Urgensi Kesehatan Mental, Perlu Dijaga Sejak Dini
Tanggal : 18 Jun 2023
Ditulis oleh : ANNISA ZULFANIA
Disukai oleh : 1 Orang
Urgensi Kesehatan Mental, Perlu dijaga Sejak Dini
Oleh: Annisa Zulfania
Mahasiswa Pendidikan Kimia
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Belakangan ini marak sekali pembahasan yang membicarakan terkait masalah kesehatan mental terutama pada remaja. Pasalnya tak sedikit kasus yang terjadi dilaporkan dilatar belakangi oleh kesehatan mental. Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Dan yang perlu dikhawatirkan lagi adalah sebagian anak-anak dan remaja yang mengalami masalah kesehatan mental belum mendapatkan intervensi yang tepat pada usia yang cukup dini. Padahal kesehatan mental dan kesejahtaraan emosional anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik mereka.
Kesehatan mental dan fisik masih terkait erat. Kesehatan fisik remaja cenderung diarahkan di sekolah dan di rumah, karena masalah fisik lebih mudah diidentifikasi daripada masalah kesehatan mental. Namun, banyak masalah kesehatan mental yang diabaikan dan jika diabaikan justru merugikan dan mengancam terutama bagi anak muda, dan bagi mereka yang mentalnya sudah lama rapuh .
Mental yang sehat dan baik memungkinkan tubuh berfungsi dengan baik juga, serta membantu membangun hubungan sosial dengan orang lain. Kesehatan mental meliputi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial kita. Hal itu berpengaruh pada pola pikir, perasaan, dan tindakan. Kesehatan mental yang baik juga dapat membantu dalam mengendalikan stres, berinteraksi dengan orang lain, dan menentukan keputusan.
Kesehatan mental tersebut sangatlah penting dan perlu dijaga sejak dini. Perlu untuk diketahui juga bahwasannya kesehatan mental itu sendiri berbeda dengan gangguan mental. Menurut Centers for Disease Control (CDC), penyakit mental adalah setiap gangguan yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, suasana hati atau pikiran dan tingkah laku seseorang, seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar atau skizofrenia. Penyakit semacam itu bisa bersifat sesekali atau jangka panjang (kronis) dan memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain, dan ini terjadi setiap hari. Sedangkan kesehatan mental meliputi kesejahteraan emosional, psikologis, serta sosial. Hal tersebut kemudian berpengaruh pada pola pikir, perasaan, dan tindakan.
Kesehatan mental dan fisik adalah bagian yang sama pentingnya dari kesehatan secara keseluruhan. Penyakit mental, terutama depresi, meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan fisik, terutama penyakit jangka panjang, seperti stroke, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Begitu pula sebaliknya penyakit kronis dapat meningkatkan risiko penyakit mental. Oleh karena itu, kesehatan mental penting di setiap tahap kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa. Menjaga pikiran agar tetap sehat adalah bagian penting dari kesehatan dan kesejahteraan kita secara keseluruhan.
Kesehatan mental merupakan cara menggambarkan kesejahteraan sosial dan emosional. Anak-anak dan remaja memerlukan kesehatan mental yang baik untuk berkembang, membangun hubungan sosial yang kuat, beradaptasi dengan perubahan dan menghadapi tantangan hidup. Anak dengan kesehatan mental yang baik seringkali menunjukkan ciri-ciri seperti merasa lebih bahagia dan lebih positif tentang diri mereka sendiri dan menikmati hidup, bangkit kembali dari kekesalan dan kekecewaan, memiliki hubungan yang lebih sehat dengan keluarga dan teman, melakukan aktivitas fisik dan makan makanan yang sehat, turut berpartisipasi dalam suatu kegiatan, memiliki rasa pencapaian, bisa bersantai dan tidur nyenyak, merasa nyaman di komunitas mereka.
Kesehatan fisik adalah bagian besar dari kesehatan mental. Agar dapat membantu anak tetap sehat secara emosional dan fisik dapat dilakukan dengan mendorong mereka untuk tetap aktif, memiliki lebih banyak energi, merasa percaya diri, makan makanan yang sehat, dan tidur cukup yang teratur. Selain kesehatan fisik, perlu juga untuk membantu anak-anak dengan kesehatan mentalnya. dapat dimulai degan melakukan percakapan yang tulus dengan anak-anak tentang kondisi dan kesehatan mental mereka. Itulah langkah pertama yang perlu dilakukan. Jelaskan bahwa orang dewasa juga memiliki masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Tunjukkan bahwa lebih mudah untuk mendapatkan bantuan jika anak memiliki dukungan orang lain.
Bantu anak memahami bahwa tidak jarang anak muda merasa cemas, stres, atau sedih. Juga beri tahu mereka bahwa bersikap terbuka tentang pikiran dan perasaan pribadi bisa menakutkan. Beri tahu anak bahwa berbicara tentang berbagai hal sering kali dapat membantu menempatkan berbagai hal dalam perspektif dan mengklarifikasi perasaan. Seseorang dengan pengalaman yang lebih banyak atau berbeda, seperti orang dewasa, dapat menyarankan pilihan yang lebih bervariatuf yang tidak mereka pikirkan sebelumnya.
Sarankan orang lain yang dapat diajak bicara oleh anak jika mereka tidak ingin berbicara. Misalnya bibi atau paman, teman dekat keluarga, pelatih olah raga atau tokoh agama terpercaya, orang lanjut usia atau dokter umum. Beri tahu anak bahwa berbicara dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya bersifat rahasia. Para profesional ini tidak dapat memberi tahu orang lain kecuali mereka mengkhawatirkan keselamatan anak atau orang lain.
Tekankan bahwa anak tersebut tidak sendiri. Dan bersedialah untuk selalu bisa menerima masukan dari anak kapanpun dan dimanapun. Ketika menyatakan keprihatinan kepada anak, mereka mungkin menolak bantuan apa pun atau mengatakan tidak ada yang salah. Banyak anak muda tidak mau mencari bantuan sendiri. Karena itu, perlu menyatakan kepedulian dengan mereka dan jangan sungkan mencari bantuan kepada pihak yang professional seperti psikolog jika terdapat suatu kendala. Sehingga gejala-gejala terkait masalah kesehatan mental pada anak dapat tertangani sejak dini.
https://epaper.waspada.id/epaper/waspada-sabtu-17-juni-2023/
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial