Belajar dengan Membangun Pengetahuan dan Pemahaman

Tanggal : 08 Dec 2023

Ditulis oleh : RANIA NUR ANGGREISNI

Disukai oleh : 0 Orang

Belajar telah dilakukan oleh manusia sejak pertama kali lahir ke dunia sampai pada akhir hayatnya. Tidak hanya dilakukan di sekolah atau lembaga pendidikan saja, belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sumber belajar pun bukan hanya berasal dari buku dan penjelasan dari guru. Merujuk kepada pepatah, “pengalaman adalah guru terbaik” artinya dari sebuah pengalaman terdapat pelajaran yang dapat diambil. Namun, di dalam proses belajar sering kali muncul masalah-masalah yang menyebabkan proses belajar menjadi kurang bermakna.

Ada banyak penyebab belajar menjadi kurang bermakna, salah satunya karena hanya belajar secara teori tanpa dihadapkan dengan masalah yang nyata. Selain itu, guru yang terlalu menyuapkan pelajaran kepada muridnya juga menjadi alasan belajar tidak efektif karena hanya bersifat satu arah. Metode mengajar tradisional, contohnya ceramah yang bersifat satu arah harus dibarengi dengan metode atau cara lain supaya efektif. Pada dasarnya manusia hanya memiliki waktu untuk fokus menyerap suatu informasi selama kurang lebih 30 menit saja. Untuk waktu selanjutnya dapat digantikan oleh sesi bertanya atau metode lainnya supaya murid tidak belajar dengan pasif.

Di dunia pendidikan, dikenal teori-teori belajar yang secara tidak sadar diterapkan oleh guru dan murid. Salah satunya teori belajar konstruktivisme. Apa itu konstruktivisme? Kosntruktivisme berasal dari kata konstruk yang sering kita dengar dan gunakan saat membicarakan sebuah proses pembangunan. Tetapi maksud dari kata ‘konstruk’ disini bukanlah membangun sebuah bangunan layaknya gedung, melainkan membangun sebuah pengetahuan. Menurut Baharudin dan Esa (2015) inti dari belajar konstruktivisme yakni dimana seseorang membangun dan menciptakan pengetahuan dengan cara memberi makna pada pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dialami. Jadi, teori belajar konstruktivisme merupakan teori dimana murid secara aktif membangun pengetahuan dan pemahamannya dari pengalaman.

Terdapat beberapa ahli yang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang teori ini, misalnya saja Jean Piaget. Piaget dalam (Siregar dan Hartini, 2010) menyampaikan pengetahuan merupakan hasil bentukan manusia dimana proses pembentukan pengetahuan itu berjalan terus menerus dan kerap kali terjadi rekonstruksi karena adanya pemahaman yang baru. Untuk membangun atau membentuk sebuah pengetahuan tidak bisa berlangsung hanya sekali, tetapi melalui proses yang berjalan terus menerus. Rekonstruksi yang dimaksud bisa berasal dari ide orang lain yang berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki murid. Ide orang lain juga dapat dijadikan bahan evaluasi tentang pemahaman murid.

Lorsbach dan Tobin (1992) dalam (Siregar dan Nara, 2010) mengungkapkan bahwa pengetahuan bukanlah sebuah benda yang serta merta dapat dipindahkan dari otak orang yang mengetahui kepada orang yang belum mengetahui. Murid yang berperan secara aktif untuk membangun pemahamannya sendiri. Lantas, bagaimana peran guru jika murid sediri yang harus membangun pemahamannya sendiri? Walaupun demikian peran guru tetap diperlukan untuk memfasilitasi kebutuhan murid. Siregar dan Hartini (2010) menjelaskan seorang guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Dalam belajar konstruktivisme, guru dituntut dapat memahami cara pandang murid dalam belajar. Disini ditekankan bahwa mengajar atau berceramah bukanlah tugas utama seorang guru. Peran guru disini adalah memastikan bahwa murid dapat membangun pengetahuannya dengan baik. Siregar dan Hartini (2010) juga memaparkan peran guru sebagai fasilitator dan mediator bagi murid, yaitu : memberikan kegiatan-kegiatan yang dapat merangsang rasa ingin tahu murid, membantu murid agar percaya diri dalam mengungkapkan gagasan, serta memonitor dan mengevaluasi pemikiran siswa berjalan atau tidak.

Kemudian ada Jerome Brunner yang memiliki pandangan tentang teori belajar kosntruktivisme. Salah satu penemuannya dalam bidang psikologi pendidikan yaitu model pembelajaran discovery learning (belajar penemuan). Menurut Baharudin dan Esa (2015) melalui discovery learning ini, murid belajar secara aktif dengan konsep-konsep dan guru mendorong murid untuk mempunyai pengalaman dan menghubungkan pengalaman-pengalaman tersebut untuk menemukan sebuah prinsip bagi mereka sendiri. Sebagai contoh, untuk memahami konsep larutan siswa tidak harus menghafalkan definisi apa itu larutan, tetapi guru minta murid untuk menyebutkan ciri-ciri larutan, lalu guru membimbing murid untuk mendefinisikan larutan. Contoh diatas merupakan pengetahuan yang didapat dari proses induksi, dimulai dari ciri-ciri larutan yang khusus menjurus kepada definisi larutan yang umum (Siregar dan Hartini, 2010). Keuntungan dari discovery learning atau belajar penemuan yaitu siswa memiliki motivasi untuk memecahkan masalah (problem solving) dengan mengelola informasi yang ada.

Dewasa ini, belajar dengan menghafal menjadi lumrah di kalangan para murid. Padahal menghafal bukan satu-satunya cara untuk belajar terlebih setiap orang memiliki daya ingat yang berbeda. Hal ini kurang efektif dan kurang bermakna dalam belajar dikarenakan murid mungkin saja melupakan hafalannya. David Ausubel, seorang psikolog Amerika turut berperan dalam teori belajar konstruktivisme dengan konsep belajar bermakna (meaningful learning). Sebetulnya, Ausubel membantah teori Brunner tentang belajar penemuan (discovery learning). Tidak semua murid memiliki niat atau motivasi sendiri untuk belajar, melainkan di kondisi tertentu murid juga membutuhkan motivasi eksternal. Cahyo (2013, 122) dalam (Darmayanti, dkk. 2023) menjelaskan faktor utama yang memengaruhi belajar ialah apa yang diketahui oleh murid. Menurut Darmayanti, dkk (2023) belajar bermakna adalah kondisi dimana seseorang dapat mengaitkan ilmu yang baru didapatkan dengan ilmu yang telah diketahui sebelumnya.

Tokoh terakhir yang akan dibahas dalam tulisan ini yaitu Lev Vygotsky. Vygotsky merupakan seorang psikolog Rusia yang dikenal dengan kontribusinya tentang teori perkembangan anak. Disamping itu Vygotsky juga mempunyai ide lain yang berkaitan dengan belajar kosntruktivisme, disebut teori scaffolding. Menurut Siregar dan Hartini (2010) scaffolding adalah memberikan bantuan kepada seseorang di awal proses belajarnya, kemudian mengurangi bantuan tersebut setelah orang tersebut dirasa mampu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Sebagai contoh, saat mengerjakan sebuah soal perkalian, guru membantu muridnya untuk mengerjakan soal tersebut. Setelah dirasa murid tersebut mampu mengerjakan, guru kemudian memberikan kesempatan kepada muridnya untuk mengerjakan sisa soal secara mandiri.

Slavin (1994) dalam (Baharudin dan Esa, 2015) memaparkan strategi yang digunakan dalam pendekatan belajar konstruktivisme sebagai berikut: 1) Murid belajar dari masalah yang kompleks, kemudian didapatkan keterampilan yang dibutuhkan. 2) Murid belajar dalam sebuah kelompok belajar, agar konsep yang sulit dipahami secara mandiri dapat didiskusikan bersama. 3) Murid menghubungkan materi yang diketahuinya dengan materi yang baru, sehingga terdorong untuk bertanya, membuat kesimpulan, dan membuat analogi.

Kesimpulan dari teori belajar konstruktivisme yaitu merupakan merupakan teori dimana murid secara aktif membangun pengetahuan dan pemahamannya dari pengalaman. Pengetahuan bukanlah sebuah benda yang dengan mudahnya dapat dipindahkan dari orang yang memahami kepada orang yang belum memahami. Untuk membangun atau membentuk sebuah pengetahuan tidak bisa berlangsung hanya sekali, tetapi melalui proses yang berjalan terus menerus.

Dalam belajar konstruktivisme, guru dituntut dapat memahami cara pandang murid dalam belajar. Terdapat metode atau strategi yang dapat digunakan oleh guru dalam proses belajar murid yang sebelumnya telah dijelaskan. Misalnya, discovery learning (belajar penemuan oleh Brunner, pengetahuan didapat dari proses induksi, dimulai dari ciri-ciri yang khusus menjurus kepada definisi yang umum. Teori belajar bermakna oleh Ausubel, murid dikenalkan oleh metode belajar yang lebih bermakna ketimbang menghafal. Belajar akan bermakna saat murid dapat mengaitkan ilmu yang baru didapatkan dengan ilmu yang telah diketahui sebelumnya. Vygotsky dengan teori scaffloding-nya yang berisi bagaimana porsi bantuan yang pas untuk murid, sehingga murid dapat berkembang meskipun memperoleh bantuan. Pada intinya, teori belajar konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan diperoleh dari pembentukan pengetahuan oleh pembelajar.

https://m.harianmomentum.com/read/50452/harian-momentum-edisi-1-desember-2023

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




POST TERKAIT

POST TEBARU