Kesehatan Mental Siswa Sekolah Selama Pandemi
Tanggal : 10 Apr 2021
Ditulis oleh : MASITA ZUMNA MAULIDA
Disukai oleh : 1 Orang
Selama masa pandemi ini, siswa dari tingkat SD sampai SMA melakukan pembelajaran dari rumah atau bisa juga dikatakan sebagai sekolah online. Pembelajaran online merupakan istilah dari pembelajaran melalui elektronik (e-learning) yang diperkenalkan pertama kali oleh Universitas Illionis melalui metode penggunaan komputer. Nama lain dari pembelajaran online yaitu pembelajaran jarak jauh, online learning, e-learning, pembelajaran elektronik, virtual learning, virtual classroom atau web based learning.
Definisi dari pembelajaran online sendiri yaitu alat perangkat keras (infrastruktur) berbentuk sebuah komputer yang telah berkaitan satu dengan yang lain dan memiliki manfaat dalam mengirim data, baik berbentuk teks, pesan, grafis, ataupun bunyi. Ini berarti pembelajaran online bisa disebut juga dengan pembelajaran melalui internet komputer yang saling terhubung dengan internet komputer yang lain bahkan bisa menjangkau penjuru dunia.
Pembelajaran online dilakukan karena siswa tidak bisa ke sekolah akibat adanya COVID-19, corona virus ditemukan terhadap manusia dimulai dari peristiwa mencengangkan yang terjadi di Wuhan, China pada Desember 2019. Penelitian juga memperlihatkan bahwa homologi antara COVID-19 mempunyai karakteristik DNA virus yang sama dengan kelelawar-SARS yang mempunyai kemiripan lebih dari 85%. COVID-19 bisa dilihat di dalam sel epitel pernapasan manusia sesudah 96 jam. Selain itu, agar mengurung dan mengkultur vero E6 dan Huh-7 garis sel membutuhkan waktu berkisar 6 hari. Untuk menghindari penularan COVID, maka dilakukanlah pembelajaran online atau jarak jauh.
Meskipun terlihat tidak melelahkan karena hanya belajar di rumah, namun banyak anak-anak yang mengeluh karena pembelajaran online. Alasannya bermacam-macam, yang pertama karena banyaknya tugas yang diberikan oleh guru, sehingga membuat para siswa mengeluh karena terlalu banyak tugas tanpa materi yang diajarkan.
Alasan yang kedua terlalu banyak membutuhkan kuota internet, meskipun sekarang banyak kuota gratis yang diberikan, namun tetap saja tidak cukup untuk memenuhi pembelajaran online. Hal itu dikarenakan selama pandemi ini pemberian materi dilakukan melalui aplikasi zoom meeting, google meet, youtube dan aplikasi lainnya yang membutuhkan kuota yang cukup besar. Selain itu, tidak semua siswa mempunyai Handphone yang bisa digunakan untuk pembelajaran, apalagi masih banyak siswa di daerah yang belum terjangkau sinyal 4G.
Keluhan pembelajaran online selama pandemi tidak hanya dari siswa, namun dari para orang tua murid juga menyampaikan keluhan. Salah satunya seperti pengeluaran biaya yang semakin besar, karena selain membayar biaya sekolah bulanan, orang tua siswa juga harus memberikan biaya untuk pembelian kuota belajar online. Sedangkan, pemasukan di saat pandemi sedang menipis.
Hal ini bisa menyebabkan psikologis anak terganggu dan berpotensi memunculkan stres pada anak, bila tidak diatasi dengan pendampingan orang tua di rumah. Pengertian psikologi pendidikan adalah suatu pengetahuan psikologi tentang anak didik dalam situasi pendidikan. Psikologi anak terganggu dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru, tetapi tanpa pembelajaran atau materi sebelumnya, sehingga membuat siswa bingung dan pada akhirnya tugas-tugas tersebut dikerjakan oleh orang tua mereka.
Dampak dari proses belajar mengajar secara online mengakibatkan para siswa mengalami ketergantungan pada bantuan orang lain, ketergantungan dengan gadget, kurang mandiri dalam penyelesaian tugas, dan cenderung menjadikan siswa menjadi anak yang kurang percaya terhadap kemampuannya sendiri. Pada saat pembelajaran kembali dilakukan di sekolah, siswa akan kesulitan dalam mengikuti pengajaran nanti.
Selain itu selama pembelajaran online, anak hanya di rumah saja tanpa berinteraksi dengan teman atau gurunya. Hal ini juga bisa menyebabkan stres pada anak, karena pada umur mereka merupakan usia yang harus berkomunikasi atau bermain dengan teman-teman sebayanya. Sedangkan, selama pandemi ini mereka hanya bermain gadget. Padahal, ini bisa menyebabkan sang anak memiliki penurunan kepercayaan diri dan menyebabkan stres. Tidak ada salahnya membiarkan anak bermain bersama teman-teman sebaya mereka, namun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan mencuci tangan sebelum dan sesudah bermain.
Agar para anak tidak mengalami gangguan psikologis seperti stres, para orang tua harus membantu siswa, contohnya dengan membiarkan mereka mengerjakan tugas sekolah sendiri dan jika ingin membantu, ajarkan saja dan bimbing mereka dalam pengerjaan tugasnya. Guru juga harus aktif dalam pembelajaran online, jangan hanya memberikan tugas tanpa bimbingan atau pemberian materi. Sebelum memberikan tugas pada siswa, ada baiknya juga memberikan materi sesuai tugas yang diberikan, agar anak tidak kebingungan dan bisa mengerjakan dengan baik tanpa bantuan orang tua mereka.
Selain itu, para guru juga harus membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam mempunyai handphone atau kuota internet. Bisa dengan membelikan kuota internet dan handphone atau mendatangi rumah mereka dan mengajarkan materi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Selanjutnya, berikan juga waktu untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan, misalnya bermain, baca buku yang disukai, main game atau olahraga.
Disarankan bagi para orang tua untuk jangan terlalu menekan anak dalam mencapai target atau nilai yang diperoleh, tetap tenang dalam mendampingi siswa belajar di rumah dan guru juga harus membimbing pembelajaran online agar psikologis anak tidak terganggu.
Koran Mata Banua
https://matabanua.co.id/2021/04/09/e-paper-harian-pagi-mata-banua-kamis-8-april-2021-2/