Terapan Pembelajaran Humanisme di Era Generasi Z
Tanggal : 28 Dec 2023
Ditulis oleh : SHERLY DYAH PUSVITASARI
Disukai oleh : 0 Orang
Generasi tertuju kepada semua orang yang lahir dan hidup pada waktu yang hampir bersamaan atau bisa diartikan sebagai sekelompok orang yang memiliki siklus usia yang rentang atau bersamaan tidak jauh beda dengan sebayanya. Dituliskan bahwa ada empat generasi yang ada setelah terjadi perang dunia kedua yaitu pertama, Baby Boom lahir di antara tahun 1946-1964. Kedua, Generasi X lahir di antara tahun 1965-1976. Ketiga, Generasi Y lahir di antara tahun 1977-1997. Keempat, Generasi Z yang lahir di antara tahun 1998-sekarang.
Di era generasi Z ini memiliki banyak berbagai sifat dan karakteristik yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan yang paling menonjol saat ini ialah dengan adanya kecanggihan teknologi, Gen Z saat ini sangat terfokus akan kecanggihan teknologi. Adanya teknologi saat ini semua bisa di praktiskan oleh manusia seperti adanya tugas berkelompok, mereka sudah jarang berkumpul untuk membahas akan tugas kelompok itu,mereka lebih memilih dengan berkelompok secara Online lewat Hp. Namun tidak selamanya teknologi ini memberikan keuntungan, teknologi ini bisa menyebabkan kurangnya sosialisasi, kurangnya toleransi, atau kurangnya interaksi terhadap sesame. Generasi Z ini akan menjadi generasi yang paling stres dikaitkan dengan karakter yang tidak memiliki Batasan dengan orang lain, sehingga memungkinkan manusia itu labil dalam menerima informasi dan kondisi sifat yang mudah berubah. Di konteks belajar, generasi Z ini bisa di kaitkan dengan pembelajaran yang ada, seperti pembelajaran humanisme.
Pembelajaran humanisme ialah pembelajaran yang dimana kita belajar hal baik bagi kemanusiaan dan bisa membuat orang mampu mengenali diri sendiri. Humanisme ini juga menekankan martabat dan nilai-nilai kemanusiaan yang dimana bagian dari aliran berpikir kritis untuk menjunjung tinggi manusia, humanisme menekankan harkat, peran, dan tanggung jawab kemanusiaan. Humanisme selalu dikaitkan dengan filosofis pandangan yang menempatkan manusia pada posisi tertentu dan menjadikannya seukuran segala sesuatu. Humanisme ini sudah terdoktrin ke seluruh manusia bahkan seluruh penjuru yang ada di bumi. Dari itu kita didoktrin untuk memiliki sikap humanisme.
Dengan berkaitannya humanisme dan generasi Z, pembelajaran yang dapat di ambil yakni seperti lebih membutuhkan sikap saling menghargai dan lebih saling memahami, dikarenakan pada generasi Z ini lebih menuju ke generasi yang manja, yang dimana tidak dihargai sedikit dia bisa terkena yang namanya mental health.
Hasil riset menunjukkan bahwa Generasi Z mengadapi tiga masalah yang utama yang berkaitan dengan pembelajaran yaitu kurangnya konsentrasi, kurang keterlibatan dan kurangnya sosialisasi. Untuk mengatasi ketiga masalah itu dibutuhkannya pembelajaran yang reflektif, kreatif dan kolaboratif. Pembelajaran yang reflektif ialah pembelajaran yang mengedepankan proses belajar berpikir dengan berdasarkan refleksi diri, pengalaman masa lalu, dan harapan masa depannya. Pembelajaran kreatif ialah pembelajaran yang mengharuskan guru dapat memotivasi siswanya untuk memunculkan kreatifitasnselama pembelajaran. Dan Pembelajaran kolaboratif ialah pembelajaran yang mengedepankan sikap kerja sama atau gotong royong dalam belajar sehingga menemukan titik tuju dari apa yang dipelajari.
Kesenjangan antara generasi Z dan dengan generasi sebelumnya bisa di jembatani dengan karakteristik pembelajaran dan strategi dengan melalui strategi ACT yang dimana “A” untuk assessing and appreciating learner characteristics, “C” untuk committing to relationships and collaboration, “T” untuk teaching with interactive learning techniques. Karena banyaknya karakter dari generasi Z maka guru dituntut untuk menggunakan metode belajar sesuai dengan zamannya khususnya dalam menginternalisasi nilai-nilai humanisme.
Dalam pembelajaran humanisme ini diterangkan juga bahwa pembelajaran ini tentang memanusiakan manusia sehingga jika di lihat dari pergaulan sosial generasi z saat ini diperkenankan untuk lebih menghargai atau lebih berhati-hati dalam berbicara karena takutnya kita tidak berniat untuk menyinggung orang tetapi orang itu malah tersinggung akan percakapan kita sehingga bisa menjadikan orang itu dendam terhadap kita dan bisa melakukan hal yang tidak manusiawi. Tujuan dari memanusiakan manusia itu untuk menjadikan kita sebagai manusia agar bisa lebih menjaga sekitarnya dan tidak merusaknya, karena adanya teknologi itu juga pendidikan ini menjadi salah satu tampungan untuk mengajarkan cara bagaimana mengelola sekitar kita dengan baik dan benar. Selain hal memanusiakan manusia, untuk di jadikan bahan pelajaran di dalam kelas maka humanisme di generasi Z ini lebih berfokus ke hal yang mengembangkan potensi atau meningkatkan kreativitas dari dalam diri kita sendiri dan untuk orang yang tidak mau memahami potensi dirinya maka akan ketinggalan dalam proses pembelajaran ini.
Dalam proses pembelajaran ini, dalam kehidupan sehari-hari kita di zaman sekarang ini banyak memiliki kebutuhan. Apalagi masa sekarang generasi Z yang dimana ada namanya per-circle-an. Circle diartikan dengan pertemanan tetapi dalam Bahasa gaulnya. Circle bisa termasuk dengan kebutuhan untuk diterima (Social Needs) dan kebutuhan untuk dihargai (Self Esteem Needs), karena bisa di lihat di zaman sekarang jika kita tidak mempunyai circle maka kita seperti tidak dianggap atau dihargai. Maka dari itu kalau mempunyai circle di zaman ini maka setidaknya dari circle itu bisa di apresiasikan atau di hargai. Selain dengan kebutuhan di hargai, di generasi Z ini kebutuhan fisiologis yang semestinya kebutuhan pokok yang sederhana sekarang makin banyak kebutuhan pokoknya, seperti contohnya Hp, saat ini Hp sudah termasuk ke dalam kebutuhan pokok manusia, karena zaman sekarang banyak yang berkata lebih baik tidak makan daripada tidak mempunyai Hp. Kebutuhan rasa aman ini juga di butuhkan oleh generasi Z yang dimana pada zaman sekarang maruknya korban kekerasan, korban bully, serta yang sedang banyak terjadi saat ini yaitu korban Mental Health atau kesehatan mental yang menyebabkan orang mengakhiri hidupnya. Selain itu juga, ada kebutuhan untuk mengembangkan pontensi yang ada dalam diri kita sendiri, yang dimana kebutuhan ini tertuju pada kita sendiri untuk lebih mengenali diri sendiri lebih dalam.
Adanya kebutuhan dalam pembelajaran humanisme ini, menjadikan pembelajaran ini memiliki beberapa tahapan dalam pembelajaran yaitu pertama belajar teknis, belajar dengan berinteraksi dengan alam atau lingkungan, pembelajaran ini bisa membuat kita lupa akan sedikit masalah yang ada karena kita bisa berinteraksi dengan hal yang membuat kita tenang contohnya suasana yang di alam yang ada di pantai atau di daerah mana saja. Kedua, belajar praktis, sudah tidak sama dengan dulu lagi. Kita zaman sekarang bisa belajar dengan praktis. Yang dimaksud dalam praktis disini contohnya ialah seperti yang dahulunya membawa banyak buku di sekolah sekarang kita bisa membawa satu buku saja sudah cukup atau yang sudah makin maruk hanya membawa Hp saja sudah cukup karena didalam hp nya sudah terdapat file-file yang sudah tidak terbawa lagi hanya tinggal di buka melalui Hp.
Maka dari itu, pembelajaran humanisme bagi generasi Z ini sangat banyak manfaatnya untuk di pelajari di zaman ini karena di zaman ini sudah banyak kurangnya, seperti kurangnya rasa saling menghargai, saling toleransi. Hal ini di karenakan generasi Z lebih terfokus ke percanggihan teknologi sehingga hal-hal tersebut di sepelekan di zaman ini. Pembelajaran humanisme ini mengajarkan kita untuk selalu memanusiakan manusia supaya saling terjalin rasa kemanusiaan di antarsesama nya.