah, semua itu adalah hal yang lumrah selama krisis terjadi, maka kita diperlukan berbincang dan berbagi cerita dengan orang dipercayai bisa mengurangi rasa tertekan yang dialami.
Kedua, selama pandemi, kita lebih dianjurkan berdiam diri di rumah untuk meminimalisir penyebaran virus dan kontak fisik dengan orang banyak, maka kita harus bisa menjaga gaya hidup sehat dengan asupan gizi yang cukup, pola tidur yang baik, olahraga, dan berinteraksi dengan orang-orang yang disayang bisa dilakukan selama berdiam diri dirumah.
Ketiga, kita harus menghindari rokok, alkohol, dan narkotika untuk menyelesaikan masalah emosi.
Keempat, kita harus pandai dalam mencari fakta-fakta dan info terbaru yang dapat membantu dan menentukan tahap pencegahan yang tepat dan menghindari berita-berita yang valid dan kredibel.
Kelima, kita harus mengurangi kecemasan dengan membatasi media yang menyebarkan informasi yang membuat semakin cemas dan takut.
Keenam, mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki kita untuk mengatur kemampuan yang dimiliki untuk mengatur emosi selama masa pandemi ini.
Setiap orang memiliki cara mengatasi stress yang berbeda-beda, cara tadi perlahan berubah menjadi kebiasaan, jika dilakukan terus menerus. Ada yang menghadapi stress dengan cara sehat atau justru sebaliknya dengan melakukan hal-hal diluar batas. Diana Ballesteros dan Janis Withlock mengemukakan dua jenis cara mengatasi stress, yakni : pertama, strategi yang baik dalam menghadapi stress : berolahraga dengan rutin, memiliki alokasi waktu beristirahat dan perawatan diri, menyeimbangkan antara bekerja dan bermain, serta membuat meditasi dan manajemen waktu. Kedua, strategi yang tidak baik : mengkonsumsi alkohol dan narkotika, melakukan kriminalitas, menunda pekerjaan, dan menyakiti diri sendiri dengan makan dan minum berlebihan.
Dalam stress akademik bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu menanggapi ketegangan sebagai sesuatu positif dan menanggapi ketegangan dengan negatif. Kita bisa meminimalisir ketegangan dengan berpikir positif. Karena berpikir positif menimbulkan pikiran yang bebas dan tekanan seseorang akan menurun sehingga stress bisa diminimalisir. Berbeda ketika kita berpikir negatif, biasanya tekanan dan ketegangan kita naik hingga berujung frustasi bahkan stress. Masyarakat Indonesia yang religius memandang Covid-19 sebagai ujian yang harus dilalui. Berpikir positif dengan selalu menjaga imunitas tubuh dan spiritualitas menjadi salah satu cara agar terhindar dari stress, termasuk stress akademik. Kita harus bisa memanfaatkan waktu yang sebaik-baiknya untuk beraktivitas secara positif dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan agar frustasi bisa diminimalisir sehingga tidak menimbulkan stress di masa pandemi Covid-19.
koran : matabanua
link : https://matabanua.co.id/2021/04/08/e-paper-harian-pagi-mata-banua-kamis-8-april-2021/