Konsep Dasar Teori Humanistik dalam Pembelajaran

Tanggal : 20 Dec 2023

Ditulis oleh : FADYA ULFA

Disukai oleh : 0 Orang

            Teori humanistik adalah teori yang memandang manusia dari dimensi tempat dia tinggal, karena lingkungan juga akan mempengaruhinya secara manusiawi, di mana manusia memiliki kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya. Secara garis besar teori humanistik merupakan teori yang mengusung konsep memanusiakan manusia agar manusia dapat memahami dirinya dan lingkungannya. Teori humanisme berasal dari psikologi, dan sangat mirip dengan teori kepribadian. Sehingga dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka teori tersebut diterapkan pada bidang pendidikan khususnya pada bidang pembelajaran formal dan nonformal, serta diharapkan dapat mengatasi permasalahan di bidang pendidikan. Teori ini berasal dari psikologi dan sangat mirip dengan teori kepribadian, sehingga dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi teori ini diterapkan pada bidang pendidikan khususnya pada pembelajaran formal dan nonformal. Teori ini memberikan inspirasi terhadap bidang pendidikan, setiap pendidikan harusnya berparadigma humanistik yaitu harus berpegang pada praktek pendidikan yang memperlakukan manusia secara utuh, dan pandangan dasar ini diharapkan dapat mewarnai segenap komponen sistematik pendidikan dan tidak peduli di mana pun bentuk pendidikan dilakukan.

            Dalam teori humanisme, tujuan belajar adalah ketika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri, mereka menganggap proses pembelajaran berhasil. Siswa dalam proses pembelajaran harus berusaha mencapai realisasi diri semaksimal mungkin. Teori belajar ini mencoba untuk memahami perilaku belajar dari perspektif aktor daripada perspektif pengamat. Penerapan teori pembelajaran humanistik menekankan pentingnya mengkompromikan isi proses pembelajaran, dengan tujuan memanusiakan atau mencapai realisasi diri. Penerapan teori humanisme dalam pembelajaran guru membimbing siswa untuk berpikir secara induktif, mengedepankan pengalaman dan menuntut siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, materi diskusi kelompok, sehingga siswa dapat mengungkapkan pendapatnya di kelas. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan jika kurang memahami materi yang diajarkan. Pembelajaran berbasis teori  humanistik cocok untuk materi pembelajaran pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis fenomena sosial. Indikator keberhasilan penerapan adalah siswa bersemnangat, belajar aktif, dan pemikiran, perilaku, dan sikapnya dengan sendirinya akan berubah. Teori humanisme mengedepankan sisi humanistik, tidak membutuhkan waktu tertentu bagi peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang dibutuhkan, tetapi lebih menekankan pada isi atau materi yang harus dipelajari untuk membentuk pribadi yang utuh. Setiap peserta didik memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda, sehingga selama peserta didik dapat memahami dirinya dan lingkungannya, maka keberhasilan belajarnya dapat tercapai. Ini karena setiap orang adalah unik, dan tugas pendidik adalah membantu mengidentifikasi aspek unik ini dan menyadari potensi siswa.

            Teori humanistik dalam pendidikan memiliki makna dalam lingkup pendidikan. Oleh karena itu, perlu adanya konsensus tentang istilah "humanisme" dalam pendidikan. Dalam artikel "Apa itu Pendidikan Humanistik?" Krischenbaum menunjukkan bahwa sekolah, kelas atau guru dapat dikatakan humanistik dalam beberapa hal. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa jenis metode pendidikan humanistik, ide-ide metode ini dikemas dalam psikologi humanistik. Siswa akan belajar dengan materi yang telah ditentukan dengan kecepatannya sendiri untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, dan siswa bebas menentukan metode pembelajarannya dalam mencapai tujuannya. Pendidikan aliran humanistik memiliki arti nyata dalam perkembangan perbedaan individu pada anak dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan pribadi siswa. Penekanan pada pengembangan pribadi dan hubungan antar manusia adalah untuk memperbaiki kondisi baru yang dihadapi siswa dalam masyarakat dan bahkan dalam keluarga. Teori humanistik menekankan belas kasih dalam belajar, tetapi tanpa kognisi, tidak ada emosi, dan tanpa emosi, tidak ada kognisi. Menggabungkan unsur-unsur dan perasaan kadang-kadang disebut sebagai "ajaran tingkat ketiga". Pengajaran tingkat pertama adalah fakta, tingkat kedua adalah konsep, dan tingkat ketiga adalah nilai. Hubungan antara fakta, konsep dan nilai dapat dijelaskan dengan sebuah piramida. Alas piramida yang lebar menggambarkan fakta; konsep mewakili wawasan dan pengumuman yang diturunkan dari fakta, dan puncak piramida mewakili nilai. Puncak ini menggambarkan keputusan yang dibuat dalam hidup, yaitu setiap keputusan harus didasarkan pada fakta, dan konsep pengajaran yang bermakna harus mencakup tiga tingkatan. Diskusi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam konsep harus maksimal. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman belajar di kelas. Guru dan siswa hendaknya menguji dan mengeksplorasi nilai potensial satu materi pelajaran.

            Ketika tujuan keseluruhan yang disebutkan di atas tercapai, pembelajaran akan dilakukan pada tingkat pribadi atau interpersonal. Penerapan teori humanisme lebih mengacu pada satu atau lebih semangat mewarisi metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Satu jenis Humanisme dari Perspektif Barat yaitu Arthur W. Combs (1912-1999) menaruh perhatian besar pada pendidikan. Makna merupakan konsep dasar yang sering digunakan. Ketika pembelajaran bermakna bagi individu, pembelajaran terjadi. Guru tidak boleh memaksakan materi yang tidak populer atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak-anak tidak dapat mengerjakan matematika atau sejarah, bukan karena mereka bodoh tetapi karena mereka merasa bahwa tidak ada alasan yang sangat penting untuk mempelajarinya. Perilaku buruk sebenarnya tidak lebih dari ketidakberdayaan dan ketidakmampuan seseorang untuk memuaskannya. Maka dari itu, guru harus memahami perilaku siswa dengan berusaha memahami dunia yang dipersepsikan siswa, sehingga ketika ingin mengubah perilakunya, guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pendapat siswa yang ada. Perilaku internal membedakan satu orang dengan yang lain. Combs percaya bahwa banyak guru yang secara keliru percaya bahwa jika struktur topik benar dan isinya benar, siswa akan mau untuk belajar bahkan jika maknanya tidak diintegrasikan ke dalam tema.

            Oleh karena itu yang terpenting adalah bagaimana agar siswa mendapatkan makna dari tema tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupan. Pada saat yang sama, ahli teori kepribadian realistis Abraham Maslow (1908-1970) dianggap sebagai bapak spiritual, ahli teori dan juru bicara psikologi humanistik yang paling kuat. Secara khusus, penegasan berkelanjutan Maslow tentang keunikan dan realisasi diri manusia telah menjadi simbol orientasi humanistik. Teori pendidikan humanistik Maslow sebenarnya membutuhkan bentuk pendidikan baru. Pendidikan diyakini akan lebih memperhatikan pengembangan potensi diri terutama menjadi potensi manusia untuk memahami diri sendiri dan orang lain serta mewujudkan kebutuhan dasar manusia. Pendidikan ini berkembang ke arah realisasi diri. Teori Maslow didasarkan pada hipotesis yaitu pengembangan aktif dan resistensi atau perlawanan terhadap kekuatan perkembangan ini. Maslow menyarankan bahwa individu harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan stratifikasi. Setiap orang memiliki segala macam ketakutan, seperti takut mencoba atau berkembang, takut merebut peluang, takut akan hal-hal yang sudah dimilikinya, dan sebagainya. Namun di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk bergerak menuju keutuhan, keunikan diri, bekerjanya segala kemampuan, dan rasa percaya diri menghadapi dunia luar, maka ia dapat menerima dirinya sendiri. Sejauh ini, teori Maslow merupakan hierarki kebutuhan yang terkenal (hierarki kebutuhan). Menurut Maslow, manusia dimotivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar atau fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

            Maka dapat disimpulkan bahwa teori humanistik ini merupakan teori belajar yang lebih mengutamakan proses pembelajaran daripada hasil belajar. Teori tersebut mengusung konsep memanusiakan manusia agar manusia dapat memahami dirinya dan lingkungannya. Belajar merupakan salah satu kegiatan mental yang dilakukan oleh manusia, sehingga cara berpikir dan perilaku yang disebabkan oleh pembelajaran berubah. Teori humanistik juga memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia. Dalam teori ini guru hanyalah sebagai fasilitator siswa dalam proses pembelajaran. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya, maka dengan adanya tujuan dapat meningkatkan prestasi belajar yang dapat dikatakan berhasil dalam diri peserta didik.




POST TERKAIT

POST TEBARU