Broken home bukan alasan untuk tidak sukses

Tanggal : 17 Nov 2021

Ditulis oleh : INTAN KURNIA ROMADHONI

Disukai oleh : 0 Orang

Meningkatnya kasus pernikahan dan perceraian di kalangan artis dan masyarakat menjadikan istilah “broken home” menjadi populer. Broken home adalah suatu kondisi di mana sebuah keluarga kehilangan perhatian atau kasih sayang dari orang tua karena berbagai alasan seperti perceraian. 

data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), terdapat 3,97 juta penduduk yang berstatus perkawinan cerai hidup hingga akhir Juni 2021. Jumlah itu setara dengan 1,46% dari total populasi Indonesia yang mencapai 272, 29 juta jiwa. Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi yang memiliki jumlah perceraian tertinggi pada 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada 65.755 perceraian yang terjadi di Jawa Tengah pada tahun lalu. Posisi selanjutnya ditempati Jawa Timur dan Jawa Barat dengan perceraian masing-masing sebanyak 61.870 dan 37.503.

Menjadi seorang anak yang broken home, bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap anak di dalam suatu keluarga. Melihat ayah dan ibu bertengkar di depan matanya setiap malam serta melihat mereka saling berjalan berjauhan atau sudah tidak mesra lagi seperti dulu adalah sebagian besar dari apa yang tak mereka inginkan. Kata-kata cerai atau pisah itulah yang merupakan awal dari ketakutan terbesar mereka. Perceraian, bagi kedua pasangan yang telah menikah, akan tetapi memiliki konflik dalam keluarganya terkadang adalah sebuah solusi yang mereka pikir akan mengakhiri permasalahan mereka. Namun, tak jarang mereka secara tak sadar menganggap itu hal yang terbaik, dan secara tak sengaja pula menjadikan anak-anak sebagai 'korban' dari keputusan mereka.  

Menjadi anak broken home dalam sebuah rumah bukanlah keinginan setiap anak dalam keluarga. Sering kali mereka tidak ingin melihat ayah dan ibu mereka bertengkar di depan mereka setiap malam, berjalan jauh, atau menjadi kurang mesra dari sebelumnya. Kata-kata cerai atau perpisahanlah yang memulai ketakutan terbesar mereka. Perceraian bisa menjadi solusi yang diyakini oleh kedua pasangan yang berkonflik dalam keluarga untuk mengakhiri masalah, namun tak jarang mereka secara tidak sadar menganggap itu hal yang terbaik, dan secara tak sengaja pula menjadikan anak-anak sebagai 'korban' dari keputusan mereka. 

Menjadi anak dari keluarga berantakan bukanlah yang mereka inginkan. Broken Home Children adalah kata yang menakutkan bagi anak-anak yang telah berpisah dengan keluarganya. Adanya stigma negatif dari masyarakat tentang istilah broken home tanpa sadar stigma itu dapat menghancurkan hidup mereka. Mereka butuh motivasi untuk membuat mereka dapat bangkit kembali dari keterpurukan mereka. 

Keluarga yang hancur seringkali berdampak negatif pada anak-anak. Anak-anak cenderung lebih emosional karena memiliki pikiran negatif. Anak-anak stres yang rumahnya rusak cenderung kehilangan kinerja. Kondisi keluarga yang rusak menyebabkan kurangnya kasih sayang psikologis terhadap anak, sehingga mengakibatkan perkembangan moral dan psikososial anak terganggu. Akibat dari perceraian antara lain anak yang trauma dengan pernikahan, anak yang tidak mau belajar hal baru, dan anak yang sering menimbulkan keributan dan kebingungan serta membuat mereka kurang percaya diri. Beberapa dari anak-anak lain masih dalam tahap kesalahpahaman, dan banyak yang masih percaya bahwa anak-anak dari keluarga yang bercerai memiliki masa depan yang gelap.

Dari stigma yang masyarakat pandang kita harus bisa membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan perceraian orang tua. Perceraian orang tua tidak selamanya negatif, kita harus melihat dari sisi positifnya juga. Dari perceraian orang tua, kita harus termotivasi bagaimana kita tidak seperti mereka dan menjadi motivasi bagi kita untuk membuktikan kepada diri kita dan semua orang bahwa kita bisa sukses walaupun dari keluarga broken home. Jangan jadikan perpisahan orang tua membuat kita lupa dan patah semangat untuk mewujudkan cita-cita kita. Walau kita tumbuh dari keluarga broken home tapi mimpi kita masih terus hidup, dan kita yakin mimpi kita bisa dicapai.

Perceraian orangtua bukanlah akhir segalanya. Seharusnya, dari perceraian itu dijadikan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bahkan jika orang tua kita bercerai, kita harus tetap semangat dan berjuang untuk diri sendiri dan kehidupan masa depan kita.

Pentingnya dukungan sosial bagi anak broken home agar lebih termotivasi dalam menjalani kehidupan tanpa merasa terbebani atas keputusan yang telah dilakukan orang tua mereka. Dukungan sosial datang dalam bentuk nasehat, empati, kasih sayang, perhatian, dan kepedulian untuk membuat individu merasa nyaman, berarti, dan dicintai. Dari dukungan sosial teman-teman yang memiliki pengalaman yang sama, banyak yang mencari jati dirinya kembali, mencapai tahap aktualisasi diri dalam pemenuhan kebutuhan, hingga meraih prestasi. 

Kita adalah manusia yang istimewa. Kita adalah manusia yang sangat luar biasa.. Tuhan ingin membuktikan dari kita bahwa kita bisa hidup sukses, walaupun lahir dari keluarga yang cacat. Biarlah mereka hidup seperti itu, kita jalani saja hidup kita dan mewujudkan mimpi kita. 

Tetap semangat, terus berjuang dan jangan menyerah. Wujudkan mimpimu kembali. Hanya diri sendiri yang bisa melakukannya dan tidak ada orang selain diri sendiri yang bisa melakukannya. Dan yakinlah bahwa impian kita akan menjadi kenyataan. Jangan pandang orang lain memandang kita. meskipun berasal dari keluarga broken home, kita tetap bisa bekerja dan membantu orang-orang di sekitar kita. Membantu bahwa stigma negatif itu adalah salah.




POST TERKAIT

POST TEBARU