Faktor Penting Yang Berpengaruh Dalam Teori Pembelajaran Humanistik
Tanggal : 02 Nov 2023
Ditulis oleh : PUTRI OKTAVIANI
Disukai oleh : 0 Orang
Teori pembelajaran humanistik adalah pembelajaran yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dalam kata lain adalah memanusiakan manusia. Dalam setiap diri manusia tentunya mempunyai keinginan untuk dihargai, dihormati, dan dimanusiakan. Oleh karena itu, para pendidik atau guru harus bisa menempatkan diri sebagai guru dan begitupula murid juga harus bisa menempatkan diri sebagai murid. Sehingga terciptalah sikap saling menghormati antara guru dan murid, akan tetapi guru yang baik juga harus bisa bersahabat dengan muridnya. Apalagi zaman sekarang bukanlah zaman yang mana pembelajaran atau pendidikan dilakukan dengan berbasis penekanan seperti pembelajaran zaman dahulu.
Pembelajaran yang ada pada zaman dahulu menganggap bahwa kekerasan adalah cara terbaik bagi guru untuk mengatasi murid-muridnya yang kurang disiplin. Zaman sekarang pembelajaran seperti itu sudah tidak bisa diterapkan lagi. Hal ini disebabkan karena perkembangan zaman, yang mana pola pikir anak telah terkontaminasi dengan adanya teknologi yang ada pada saat ini. Sehingga salah satu cara agar guru bisa dihargai dan dihormati adalah dengan menjadikan dirinya sebagai sahabat bagi murid-muridnya.
Ketika guru sudah berhasil menjadi sahabat bagi muridnya, maka akan mudah bagi guru untuk menasehati, memotivasi dan mengarahkan murid-muridnya agar menjadi murid yang disiplin dan giat belajar sebagaimana tugas mereka sebagai murid. Bahkan dengan menjadi sahabat bagi muridnya, guru akan memahami setiap karakter muridnya yang beragam. Tugas guru sebagai sahabat adalah selalu memberi motivasi dan dukungan kepada murid-muridnya, mendengarkan keluh kesahnya, dan memahami karakteristiknya. Selain itu, guru juga harus memastikan bahwa materi yang ia ajarkan bisa dipahami oleh semua muridnya.
Jika ada murid yang belum faham, maka guru menjelaskan ulang agar materi tersebut benar-benar bisa dipahami oleh semua muridnya. Sehingga murid merasakan kenyamanan dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran humanisme, maka guru harus mengajarkan cara murid berinteraksi dengan lingkungan, teman dan manusia lainnya. Guru juga mengajarkan bahkan menerapkan sikap emansipasi murid terhadap orang lain, terutama pada temannya satu sama lain.
Hal yang perlu diingat sebagai guru ketika menjadikan dirinya sebagai sahabat bagi muridnya adalah guru harus bersikap adil dan tidak membeda-bedakan muridnya satu sama lain, kecuali anak tersebut memang membutuhkan perlakuan khusus. Hal yang tidak boleh dibeda-bedakan yaitu semisal, si A lebih diperhatikan karna ia lebih pintar daripada si B dan lain sebagainya. Jika ketidakadilan itu terjadi, maka murid akan timbul perasaan bahwa ia tidak dihargai sebagai murid bahkan hal ini juga bisa menimbulkan permusuhan antara murid satu dengan yang lainnya.
Oleh karena itu, guru harus bisa menerapkan praktek humanisme "manusiawi" bagi murid-muridnya satu sama lain. Walaupun praktek humanisme bagi murid dengan murid lainnya menjadi hal yang sulit diterapkan bagi murid zaman sekarang. Sikap ingin memperlihatkan kekuatannya sering muncul pada diri mereka. Sehingga mereka melakukan segala cara agar semua orang mengakui kekuatannya. Dengan pola pemikiran mereka yang masih labil tentunya hal ini tidak baik jika dibiarkan.
Kasus bullying yang sering terjadi saat ini mungkin memang bukan timbul karena sikap guru yang tidak adil dalam memposisikan diri sebagai sahabat bagi muridnya. Akan tetapi kasus ini terjadi karena kurangnya rasa humanisme yang dimiliki seorang murid dan beberapa faktor lainnya. Banyak sekali faktor penyebab murid kekurangan sifat humanisme, bahkan faktor keluarga pun juga bisa menjadi penyebab kasus ini terjadi. Sebab, peran keluarga merupakan faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap sikap anak.
Keluarga yang menanyai anaknya ketika sepulang sekolah, "Bagaimana sekolahnya hari ini?" berbeda dengan keluarga yang menanyai "Bagaimana bisa jam segini baru pulang?". Hal ini tentu berpengaruh bagi mindset anak, mereka yang ditanya baik-baik tentu mereka akan merasa bahwa dirinya dihargai. Akan tetapi berbeda dengan mindset anak yang ditanya dengan kasar, mereka tentu merasa tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Selain itu, faktor yang menimbulkan kasus bullying juga bisa disebabkan oleh teman ataupun lingkungan pergaulannya. Ketika anak merasa bosan dirumah karena merasa bahwa dirinya tidak dihargai sebagai anak dan merasa tertekan dengan sikap orangtua, maka mereka lebih memilih untuk berkumpul dengan teman sebayanya. Yang tentunya dalam perkumpulan itu satu sama lain mempunyai perasaan yang sama. Perasaan yang sama itu adalah mereka yang bosan dengan kehidupan yang ada didalam keluarganya atau rumahnya.
Teman sebaya menjadi faktor penting yang berpengaruh bagi perilaku anak. Hal ini dikarenakan anak yang sudah ikut dalam suatu perkumpulan teman sebaya, mereka akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan dalam perkumpulannya. Contoh kecil yaitu dalam perkumpulan tersebut adalah perkumpulan yang tidak sholat, maka anak yang biasanya sholat akan mengikuti teman sebayanya yang tidak sholat. Itulah peran teman sebaya.
Ketika mereka tau hal itu buruk tetapi tetap ia lakukan karna teman sebayanya melakukan. Bahkan mungkin jika salah satu diantaranya mengerjakan sholat maka ia akan dibully. Hal ini bisa merambat ketika teman sebayanya melakukan kekerasan ataupun bullying, maka ia juga ingin melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan temannya. Tanpa memikirkan perasaan korban.
Faktor selanjutnya yang dapat menimbulkan kasus bullying juga bisa disebabkan oleh adanya sosial media yang berkembang pada saat ini. Media sosial yang bisa menampilkan segala sesuatu, bisa menjadi contoh bagi anak-anak. Mereka penasaran dengan hal-hal yang dilihatnya dalam media sosial. Bahkan mungkin ketika mereka melihat tindak kekerasan pada teman di sosial media, maka ia penasaran dan ingin melakukannya kepada temannya.
Dalam praktek humanisme, tentu bullying menjadi salah satu kendala dalam teori humanisme. Ketika praktek humanisme tidak diterapkan dalam kehidupan dirumah, disekolah, dimasyarakat, dan di lingkungan pertemanan maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan termasuk bullying. Kesadaran bahwa manusia butuh dihargai, dihormati, dan dimanusiakan harus tertanam pada diri setiap manusia. Agar tercipta praktek humanisme antara manusia satu dengan yang lain.
Kesadaran itu harus diciptakan sejak dini, pola pemikiran anak yang masih labil sangat membutuhkan motivasi dan pengawasan yang baik dari orangtua maupun dari sekolah. Memotivasi anak sebelum adanya pembelajaran adalah hal yang bisa dilakukan guru, agar anak merasa adanya dukungan untuk bersikap humanisme. Setelah memotivasi anak, hal yang tidak boleh dilupakan adalah mengawasi anak dalam bersikap.
Dalam hal memotivasi dan mengawasi sikap humanisme anak, maka diperlukan adanya kerjasama antara guru dan orangtua. Guru melakukan pengawasan terhadap anak-anak saat berada disekolah dan mengajarkan sikap humanisme disekolah. Begitu pula orangtua melakukan pengawasan terhadap anak-anak saat berada dirumah, penggunaan sosial media dan tentunya saat anak bergabung dalam perkumpulan teman sebayanya. Oleh karena itu, pengawasan dan motivasi anak dari orangtua dan guru harus seimbang. Ketika pengawasan itu tidak seimbang, maka anak bisa saja bersikap humanisme disekolah tapi tidak bersikap humanisme ketika berada dirumah ataupun sebaliknya.